Biografi KH. Muchlis Musyaffa’

 
Biografi KH. Muchlis Musyaffa’

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Organisasi, Karier, dan Karya
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
4.3       Karya Beliau

5          Strategi Dakwah KH. Muchlis Musyafa'

6          Chart Geneology
6.1       Chart Geneology Guru Beliau

7         Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Muchlis Musyaffa’ adalah ulama yang dikenal oleh masyarakat dan santrinya sebagai seorang yang kharismatik dan menjadi teladan. Karena kepribadiannya inilah membuat masyarakat menaruh rasa hormat dan segan kepada beliau. Beliau menjadi sosok yang berpengaruh, baik di lingkungan pondok maupun di masyarakat. Berikut ini adalah latar belakang keluarga KH. Muchlis supaya kita mengenal lebih dekat sosok beliau. KH. Muchlis Musyaffa’ lahir pada tanggal 9 Juni 1959 di Dukuh Kampir Desa Sudipayung Kecamatan Ngampel Kabupaten Kendal. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Musyaffa’ dan Ibu H. Richaniyah. Beliau adalah anak ketiga dari 5 bersaudara, yakni:

  1. Adib
  2. Fadhilah
  3. Muchlis
  4. Maryam
  5. Bariroh

1.2  Riwayat Keluarga
Sepulang dari pengengembaraan keilmuan beliau menikah dengan Nyai Hj. Syafiah dari Sabetan, Kaliwungu pada 1983. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 orang anak, yakni Ulil Wafi, Rifki Maula, Sarikhul Huda, Wardah Fajar, dan M. Abdul Wahab. Pada 1994 Nyai Hj. Syafiah meninggal dunia. Kemudian pada akhir 1995 beliau menikah untuk kedua kalinya dengan Nyai Hj. Umi Barokah dari Kebumen. Dari pernikahan kedua ini dikaruniai dua anak laki-laki, yakni Azhar Faiq dan Arif Hasan.

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1   Mengembara Menuntut Ilmu
Pendidikan dasar keagamaan beliau peroleh dari orang tua, baik secara langsung di bawah bimbingan orang tua berupa pemahaman akan baca tulis Alquran, fiqh, tauhid, tarikh atau secara tidak langsung berupa teladan tingkah laku kedua orang tua. Menurut penuturan murid-murid beliau, orang tua KH. Muhlis Musyaffa’ adalah pribadi yang istiqomah, ahli tirakat, dan tawadu’. Pernah suatu ketika saat kedua orang tua beliau, Kyai Musyaffa’ dan Nyai Hj. Richaniyah berpapasan di jalan sampai-sampai tidak menyadari satu sama lain karena menundukkan pandangan selama perjalanan.

Pendidikan formal KH. Muchlis Musyaffa’ dimulai dari MI NU 10 Sudipayung lulus tahun 1970. Beliau kemudian memulai pengembaraan keilmuannya dari pesantren ke pesantren lainnya di antaranya:

1. Menimba ilmu di pondok pesantren asuhan KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal, paginya sekolah di PGA Kendal. KH. Ahmad Abdul Hamid adalah seorang ulama besar yang sangat produktif dengan 26 karya tulisnya, kebanyakan berupa kitab ringkas beraksara pegon berbahasa Jawa.

2. Setelah lulus dari PGA pada 1973 beliau memilih nyantri di pondok pesantren asuhan KH. Bisri Musthofa Rembang sebagai pengembaraan keilmuan selanjutnya. Pesantren yang kemudian diberi nama Raudlatut Thalibin yang sekarang dipimpin oleh KH. Musthofa Bisri, salah seorang putra KH. Bisri Musthofa.

3. Tak sampai setahun, atas permintaan dan rekomendasi orang tua pada 1974 beliau kemudian menempuh belajar di pondok pesantren salaf Tegalrejo Magelang asuhan KH. Chudlori. Di pesantren inilah tempat belajar terlama beliau, terhitung semenjak 1974 sampai 1977 beliau belajar agama di bawah bimbingan KH. Chudlori dilanjutkan oleh putranya KH. Abdurrahman Chudlori pada 1978. Di pesantren ini beliau langsung masuk kelas Alfiiyah Ibnu Malik karena sudah memiliki bekal nyantri sebelumnya.

4. Setelah Tegalrejo, beliau melanjutkan nyantri di pondok pesantren An-nidzom Sukabumi asuhan KH. Abdullah Mukhtar pada 1979 sampai awal 1981. KH. Abdullah Mukhtar adalah sosok ulama yang juga sangat berpengaruh besar pada pribadi KH. Muchlis Musyaffa’. KH. Abdullah Muchtar dikenal sebagai sosok ‘alim ‘allamah yang luar biasa kuatnya dalam mengaji dan juga wira’i. Konon selama hidup beliau belum pernah melihat perempuan bukan mahrom. Ketika bertemu tamu perempuan beliau membatasi diri dan pandangan dengan satir. KH. Abdullah Mukhar juga sama sekali belum pernan menonton televisi, hanya satu kali saja saat pelantikan Gus Dur menjadi presiden. Setelah Sukabumi, KH. Muchlis Musyaffa’ belajar di LPBA Jakarta dan mengabdi mengajar di Habib Abdurrahman bin Syech al-Attas dan sesekali masih mengunjungi pondok pesantren An-Nidzom.

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau saat menuntut ilmu, di antaranya:
1. KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal
2. KH. Bisri Musthofa Rembang
3. KH. Chudlori
4. KH. Abdurrahman Chudlori
5. Habib Abdurrahman bin Syech al-Attas
6. KH. Abdullah Mukhar

2.3  Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Menurut penuturan KH. Muchlis Musyaffa’, pondok pesantren ini mulanya berdiri tanpa kesengajaan. Sepulang dari Jakarta kecenderungan beliau adalah berdagang, sehari-hari beliau berdagang tembakau, juga ikut membantu mengajar di pondok pesantren asuhan ayahnya. Namun takdir berkehendak lain yang akhirnya mengharuskan beliau menerima santri-santri yang berdatangan di kemudian hari.

Salah seorang ulama yang paling dekat dan beliau hormati adalah Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas Lebo, Gringsing. Ulama yang sangat sering beliau sowani. Setiap kali sowan KH. Muchlis Musyaffa’ selalu ditanya tentang kesibukan sehari-hari di rumah. KH. Muchlis Musyaffa’ menjawab selain ngaji kegiatan utama beliau adalah berdagang tembakau. Mendengar jawaban tersebut, Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas meminta agar KH. Muchlis Musyaffa’ fokus ngaji. Setiap kali KH. Muchlis Musyaffa’ sowan kepada Habib Abdullah bin Muhammad al-Attas selalu ditanya hal serupa hingga pada akhirnya suatu hari ada orang tua yang ingin memondokkan anaknya untuk ngaji kepada beliau namun ditolak dengan alasan tidak ada tempat tinggal untuk santri.

Orang tua santri itu bersikukuh memondokkan anaknya kepada beliau. Karena terus didesak akhirnya beliau meminta waktu beberapa hari untuk bermusyawarah dan meminta masukan anggota keluarga, saudara yang beliau tuakan, dan guru beliau, antara lain ibunda beliau Nyai Hj. Richaniyah, Kiai Muharor Penjalin, Kiai Zuhri Gubugsari, Kiai Mahbub Nduren, Habib Abdullah Lebo, Gringsing. Jawaban mereka serupa, yakni agar beliau menerima santri tersebut. Sehingga akhirnya ndalem (tempat tinggal kiai) diberi sekat sebagai tempat tinggal santri. Santri pertama beliau ada 4, yakni Dasir, Dullah, Salman, dan Saian. Pada akhir tahun santri bertambah menjadi 13 orang.

Di tahun kedua santri bertambah menjadi 19 orang. Pada tahun ketiga jumlah santri semakin banyak hingga membuat ndalem tidak muat menampung para santri. Ndalem pun kemudian beliau bangun menjadi dua lantai, lantai bawah bagian depan sebagai kegiatan dan pembelajaran para santri, lantai atas sebagai asrama tempat tinggal para santri. Di tahun inilah nama Al-Musyaffa’ ditetapkan menjadi nama pondok pesantren. Nama yang diambil dari nama ayahanda beliau sebagai bentuk penghormatan.

Pondok pesantren Al-Musyaffa’ mengalamai perkembangan yang sangat pesat. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia. Tercatat pada tahun 2000 santri pondok pesantren ini berjumlah 196 yang terdiri 79 santri putra dan 90 santri putri. Pada tahun 2005, 368 santri (178 santri putra dan 190 santri putri), tahun 2010, 835 santri (410 santri putra dan 425 santri putri), tahun 2015, 1.455 santri (710 santri putra dan 745 santri putri), dan tahun 2020 sampai sekarang total ada 2.018 santri (1.014 santri putra dan 1.004 santri putri).
Setelah kembali ke pesantrennya, beliau mengajar

3  Penerus Beliau            

3.1  Murid-murid Beliau
Ulama-ulama yang menjadi murid beliau di antaranya:
Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Al-Musyaffa’

4  Karier      

4.1  Riwayat Organisasi
Wakil Syuriah PC NU Kabupaten Kendal.

4.2  Karier Beliau
Karier sesuai dengan keilmuan beliau, posisi karier yang diduduki di antaranya:
1. Pengasuh pesantren Al-Musyaffa’
2. Da'i

4.3  Karya Beliau
Sejauh ini, beliau baru membuat satu buah karya yakni kitab Hikayat Salafi. Sebuah Kitab yang berisi cerita salafus sholihin.

5  Strategi Dakwah KH. Muchlis Musyaffa’

Strategi dakwah KH. Muchlis Musyaffa’ dalam membentuk akhlak santri di pondok pesantren Al-Musyaffa’ yaitu:
1. Keteladanan
Sebagai pengasuh, Kh. Muchlis Musyaffa’ merupakan tokoh sentral di pondok pesantren. Semua petuah-petuah beliau selalu dilakukan oleh santri-santri dengan penuh ikhlas. Ini merupakan salah satu strategi dari KH. Muchlis Musyaffa’ dalam membentuk akhlak santri. Dimana beliau turun langsung untuk berinteraksi dengan santri. Strategi ini cukup efektif dilakukan karena santri meniru langsung apa yang dicontohkan oleh KH. Muchlis
Musyaffa’. Sikap yang dicontohkan oleh beliau diantaranya adalah dalam beribadah, hubungan sosial dengan santri dan masyarakat. Di samping itu beliau juga senantiasa memotivasi santri-santrinya agar senantiasa berakhlak yang baik.

2. Pembiasaan
Melalui strategi ini, santri dibiasakan untuk melakukan sesuatu secara continu, sehingga tanpa disadari kebiasaan itu akan tertanam pada diri mereka
masing-masing. Pembiasaan yang dilakukan di pondok pesantren Al-Musyaffa’ salah satunya adalah dengan pembiasaan dalam bertutur kata. Strategi yang dilakukan KH. Muchlis Musyaffa’ melalui pembiasaan ini adalah agar santri dapat bertata krama yang baik.

3. Mengadakan Kegiatan Keagamaan
a) Sholat Berjamaah
Melaksanakan sholat hukumnya adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat. Bahkan amal perbuatan yang akan dihisab pertama kali oleh
Allah adalah sholat. Atas dasar itulah, pengasuh pondok pesantren Al-Musyaffa’, Bapak KH. Muchlis Musyaffa’ mewajibkan kepada seluruh santrinya
untuk sholat berjamaah dengan diimami langsung oleh beliau. Untuk melancarkan proses kegiatan sholat berjamaah, maka pengurus membentuk jadwal piket santri yang bertugas untuk mengajak santri lain agar sholat berjamaah.

Melalui kegiatan sholat berjamaah ini, diharapkan santri bisa menjadi pribadi yang lebih teratur dan displin. Serta diharapkan dapat melaih kesabaran, dapat membentuk sikap rendah hati, dan patuh. Selain itu, dengan diadakannya sholat berjamaah adalah agar santri lebih bisa mensyukuri nikmat kesehatan yang diberikan Allah SWT sehingga masih bisa menjalankan sholat berjamaah.

b) Mujahadah
Kegiatan mujahadah wajib diikuti oleh santri salaf yang sudah kelas alfiyah ke atas. Mujahadah dilaksanakan setiap malam hari kecuali malam Jumat
pada pukul 23.30-00.00 WIB di mushola. Petugas yang memimpin mujahadah ini adalah santri-santri senior. Adapun untuk santri yang lain tidak wajib
mengikuti kegiatan mujahadah ini.

 Adapun teknis kegiatan mujahadah dimulai dengan sholat sunah hajat 2 rakaat, kemudian dilanjut dengan sholat
sunah witir 3 rakaat dan selanjutnya membaca bacaan wirid dari pondok pesantren API Tegalrejo, karena memang pondok pesantren Al-Musyaffa’ berkiblat pada pondok API Tegalrejo. Tujuan dari kegiatan mujahadah agar santri terbiasa untuk sholat malam. Selain itu, agar santri lebih dekat dengan Allah serta harapan agar apa yang diinginkan bisa terkabul karena malam hari merupakan waktu yang baik untuk bermunajat. Apalagi jika kita melanggengkan wirid tertentu tiap malam maka itu akan mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak santri”.

Strategi melalui kegiatan mujahadah ini, diharapkan santri memiliki hati yang bersih, tentram dan nyaman, dapat mengontrol diri dari sifat malas
dan menunda pekerjaan dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih positif seperti kerja keras dan pantang menyerah. Dan yang terpenting adalah semakin menambah ketawakalan kepada Allah dalam menyerahkan segala urusan.

c) Ziarah Kubur
Ziarah kubur yang diwajibkan kepada santri dilaksanakan pada setiap hari Kamis sore setelah sholat asar. Selain hari itu hukunya adalah sunah.
Ziarah kubur wajib bagi seluruh santri putra maupun putri kecuali santri putri yang berhalangan. Kegiatan ini dipandu oleh seorang santri putra tahfidz yang sudah senior dimana mereka membaca yasin dan tahlil bersama-sama.

Tujuan dari ziarah kubur disini adalah untuk tawasul kepada almarhum dan mendoakannya. Pelaksanaan ziarah kubur yang wajib dipimpin oleh
imam yang berasal dari kang-kang senior penghafal Al-Qur’an. Dimana bacaan yang dipakai adalah layaknya tahlil pada umumnya dimulai dengan
membaca Fatihah di-hadrah-kan kepada Nabi Muhammad dan keluarga, sahabat, Syekh Abdul Al-Jaelani serta dihususkan kepada almarhum KH. Musyaffa’ dan Nyai Hj. Richaniyah. Selanjutnya adalah membaca Surat Al-Ikhlas sebanya 3 kali, Surat Al-Falaq 1 kali, Surat An-Nas 1 kali, ayak kursi dan seperti tahlil pada umumnya ditutup dengan doa.”

Kegiatan ini dharapkan agar santri dapat menyadari baahwa hidup dan mati adalah di tangan Allah, manusia tidak memiliki daya sama sekali. maka senantiasa akan hilng rasa sombong dalam diri seseorang dan mendekatkan diri pada Tuhannya.

d) Wisuda Khotmil Qur’an
Kegiatan Wisuda Khotmil Qur’an dilaksanakan satu tahun sekali dan pelaksanaannya adalah pada tanggal 30 Rabiul Awal.  Adanya kegiatan Khotmil Qur’an di pondok pesantren Al-Musyaffa’ adalah sebagai bentuk mencari berkah dari Al-Qur’an. Karena santri telah menghafal beberapa tahun dan kemudian mengkhatamkannya. Di sisi lain, acara Khotmil Qur’an juga sebagai cara membentuk santri untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
e) Peringatan Haul
Adanya pelaksanaan peringatan haul ini adalah bertujuan agar santri dapat meniru dan meneruskan perjuangan almarhum KH. Musyaffa’
dan almarhumah Nyai Hj. Richaniyah yang merupakan orang tua dari KH. Muchlis Musyaffa’. Selain itu, santri juga diharapkan memiliki akhlak
berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Peringatan Haul ini adalah acara tiap tahun sekali dimana ketika itu semua santri dan wali santri hadir untuk mengikuti acara tersebut. Selain sebagai
bentuk sikap berbakti kepada orang tua, sebenarnya ada harapan lain diman diharapkan santri bisa merefleksikan bagaimana perjunangan KH. Musyaffa’ dalam berdakwah di masyarakat. Diharapkan santri memiliki sifat pantang menyerah, gigih dan senantiasa
bersemangat untuk mendakwahkan agama Islam.
f) Pengajian Selapanan
Pengajian selapanan adalah kegiatan yang dilakukan setiap satu bulan sekali dalam hitungan kalender Jawa. Pengajian selapanan di pondok
pesantren Al-Musyaffa’ diikuti oleh santri, walisantri, dan masyarakat umum.
4. Pengajian Kitab Akhlak
Strategi KH. Muchlis Musyaffa’ selain memberikan teladan, beliau juga memberikan pembelajaran kitab-kitab akhlak sebagai strategi dalam membentuk akhlak santri. Beliau menerapkan kepada santri-santrinya untuk mengamalkan ilmu yang telah mereka dapatkan selama
mengaji. Beliau mengibaratkan, kalau ilmu tidak diamalkan maka tidak akan membawa manfaat dan keberkahan dalam hidup. Begitu pula di pondok pesantren Al-Musyaffa’ dimana kitab akhlak menjadi salah satu materi yang diajarkan di pondok pesantren ini. Untuk tingkatan kitab yang diajarkan adalah tingkat ibtidaiyah kitabnya adalah Akhlak lil banin.

Kemudian di tingkat Tsanawiyah kitabnya adalah Ta’limul Muta’alim dan Taisirul Kholaq, dan yang Aliyah adalah Ihya Ulumudin. Dan kebetulan pengajian kitab akhlak adalah untuk santri yang salaf sedangkan santri yang kholaf, materi akhlak sudah diberikan di sekolahan. Sedangkan tujuan
diadakannya pengajian kitab akhlak adalah memperbaiki akhlak santri itu sendiri. Akhlak adalah bentuk cerminan seseorang. Orang lain yang menilai akhlak kita baik atau tidak. Akhlak itu sangat penting. Sebagaimana Rasulullah diutus bukankah untuk memperbaiki akhlak manusia. Akhlak yang paling baik adalah dengan mengikuti sunah Rasul karena beliau telah mecontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.”

Strategi KH. Muchlis Musyaffa’ dengan mengadakan pengajian kitab akhlak ini adalah agar santri dapat mengerti mana yang baik dan buruk. Disamping itu juga untuk membekali santri tentang akhlak-akhlak seorang muslim seperti akhlak menuntut ilmu, akhlak bertamu, akhlak kepada orang yang lebih tua, akhlak kepada sesama dan lain sebagainya.

5. Pembentukan Tata Tertib/ Peraturan Pondok
Setiap pondok pesantren tentu mempunyai tata tertib dan peraturan yang harus yang dipatuhi. Pembentukan tata tertib dan peraturan sudah pasti mempunyai maksud dan tujuan yang tersirat. Pembentukan tata tertib dan peraturan di pondok pesantren Al-Musyaffa’ Kampir Sudipayung Ngampel Kendal bertujuan agar santri menjadi pribadi yang baik, soleh, berguna bagi orang lain sebagaimana yang diharapkan dalam visi dan misi.

6. Pemberlakuan Ta’zir (Hukuman)
Penerapan peraturan memang tidak menjamin santri untuk tidak melanggar peraturan namun setidaknya lebih meminimalisir kenakalan santri. Adapun apabila santri melakukan kesalahan maka akan ada hukuman bagi santri yang dinamakan ta’zir. Hukuman bagi santri adalah sesuai dengan apa yang dilanggarnya. Adapun tujuan dari Ta’zir tersebut adalah agar santri memiliki kesadaran dan patuh terhadap aturan yang ada.”

6  Chart Geneology

6.1   Chart Geneology Guru Beliau
Berikut ini contoh Chart Geneology guru beliau dapat dilihat selengkapnya melalui: Chart Geneology guru beliau
 

7  Referensi

Biografi KH. Muchlis Musyaffa’

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya