DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Kiai Ageng Besari merupakan sosok pendiri Pondok Pesantren Tegalsari atau Gebang Tinatar.
Pondok Pesantren Raudlatul Musthofa bukanlah pondok baru, melainkan meneruskan dari Pondok Lor yang terletak di desa pundensari bagian utara dan didirikan pada tahun 1800-an oleh asuhan Maulana Udjang Abdun atau biasa disebut Mbah Abdun yang menerapkan sitem salaf murni.
Pondok pesantren Roudlotul Qur’an merupakan pondok pesantren yang bertempat di jantung Kota Lamongan, lebih tepatnya di daerah Kelurahan Tlogoanyar Kecamatan Lamongan.
Karena nilai intelektual KH. Abdul Mukti bin Harun yang tinggi, menjadikan karir beliau cemerlang. Beliau dikenal luas oleh banyak kalangan sebagai ulama pejuang yang gigih dan ahli budaya pewayangan Jawa. Perjuangan KH. Abdul Mukti bin Harun dalam melawan penjajah Belanda cukup besar.
Habib Alwi bin Muhammad Syihab dijuluki Mata Hati Kota Tarim, julukan yang tak mampu diraih oleh sembarang orang, yang demikian itu beliau dapatkan karena keikhlasannya berkhidmah kepada syariat agama.
Sebagai Ulama terkenal, Kyai Ageng Kyai Ageng Muhammad Besari merupakan seorang pendatang di daerah Ponorogo. Beliau berasal dari Madiun, tepatnya Desa Kuncen, Kecamatan Majayan.
KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi beliau adalah ulama kharismatik dengan denga tutur katanya yang lembut. Sikap inilah yang menjadikan KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi mudah diterima oleh semua kalangan baik para cendikiawan maupun rakyat biasa.
Mamba'ul Hisan diambil dari nama sebuah pondok induk yang dijadikan patokan standart kurikulum dalam pesantren yang didirikan oleh Ky. M.Abu Syamsudin Syakur yang berada di kawasan Blitar tepatnya di Gardusari Sanan Gondang Blitar dengan nama PP.Mamba'ul Hisan Sanan Gondang yang merupakan Cabang dari PP. Mamba'ul Hisan Pusat Sidayu Gresik.
Makam KH. Marzuqi Dahlan Ulama Nahdlatul Ulama Lirboyo Kediri Jawa Timur
KH. Abdullah bin Nuh, ulama asal Cianjur, yang produktif menulis kitab. Karyanya cukup banyak. Sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Keilmuan yang luhur di bidang sastra Arab, fikih, ushul fikih, tasawuf, dan ilmu keislaman lainnya, menyebabkan beliau dijuluki al-Ghazali dari Cianjur.