Biografi Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj

 
Biografi Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj

Daftar Isi Profil Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Karier di NU
  7. Kiprah
  8. Penghargaan

Kelahiran

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj atau yang kerap disapa dengan panggilan Kang Said lahir pada 03 Juli 1953, di Desa Kempek, Palimanan, Cirebon. Beliau merupakan putra kedua dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Aqiel Sirodj dengan Hj. Afifah binti KH. Soleh Harun pendiri Pondok Pesantren Kempek. Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Ja’far Shodiq, KH. Muhamad Musthofa, KH. Ahsin Syifa dan KH. Ni’amillah.

Nasab

Berdasarkan silsilah nasab KH. Said Aqil Siradj, beliau merupakan dzuriyah Rasullullah yang ke-32 dengan urutan nasabnya sebagai berikut:

Muhammad Rasulullah Saw  Ali dengan Fatimah az-Zahra binti Husein bin Muhammad al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Ali 'Uraidhi bin Ja'far as Shodiq bin Muhammad an Naqib bin Isa ar-Rumi bin Ahmad alMuhajir bin Alawi Awwal bin Ubaidillah bin Muhammad Shohibus Saumi'ah bin Alawi Atsani bin Muhammad Shohib Mirbat Ali Kholi' Qosam bin Alawi Ammil Faqih (Hadrulmaut) bin Abdul Malik al-Muhajir (Nasrabad India) bin Abdullah Khan bin Ahmad Jalaludin Khan bin Jamaludin Akbar Khan bin Ali Nurul Alam Syeh Jumadil Kubro bin Abdullah bin Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Sultan Maulana Yusuf (Banten) bin Sultan Maulana Mansur (Cikaduen) bin Abul Mufakhir (Majalengka) bin Tubagus Ibrahim bin KH. Ali bin KH. Nuruddin bin KH. Murtasim bin KH. Said (gedongan) bin KH. Siradj bin KH. Aqil bin Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj.

Keluarga

KH. Said Aqil Siradj melepas masa lajangnya dengan menikah Nyai. Nur Hayati Abdul Qodir. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat orang anak, diantaranya, Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, dan Aqil Said Aqil.

Pendidikan

KH. Said Aqil Siradj kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Kang Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH. Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH. Mahrus Ali, KH. Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH. Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH. Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur.

Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH. Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya. 

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Karier di NU

Karier KH. Said Aqil Siradj terhadap NU juga begitu besar. Karier tersebut, beliau telah memulainya sejak tahun 1994-sekarang. Perjalanan karier KH. Said Aqil Siradj sebagai berikut:

  1. Wakil katib ‘aam PBNU (1994-1998)
  2. Katib ‘aam PBNU (1998-1999)
  3. Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (GANDI) (1998)
  4. Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
  5. Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
  6. Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
  7. Ketua TGPF Kasus pembantaian dukun santet Banyuwangi (1998)
  8. Penasehat PMKRI (1999-sekarang)
  9. Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
  10. Anggota Kehormatan Matakin (1999-2002)
  11. Rais syuriah PBNU (1999-2004)
  12. Ketua Majelis Ulama Indonesia (2000-2005)
  13. Ketua PBNU (2004-2010)
  14. Ketua Umum PBNU (2010-2015) dengan Rais Aam KH. Sahal Mahfudh
  15. Ketua Umum PBNU (2015- sekarang) dengan Rais Aam KH. Ma’ruf Amin
  16. Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (2017- sekarang)

Kiprah

Sejak mahasiswa, Kang Said terlibat aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU), di antaranya adalah menjadi Sekertaris PMII Rayon Krapyak Jogjakarta (1972-1974), Yogyakarta, dan menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekah pada  tahun 1983-1987. Selain menjadi pengurus organisasi, ia juga mempunyai kegiatan lainnya, menjadi tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah di tahun 1991

Sekembalinya dari Timur Tengah, Kang Said makin aktif di tingkat nasional. Keahliannya dalam kajian keislaman, ia diminta menjadi dosen di berbagai kampus di dalam negeri. Di antaranya dia tercatat sebagai dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIIQ), Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun 1995.  Bahkan dua tahun kemudian ia menjadi Wakil Direktur Universitas Islam Malang.

Selain berkecimpung di dunia akademisi, Kang Said juga terlibat dalam dunia gerakan lintas agama dan anti driskiminasi dengan menjadi Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi).

Penghargaan

Berdasarkan The Moslem 500 yang diselenggarakan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre Amman, KH. Said Aqil Siroj merupakan salah satu tokoh muslim paling berpengaruh di dunia. Peringkat beliau diantaranya:

  1. Tahun 2010 menduduki peringkat ke-19.
  2. Tahun 2011 menduduki peringkat ke-17.
  3. Tahun 2012 menduduki peringkat ke-19.
  4. Tahun 2017 menduduki peringkat ke-20.
  5. Tahun 2018 menduduki peringkat ke-22.
 

Pengikut Beliau

  • Saepul Bachri Saepul Bachri
  • Nur Imamah Nur Imamah
  • moch saiful moch saiful