Biografi Imam Qusyairi

Biografi Imam Qusyairi

Nama dan Nasabnya
Nama al-Qusyairi tidak asing lagi di kalangan pengkaji tasawwuf. Tambahan pula ianya sering disebut-sebut dalam kitab-kitab tasawuf, terutama sekali berkaitan dengan kitabnya, Ar-Risalah.Bahkan nama al-Qusyairi digandingkan dan disatukan dengan nama kitab tersebut dan terkenal dengan sebutan ‘ar-Risalah al-Qusyairiyyah’ yang tak asing lagi bagi para pengkaji tasawwuf.

Begitu terkenalnya penyatuan dua nama tersebut, hingga terkesan bahwa ar-Risalah adalah satu-satunya kitab al-Qusyairi yang pernah ditulis sepanjang hidupnya. Hal itu tentu saja tidak benar. Al-Qusyairi telah menulis sekitar dua puluh buku, dan ar-Risalah sebenarnya juga bukan karyanya yang terpenting. Ada kitab lain yang lebih penting dan lebih agung, yaitu ‘Lath’aif al-Isyarat’. Sebuah kitab tafsir qur’an yang masuk dalam kategori Tafsir Isyari.

Beliau dilahirkan di Ustua (Astawa), Naisabur, daerah Khurasan, Iran pada bulan Rabi`ul Awwal 376 H./986 M. Beliau meninggal di Naisabur pada 16 Rabi`ul Akhir 465 H. Atau sekitar 1074 M. Beliau hidup sekitar 90 tahun, dan menghabiskan sebahagian masa hidupnya di Naisabur. Nama beliau adalah Abdul karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thohah bin Muhammad al-Qusyairi. Bermadzhab Syafi`i dalam fiqihnya dan Asy`ari dalam ilmu kalam(Aqidah). Panggilannya Abul Qasim, sedangkan gelarnya cukup banyak, antara lain yang bisa kita sebutkan: an-Naisaburi.

Dihubungkan dengan Naisabur atau Syabur, sebuah kota di Khurasan, salah satu ibu kota terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw. Kota di mana Umar Khayyam dan penyair sufi Fariduddin ‘Atthaar lahir. Dan kota ini pernah mengalami kehancuran akibat perang dan bencana. Sementara di kota inilah hidup Maha Guru asy-Syeikh al-Qusyairi hingga akhir hayatnya.

Dalam kitab al-Ansaab’ disebutkan, al-Qusyairy sebenarnya dihubungkan kepada Qusyair. Sementara dalam Ta’ajul Arus disebutkan, bahwa Qusyair adalah marga dari suku Qahthaniyah yang menempati wilayah Hadhramaut. Sedangkan dalam Mu’jamu Qabailil ‘Arab disebutkan, Qusyair adalah Ibnu Ka’b bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Qais bin Ailan. Mereka mempunyai beberapa cucu cicit. Keluarga besar Qusyairy ini bersemangat memasuki Islam, lantas mereka datang berbondong bondong ke Khurasan di zaman Umayah. Mereka pun ikut berperang ketika membuka wilayah Syam dan Irak. Di antara mata rantai keluarganya adalah para pemimpin di Khurasan dan Naisabur, namun ada juga yang memasuki wilayah Andalusia pada saat penyerangan di sana.

Mereka yang datang ke Khurasan dari Astawa berasal dari Arab. Sebuah negeri besar di wilayah Naisabur, memiliki desa yang begitu banyak. Batas batasnya berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Dan dari kota itu pula para Ulama pernah lahir. Dihubungkan pada mazhab asy-Syafi’y yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’y. (150-204 H./ 767-820 M.).

Beliau mempunyai hubungan dari arah ibundanya pada as Sulamy. Sedangkan pamannya, Abu Uqail as Sulamy, salah seorang pemuka wilayah Astawa. Sementara nasab pada as Sulamy, terdapat beberapa pandangan.

Pertama, as-Sulamy adalah nasab pada Sulaim, yaitu kabilah Arab yang sangat terkenal. Nasabnya, Sulaim bin Manshur bin Ikrimah bin Khafdhah bin Qais bin Ailan bin Nashr. 

Kedua, as-Salamy yang dihubungan pada Bani Salamah. Mereka adalah salah satu keluarga Anshar. Nisbat ini berbeda dengan kriterianya.

Gelar Kehormatan
Ia memiliki gelar gelar kehormatan, seperti : al-Imam, al-Ustadz, asy-Syekh (Maha Guru), Zainul Islam, al-jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat), dan seterusnya.

Nama nama (gelar) ini diucapkan sebagai penghormatan atas kedudukannya yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan di dunia islam dan dunia tasawuf.

Kehidupan Al-Qusyairi
Beliau telah menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Kemudian beliau dirawat oleh Abul Qasim Al-Alimani seorang sahabat karib keluarga Qusyairi. Di sinilah beliau belajar bahasa dan sastra Arab.Pada masa itu, kondisi pemerintahan tidak berpihak pada rakyat, para penguasa berlomba-lomba menaikkan pajak. Hal itu berpengaruh pada jiwa al-Qusyairi yang bercita-cita untuk meringankan beban rakyat. Karena itu, beliau pergi ke Naisabur untuk belajar ilmu hitung yang berkaitan dengan pajak.

Sesampainya di Naisabur, beliau belajar berbagai macam ilmu kepada maha guru Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisabur, yang lebih dikenal dengan Ad-Daqaq. Asy-Syaikh mempunyai firasat bahwa pemuda ini seorang murid yang cerdasb dan brilian, karena itu beliau mengajarkan berbagai macam bidang ilmu. Sehingga Al-Qusyairi mencabut cita-citanya menguasai peran pemerintahan dan memilih thariqah sebagai garis perjuangan.

Terampil Berkuda.
Asy-Syaikh termasuk orang yang pandai menunggang kuda. Kepiawaiannya telah dibuktikan dalam berbagai lapangan pacuan kuda. Beliau juga seorang yang tangkas memainkan senjata, bahkan sangat tangkas. Permainannya benar-benar sangat mengagumkan.

Pendamping Hidup.
Asy-Syaikh menikah dengan Fatimah, puteri guru sejatinya yang bernama Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisaburi Ad-Daqaq. Dia seorang wanita berilmu, beradab, dan termasuk ahli zuhud yang diperhitungkan di zamannya. Banyak hadits yang diriwayatkan olehnya. Beliau hidup bersamanya semenjak tahun 405 H / 1014 M. hingga 412 H / 1021 M.

Anak-anaknya
Asy-Syaikh meninggalkan 6 orang putera dan seorang putri. Kesemuanya adalah ahli-ahli ibadah. Secara berurutan mereka adalah :

  1. Abu Said Abdullah.
  2. Abu Said Abdul Wahid.
  3. Abu Manshur Abdurrahman.
  4. Abu Nashr Abdurrahim.
  5. Abu-Fatih Ubaidillah.
  6. Abu-Mudzaffar Abdul Mun’im,
  7. dan seorang putri yang bernama :Ummatul Karim.

Guru-gurunya:
Disamping berguru pada mertuanya, Imam Al-Qusyairy juga berguru pada para ulama lain. Diantaranya,
1. Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (325-412 H/936-1021 M), seorang sufi, penulis dan sejarawan.
2. Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr at-Thusy (385-460 H/995-1067 M,
3. Abu Bakr Muhammad ibn al-Husain, seorang ulama ahli Ushul Fiqh.
4. Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad, 
5. Abu Abbas ibn Syuraih,
6. Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.

Murid-muridnya yang Terkenal
1.Abu Bakr – Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdady (392-463 H./1002-1072 M.).
2.Abu Ibrahim – Ismail bin Husain al-Husainy (w. 531 H./137 M.)
3.Abu Muhammad – Ismail bin Abul Qasim al-Ghazy an-Naisabury.
4.Abul Qasim – Sulaiman bin Nashir bin Imran al-Anshary (w. 512 H/118 M.)
5.Abu Bakr – Syah bin Ahmad asy-Syadiyakhy.
6.Abu Muhammad – Abdul Jabbar bin Muhammad bin Ahmad al-Khawary.
7.Abu Bakr bin Abdurrahman bin Abdullah al-Bahity.
8.Abu Muhammad – Abdullah bin Atha’al-Ibrahimy al-Harawy.
9.Abu Abdullah – Muhammad ibnul Fadhl bin Ahmad al-Farawy (441-530 H./1050-1136 M).
10Abdul Wahab ibnus Syah Abul Futuh asy-Syadiyakhy an-Naisabury.
11.Abu Ali – al-Fadhl bin Muhammad bin Ali al-Qashbany (444 H/ 1052 M).
12.Abul Tath – Muhammad bin Muhammad bin Ali al-Khuzaimy.

Keilmuan al-Qusyairi
1.Ushuluddin, yang diperolehnya dari guru-guru bermazhab Abu Hasan al-Asy’ari, seorang imam teologi sunni.
2. Ilmu Fiqih, yang beraliran mazhab Syafi’i.
3. Ilmu Tasawuf, asy-Syaikh adalah seorang sufi sejati, murni dalam laku sejatinya, dan tulus dalam perjuangannya mempertahankan ajaran tasawuf sejati dari praktek-praktek tasawwuf pada umumnya. Di antara karya beliau adalah al-Risalah al-Qusyairiyah.

Karya al-Qusyairi
al-Qusyairi dapat mengarang dalam kitab-kitabnya yang berisi masalah tasawuf dan ilmu-ilmu Islam. Antara lain:
1. Ahkam al-Syar’i.
2. Adab al-Shufiyah.
3. Al-Arba’un fi al-Hadits.
4. Istifadhah al-Muradat.
5. Balaghah al-Maqashid fi al-Tasawuf.
6. at-Tahbir fi Tadzkir.
7. Tartib al-Suluk, fi Thariqillahi Ta’ala.
8. al-Tauhid al-Nabawi.
9. at-Taisir fi ‘Ilmi al-Tafsir.
10. al-Jawahir.
11. Hayat al-Arwah dan al-Dalil ila Thariq al-Shalah.
12. Diwan al-Syi’ri.
13. al-Dzikr wa al-Dzakir.
14. al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tasawwuf,
15. Sirat al-Masayikh.
16. Syarâh Asma al-Husna.
17. Syikuyat Ahl al-Sunnah bi Hikayati ma Nalahun min al-Mihnah.
18. Uyun al-Ajwibah fi Ushul al-Asilah.
19. Lathaif al-Isyarat.
20. al-Fushul fi al-Ushul.
21. al-Luma’ fi al-I’tiqad.
22. Majalis Abi Ali al-Hasan al-Daqaq
23. al-Mi’raj.
24. al-Munajah.
25. Mantsuru al-Khitab fi Syuhub al-Albab.
26. Nasikhu al-Hadits wa Mansukhuhu.
27. Nahw al-Qulub al-Shaghir.
28. Nahw al-Qulub al-Kabir.
29. Nukatu Uli al-Nuha.

Pujian Para Ulama
Berbicara tentang beliau tentu tak lepas dari penilaian para sejarawan muslim tentangnya. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Siyar a’lam an-Nubala, beliau menulis :

الإِمَامُ، الزَّاهِدُ، القُدْوَةُ، الأُسْتَاذُ، أَبُو القَاسِمِ عَبْدُ الكَرِيْمِ بنُ هَوَازِن بنِ عَبْدِ المَلِكِ بنِ طَلْحَةَ القُشَيْرِيُّ، الخُرَاسَانِيُّ، النَّيْسَابُوْرِيُّ، الشَّافِعِيُّ، الصُّوْفِيُّ، المُفَسِّرُ، صَاحِبُ الرِّسَالَة.

“Seorang imam yang zahid, qudwah (panutan), ustadz Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah al-Qusyairi al-Khurasani an-Naisaburi, asy-Syafi’i, ash-Shufi, Al-Mufassir, penulis kitab ar-Risalah.”

Mengenai keilmuan beliau, adz-Dzahabi menulis :

وَتَفَقَّهَ عَلَى:أَبِي بَكْرٍ مُحَمَّدِ بن أَبِي بَكْرٍ الطُّوْسِيّ، وَالأُسْتَاذِ أَبِي إِسْحَاقَ الإِسفرَايينِي، وَابْن فُورك.وَتَقدم فِي الأُصُوْل وَالفروع

“Beliau mendalami ilmu fiqh (din) kepada Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Ath-Thusi, Ustadz Abu Ishaq Al-Isfirayini dan Ibnu Furak. Beliau unggul dalam bidang ushul (ilmu-ilmu pokok) dan furu’ (ilmu-ilmu cabang).”

Ibnu Khallikan juga berkata:

“Dahulu Abul Qasim adalah seorang yang sangat berilmu dalam bidang fiqih, tafsir, hadits, ushul, adab (sastra), syair dan karya tulis. Beliau menulis kitab at-Tafsir al-Kabir, salah satu kitab tafsir terbaik. Beliau juga menulis kitab ar-Risalah yang berisi tentang tokoh-tokoh Tarekat. Beliau pernah pergi haji bersama Imam Abu Muhammad al-Juwaini dan Imam Abu Bakr al-Baihaqi.”

Imam adz-Dzahabi menceritakan bahwa dahulu Imam al-Qusyairi bergabung dengan halaqoh Ath-Thusi lalu berpindah ke majelis Ibnu Furak sehingga dari situ beliau mahir dalam ilmu kalam. Beliau juga mulazamah dengan Ustadz Abu Ishaq mengkaji kitab-kitab karangan Ibnul Baqillani sehingga akhirnya beliau menjadi Syaikh rujukan di Khurasan dalam masalah Tasawwuf dan melahirkan banyak murid.

Imam al-Qusyairi dikenal sebagai sosok murabbi dan pembimbing tarekat yang luar biasa. Imam adz-Dzahabi memuji kehebatan beliau dalam masalah nasehat:

وَكَانَ عَديم النّظير فِي السّلوك وَالتَّذكير، لطيفَ العبَارَة، طَيِّبَ الأَخلاَقِ، غوَّاصاً عَلَى المَعَانِي

“Beliau tiada tandingannya dalam masalah suluk (akhlak) dan tadzkir (nasehat). Beliau adalah sosok yang lembut kata-katanya, luhur budi pekertinya, serta pakar dalam menyelami makna-makna.”

Abu Sa’d as-Sam’ani juga memuji Imam al-Qusyairi, beliau mengatakan :

“Ustadz Abul Qasim belum pernah tertandingi dalam hal kesempurnaan dan kehebatannya. Beliau mampu menggabungkan antara Syariat dan Hakikat.”

Syariat adalah ilmu dzhohir (tampak) sedangkan Hakikat adalah ilmu bathin (tak tampak).

Imam Abu Bakr Al-Khathib berkata :

“Kami dahulu menulis dari beliau. Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), indah nasehatnya, manis isyaratnya. Beliau dalam masalah ushul (akidah) mengikuti madzhab Al-Asy’ari, sedangkan dalam masalah furu’ (fiqih) mengikuti madzhab Asy-Syafi’i.”

Bahkan Abu Bakr Al-Bakharzi mengatakan :

“Beliau (Imam Al-Qusyairi) mahir dalam ilmu kalam sesuai madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari. Dalam masalah wawasan keilmuan, beliau keluar dari batasan manusia. Kalimat-kalimatnya bari para penuntut ilmu merupakan faedah. Mimbar beliau bagi para peniti jalan akhirat ibarat bantal.”

Kesholehan Imam al-Qusyairi bukan hanya dirasakan oleh manusia saja. Bahkan hewan pun merasakan efek kesholehan tersebut. al-Muayyad dalam kitab Tarikhnya menulis:

“Syekh Abul Qasim pernah diberi hadiah seekor kuda. Beliau mengendarai kuda tersebut sekitar dua puluh tahun lamanya. Ketika beliau wafat, kuda itu tidak mau makan. Seminggu berikutnya kuda itu pun mati.”
 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page