Keluarga Pilihan dalam Al-Quran

Keluarga Pilihan dalam Al-Quran

LADUNI.ID, Jakarta - “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”. (QS. Ali Imran, 03: 33).

            Allah s.w.t. menetapkan keunggulan-keunggulan tertentu terhadap berbagai bangsa, pada masanya masing-masing. Kaum ‘Ad pernah mengalami kejayaan, demikian juga Kaum Tsamud. Bangsa Mesir di masa Fir’aun memiliki keunggulan dari bangsa-bangsa yang lain. Bangsa Babilonia yang mendiami wilayah sekitar Irak, pernah memperoleh kejayaan, sehingga dapat melahirkan Psedo Sains (pengetahuan yang menyerupai sains). Mereka menemukan rasi-rasi bintang, selain itu mereka juga sudah dapat menghitung dan mengetahui berapa jumlah hari dalam peredaran matahari dan peredaran bulan selama satu tahun.

            Selanjutnya Kaum Bani Israil pernah memperoleh kejayaan sejak bangkitnya Nabi Musa a.s. sampai pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Bangsa Arab pernah meraih kejayaan sejak bangkitnya Nabi Muhammad s.a.w. yang dilanjutkan dengan masa khilafah yang dipimpin oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a.. Kejayaan Bangsa Arab dilanjutkan pada masa Bani Umayyah, yang berpusat di Damaskus, sampai kurang lebih seratus tahun. 

Kejayaan Bangsa Arab selanjutnya dipimpin oleh Bani Abbas yang berpusat di Baghdad, sampai selama kurang lebih seribu tahun. Selanjutnya, bangsa-bangsa lain selain Arab mencapai kemajuan-kemajuannya seperti Turki Utsmani di Asia Muka, Safawi di Iran, al-Ghaznawi dan Mughal di India. Kerajaan Mamaluk di Mesir dan Dinasti Fathimiyah. Sejak abad ke enam belas, kebangkitan mulai pindah ke Eropa, seperti bangkitnya Negara-negara Inggris, Prancis, Jerman, Itali, dan beberapa Negara Eropa lainnya.

Demikianlah kejayaan dan ketinggian suatu bangsa silih berganti dipergulirkan oleh Allah s.w.t., termasuk kebangkitan zaman dua Super Power Amerika dan Uni Soviet. Disebutkan di dalam al-Qur’an:

 “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran, 03: 140).

            Selain mempergilirkan masa keemasan dan kejayaan antar berbagai bangsa, Allah s.w.t. menetapkan juga berbagai keluarga yang sukses dan keluarga-keluarga yang gagal. Sebagian dari keluarga yang sukses yang dipilih oleh Allah s.w.t., sebagaimana disebutkan dalam ayat ini adalah keluarga Nabi Adam a.s., keluarga Nuh a.s., keluarga Ibrahim, a.s., dan keluarga Imran. Keluarga itu sambug menyambung dari keturunan Adam a.s. keturunan Nuh, keturunan Ibrahim, dan sampai kepada keluarga Imran. Kejayaan yang diberikan kepada keluarga yang dipilih Allah ini, terjadi pada masa tertentu, bukan untuk selama-lamanya. Karena pergiliran dari kesuksesan keluarga juga berlaku sebagaimana berlaku pergiliran  berbagai bangsa. Ayat berikutnya menyebutkan bahwa keluarga-keluarga yang sukses itu adalah merupakan bagian keturunan dari keluarga-keluarga sukses sebelumnya.

 “(Sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. Ali Imaran, 03:34).

            Keluarga-keluarga yang sukses sebagaimana disebutkan di atas, tidak semua anak-anak dan keturunannya berhasil dengan baik, ada di antara keturunan mereka yang gagal, dan bahkan menentang kebenaran yang diajarakan orang tuanya sendiri. Putra Nabi Adam bernama Qabil menentang ajaran orang tuanya yang bersumber dari wahuyu Allah. Ketika ia diperintahkan untuk berkorban, ia melaksanakan korbannya tidak dengan sungguh-sungguh dan tidak ikhlas, sehingga korbannya ditolak oleh Allah s.w.t.. Akhirnya, Qabil membunuh saudaranya sendiri bernama Habil yang korbannya diterima oleh Allah s.w.t. karena ia melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah s.w.t.. Qabil akhirnya bersikap hasad atau iri terhadap saudaranya Habil, sehingga ia membunuhnya. Itulah pembunuhan pertama kali yang terjadi di muka bumi.

            Putra Nabi Nuh, termasuk tidak menaati dan mengikuti bimbingan ayahnya sehingga ia termasuk yang mempelopori pembangkangan terhadap perintah ayahnya. Putra Nabi Nuh akhirnya ikut tenggelam bersama mereka yang tidak beriman, ketika banjir besar melanda dunia. Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya yang beriman semuanya selamat., karena beliau telah menyediakan perahu besar yang meyelematkan mereka dari banjir yang mengerikan itu. Bukan cuma putra Nabi Nuh yang tidak taat kepada bimbingan dan ajakan ayahnya, tetapi juga istri Nabi Nuh-pun sekaligus ibu dari putra-putrinya termasuk yang tidak beriman.

            Peristiwa-persitiwa masa lalu yang dijelaskan al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan di atas, merupakan pelajaran yang sangat penting bagi hidup dan kehidupan umat manusia masa kini. Al-Qur’an selanjutnya menjelaskan keluarga Imran sebagai keluarga pilihan pada masanya yang dijelaskan secara terperinci mengenai prilaku istrinya yang tergolong wanita yang beriman dan shalihah. Istri Imran bernadzar terhadap anak yang berada di dalam rahimnya untuk menjadi manusia yang shaleh dan berkhidmat secara utuh di tempat suci, Baitul Maqdis.
Penjelasan menganai hal ini disebutkan dalam ayat berikutnya:

 “(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Ali Imaran, 03:35).

            Setelah istri Imran bernadzar mengenai anak yang berada di dalam rahimnya untuk berkhidmat ke Baitul Maqdis, ternyata ia melahirkan seorang anak perempuan, tentu Allah lebih mengetahui tentang kelahiran anak perempuan itu. Meskipun perempuan berbeda dengan laki-laki, tetapi dalam beberapa hal, ia juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki kaum laki-laki. Kaum laki-laki pun memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki kaum perempuan, masing-masing memiliki kelebihan-kelebihan yang berbeda yang ditetapkan oleh sunnatullah.

            Istri Imran selanjutnya memberikan nama pada anak perempuan yang dicintainya itu dengan nama Maryam. Perempuan inilah yang menjadi perempuan istimewa dan mulia, karena melalui rahimnya-lah lahir Nabi Isa a.s. dengan tanpa ayah. Inilah kejadian istimewa, langsung ditiupkan ke dalam rahimnya oleh malaikat Jibril, ruh ciptaan Allah s.w.t.. Maka dari Siti Maryam inilah perempuan yang suci melahirkan Nabi Isa a.s.. Sejak masa kelahirannya, ketika ia sebagai bayi yang suci, Siti Maryam diserahkan oleh ibunya kepada pemeliharaan Allah s.w.t., dan memohon perlindungan kepada-Nya dan keturunannya dari syaitan yang terkutuk. Ayat berikut ini menjelaskan keadaan ketika Siti Maryam dilahirkan dari istri Imran a.s..

 “Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Ali Imaran, 03:36).

            Dalam perkembangan selanjutnya, Siti Maryam sebagai seorang anak perempuan yang shalehah dan memiliki kemuliaan, diperebutkan pemeliharaannya oleh berbagai kalangan para pembesar dan para ulama dari kalangan kaum Bani Israil. Ternyata Nabi Zakaria-lah yang mendapat keberuntungan besar, yang dipercaya untuk memelihara perempuan yang suci itu, sampai kemudian ia melahirkan Nabi Isa a.s..

            Keluhuran dan masa keemasan suatu bangsa dipergilirkan oleh Allah s.w.t. dari masa ke masa, sesuai dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dari bangsa itu untuk menjadi bangsa yang unggul. Seperti kehidupan suatu bangsa, kehidupan keluarga pun, masa kejayaannya dipergilirkan oleh Allah s.w.t. dari satu keluarga ke keluarga yang lain sesuai dengan pembinaan keluarga tersebut terhadap generasi penerusnya. Keluarga Nabi Adam a.s., Nuh a.s., Ibarahim a.s., Musa a.s. dan keluarga Imran, termasuk keluarga-keluarga yang dipilih oleh Allah s.w.t. menjadi keluarga yang utama dan unggul pada masanya masing-masing.

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA