Abu Usman Al-Fauzi Lueng Ie #7: Dakwah Kolaborasi Seumeubeut dan Tawajuh

Abu Usman Al-Fauzi Lueng Ie #7: Dakwah Kolaborasi Seumeubeut dan Tawajuh

LADUNI. ID, ULAMA- Dakwah yang diperankan para ulama terdahulu hendaknya menjadi acuan kita dalam meneladani baik metode atau manajemennya. Dalam hal ini Abu Lueng Ie dalam kesehariannya mencoba berdakwah dengan kombinasi pengajian dan zikir.

Abu Lueng Ie semasa hidupnya sebagaimana diungkapkan putra beliau, Abon Tajuddin, sangat giat dan gencar dalam mensosialisasikan tarekat Naqsyabandiah ke seantero Aceh, baik Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie dan lainnya. Konsep Abu Lueng Ie di samping mengajarkan kepada masyarakat ilmu syariat baik fiqh, tauhid dan tasawuf juga mengimplementasikan nilai amaliah dengan bertawajuh.

Bahkan, menurut Abon Tajuddin, Abu kalau hanya sebatas pengajian saja tanpa tawajuhan, kurang lengkap dalam dakwahnya. Kegigihan dan tanpa pamrihnya Abu Lueng Ie dalam memperjuangkan syariat dan tarekat patut kita teladani. Beliau walaupun satu atau dua orang jamaah yang hadir dalam pengajian di luar dayah ke beberapa daerah, tetap hadir dan menyampaikan misi dakwahnya.

Di dayah Lueng Ie, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar setiap Selasa, Abu membuka pengajian umum. Jamaah yang datang pada masa Abu dulu sungguh sangat banyak. Di seputaran jalan Ulee Kareng, para jamaah yang kebanyakan berusia lansia dan dewasa berjejeran di jalan dengan jalan setapak dan lainnya. Pemandangan putih sangat kontras terlihat di kawasan seputaran Ulee Kareng dengan mereka jamaah berjalan dan bekendaraan saat itu.

Jamaah yang hadir bukan hanya dari wilayah kecamatan dan Kabupaten Aceh Besar, bahkan ada yang dari luar daerah. Sebuah tradisi yang sudah dijadikan budaya dalam kalangan keluarga Abu Lueng Ie dan mungkin juga dayah lain di wilayah Aceh Besar, mereka dijamu makanan dengan nasi dan lauk pauk apa adanya dan dimasak oleh mereka sendiri. Biasanya ini mereka yang bermalam di dayah tersebut.

Keberkahan tanah Lueng Ie dan dayah tersebut diceritakan salah seorang tokoh masyarakat di sana. Mereka yang pernah menanjakkan tanah di dayah tersebut, seakan "wajib" untuk berkunjung kali selanjutnya. Aura tanah tersebut sangat terasa lain ketika kita menapakkan kaki di tempat itu. Mereka yang sudah masuk ke dayah tersebut terlebih di masa konflik dulu, sangat merasa aman.

"Meunyoe ka digilhee tanoh dayah Lueng Ie, nyan hai teungku, tingat sabe-sabe. Dan meunyoe ka ta tamong lam dayah nyan awai masa konflik, hana sapue pih, dan aparat hana dijak seutot le," kata salah seorang warga menceritakan

**Helmi Abu Bakar el-langkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Samalanga dan Jamaal Tarekat Naqsyabandiah