Pahlawan Terkutuk (Seri 4)

Pahlawan Terkutuk (Seri 4)

LADUNI.ID- Syeikh membisu. Iblis mohon pamit tanpa bicara apa-apa. Ia sangat kecewa, tetapi juga tak mau menyerah. Niatnya sudah bulat untuk berubah menjadi makhluk Tuhan yang baik, saleh dan tak akan lagi menjerumuskan manusia ke dalam dosa dan tak lagi jadi kambing hitam mereka yang kalah.

"Nah, kalau Grand Syekh Al-Azhar tidak bisa menjawab, maka tentu tak ada orang lain lagi yang bisa", pikir Iblis.

Iblis sempat berpikir untuk menemui Paus di Roma. Tapi dia pikir lagi bahwa Sri Baginda Paus juga akan menjawab seperti Syeikh Akbar.

"Kalau tidak ada yang bisa menjawab aku akan langsung saja menghadap Tuhan", pikir Iblis. Maka dengan secepat kilat ia kemudian melesat menerobos langit demi langit untuk menemui Malaikat Jibril. Dia akan meminta tolong agar bisa bertemu lagi dengan Tuhan, seperti dahulu kala, saat Adam belum diciptakan.

Di langit ke tujuh dia bertemu Malaikat Jibril, ketua umum para Malaikat. Kepadanya dia menyampaikan maksud dan keingannya bertaubat.

Jibril tertegun sejenak. Lalu mengatakan :

ولكن زوالك من الارض يزيل الأركان ويزلزل الجدران، فلا معنى للفضيلة بغير وجود الرذيلة.. ولا للطيب بغير الخبيث.. ولا للنور بغير ظلام.. بل أن الناس لا يرون نور الله إلا من خلال ظلامك.

Artinya kira-kira begini :
"Jika kamu bertobat dan jadi saleh, pilar-pilar langit akan runtuh, tak ada lagi warna-warni, tak lagi musim semi yang indah. Tak ada lagi makna kemuliaan, tak ada lagi makna kebenaran, tak ada lagi cahaya. Bahkan manusia tak dapat melihat cahaya Tuhan tanpa kehadiranmu di muka bumi ini. Adamu adalah niscaya sepanjang bumi masih membentang agar yang lain ada. Kebaikan dan kebenaran ada justeru karena adanya kamu. Cahaya ada, karena ada kegelapan, dan kegelapan itu adalah kamu. Keadilan ada karena ada kezaliman, dan kezaliman itu adalah kamu. Kalau kamu tak ada lagi, manusia tak lagi mau berjuang dan bumi berhenti berputar”.

Iblis mengatakan :

وجودي ضروري لوجود الخير ذاته، نفسي المعتمة يجب أن تظل كذلك لتعكس نور الله، سأرضى بنصيبي الممقوت

"Adaku adalah keharusan bagi eksistensi kebaikan. Eksistensiku sebagai kegelapan yang pekat harus terus ada, agar cahaya Tuhan berpendar cemerlang. Aku rela atas nasibku yang dibenci ini".

"Nah, kalau begitu aku berjasa besar bukan?. Ha ha ha. Hore hore hore", Iblis mencoba menghibur diri.

"Tetapi mengapa aku harus dikutuk dan dicaci-maki sepanjang ruang dan waktu kehidupan manusia?, kata Iblis dengan suara pelan dan wajah memelas.

Oleh: KH Husein Muhammad