Biografi KH. Yasin Jekulo

 
Biografi KH. Yasin Jekulo

Daftar Isi Profil KH. Yasin Jekulo

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pondok Pesantren
  6. Dilanjutkan Oleh Putranya
  7. Murid-Murid
  8. Ijazah Dalail al-Khairat
  9. Teladan
  10. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Soekandar  atau  yang kerap dipanggil dengan sapaan KH. Yasin dilahirkan sekitar tahun 1890-an di desa Cebolek kecamatan Margoyoso kabupaten Pati. Beliau merupakan anak yang ke-7 dari 9 bersaudara. Ayah beliau bernama H. Amin (Nama aslinya Tasmin) dengan Nyai Salamah.

Sejak kecil KH. Yasin telah menjadi Yatim, karena ketika ayahnya pergi haji ke tanah suci, sang ayah meninggal di sana dan kemudian dimakamkan di Baqi`.

Sepeninggal ayahnya, KH. Yasin kecil kemudian diangkat anak oleh Mbah Salam yang merupakan ayah dari Mbah Abdullah Salam atau kakek dari pada KH. Sahal Mahfudh Kajen Pati.

Wafat

KH. Yasin wafat pada hari Rabu Pon taggal 30 Desember 1953 M / Robiul Akhir 1373 H. Beliau dimakamkan disamping masjid jami` Kauman. Beliau wafat setelah sekitar 35 tahun mengasuh para santrinya. Makam beliau banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah.

Keluarga

KH.Yasin melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis bernama Muthi`ah binti KH. Yasir Jekulo yang merupakan salah satu ulama di desa Jekulo pada waktu itu.

Pendidikan

Semasa kecil, KH.Yasin sangat rajin dalam mempelajari ilmu agama baik mengaji di lingkungan desanya maupun di tempat lain. Ketika mondok, Yasin kecil dikenal sebagai santri yang cerdas, lincah dan dapat mengikuti semua pelajaran dengan baik.

Bahkan ketika belajar di tempat KH. Idris Jamsaren solo, KH. Yasin yang masih berusia 25 tahun diperbolehkan mengikuti pengajian Hikam, padahal pada waktu itu yang diperbolehkan bagi santri-santri yang mengaji Hikam adalah santri yang berumur 40 tahun.

Disamping belajar dengan KH. Idris, tercatat bahwa Kiai Yasin juga pernah belajar dari beberapa Ulama lainnya, diantaranya, adalah KH. Kholil Bangkalan Madura, KH. Abdussalam bin Abdillah Kajen Pati, KH. Sanusi bin Ya`qub Jekulo, KH. Nawawi Sidogiri, KH. Kholil Harun Kasingan Rembang, Mbah Amir Pekalongan dan masih banyak lagi.

Setelah lama belajar di tanah air, beliau melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Mekah untuk memperdalam ilmu agama.

Di kota suci ini KH. Yasin belajar kepada ulama-ulama besar Mekkah. Setelah sekian lama belajar ilmu pengetahuan di tanah suci, akhirnya KH. Yasin kembali ke Cebolek Pati dan kemudian pindah ke desa Jekulo kabupaten Kudus.

Mendirikan Pondok Pesantren

Dengan kapasitas keilmuwan agamanya yang luas, kemudian KH. Yasin mendirikan pondok pesantren sebagai tempat untuk mengkaji ilmu agama.

Pembangunan ini dilakukan sekitar tahun 1918 M yang dilatar belakangi dengan adanya anak-anak yang ingin mengaji kitab suci al-Qur`an di rumah beliau. Semula hanya tiga orang santri yang mengaji di rumah beliau, salah satunya adalah H. Abdul Hamid dari Klaling Jekulo Kudus. Semakin hari ternyata semakin banyak santri yang datang ingin mengaji.

Melihat kenyataan tersebut Mbah KH. Sanusi (Guru Sufi beliau) memberikan saran agar KH.Yasin membuatkan tempat khusus untuk mengaji, karena akan lebih baik apabila memiliki tempat tersendiri. Kemudian dengan senang hati beliau menerima saran tersebut. Pada saat itu beliau belum begitu banyak santri yang belajar di sana sehingga secara resmi belum belum dapat dianggap sebagai pesantren.

Baru kemudian pada tahun 1923 M banyak santri yang berdatangan dari luar daerah untuk mengaji, sehingga pada tahun itulah secara resmi pesantren KH.Yasin berdiri.

Pada masa KH.Yasin, pesantren tersebut tidak atau belum diberi nama. Namun banyak santri yang menyebutnya dengan sebutan, “Pondok Mbareng”. Sebenarnya, Mbareng adalah nama sebuah dukuh di desa Hadipolo tempat dimana stasiun pemberhentian kereta pada saat itu berada.

Santri menganggap bahwa lokasi pesantren berada dalam wilayah desa tersebut. Dari anggapan itulah akhirnya pesantren KH. Yasin dikenal dengan sebutan Pondok Bareng. Di pesantren ini dikaji berbagai macam ilmu bersumber dari kitab-kitab salaf.

Pada tahun 1918 – 1953 para santri disamping mengkaji kitab-kitab salaf juga banyak yang melakukan riyadloh, sehingga Pondok Mbareng juga dikenal sebagai Pondok Riyadloh.

Menurut keterangan dari para santrinya seperti KH. Ahmad Basyir dan Alm KH. Hanafi (yang pada waktu naskah ini ditulis beliau masih hidup) pada masa mondok di pesantren dibatasi untuk tidak makan yang enak-enak atau dengan kata lain para santri diharapkan hidup prihatin selama menuntut ilmu.

KH. Yasin dikenal sebagai sosok yang lurus dan banyak bergelut di pesantren. KH. Yasin adalah tipe kiai pesantren, dimana sebagian besar waktunya beliau curahkan utuk mendidik para santri.

Dilanjutkan Oleh Putranya

Setelah ditinggal beliau, Pondok Bareng diteruskan oleh putranya yaitu KH. Muhammad bin Yasin. Setelah sekian lama Pondok Bareng tanpa nama, akhirnya KH. Muhammad mempunyai insiatif untuk memberi nama agar pesantren ini mudah dikenal oleh para santri.

Tepatnya pada tahun 1979 M/1399 H pesantren ini diberi nama Al Qoumaniyyah. Nama ini diambil dari dukuh Kauman dimana pondok ini berdiri, yang merupakan salah satu dukuh di desa Jekulo.

Murid-Murid

Berkat dari KH.Yasin, pesantren ini telah mencetak ulama-ulama ternama, diantaranya KH. Muhammadun (Pondohan Pati), KH. Hambali (Kudus), Habib Muhsin (Pemalang), KH. Ma`mun (Kudus), KH. Hanafi (Jekulo Kudus), KH. A Basyir (Jekulo Kudus), KH. Shaleh (Sayung Demak), Habib Ali bin Syihab (Mayong Jepara), Habib Muhammad Al Kaf (Imam Masjid Agung Magelang) dan masih banyak ulama lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Ijazah Dalail al-Khairat

Satu hal yang bisa dilihat dari pengaruh KH.Yasin yang sampai sekarang masih banyak diamalkan orang adalah ijazah Dalail al-Khairat. Ijazah ini seringkali diamalkan oleh para santri sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan ungkapan prihatin dalam masa menuntut ilmu.

Teladan

Seluruh kehidupan KH.Yasin beliau curahkan untuk kepentingan agama Islam. KH.Yasin merupakan sosok yang sederhana, arif, dan sikapnya egiliter (Menganggap sama terhadap semua orang) sehingga beliau merupakan sosok yang disegani di masyarakat.

Karya-Karya

Dalam kiprah KH. Yasin telah menulis beberapa kitab, tapi hanya sedikit yang ditemukan karya tulisnya. Beliau telah menulis syarah Asmaul Husna dan tulisan-tulisan Khutbah Hari Raya dalam bahasa Arab.