Biografi KH. Ahmad Badawi (Mbah Badawi Kaliwungu)

 
Biografi KH. Ahmad Badawi (Mbah Badawi Kaliwungu)
Sumber Gambar: Koleksi Laduni.ID

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Badawi (Mbah Badawi Kaliwungu)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Murid
  6. Karomah

 

Kelahiran

Beliau lahir pada tahun 1887

Wafat

Kh. Ahmad Badawi wafat pada tahun 1977. Setelah beliau wafat para pekerja wanita malam dan perjudian berhenti total, dan hal tersebut sudah terasa tidak lama setelah KH. Ahmad Badawi wafat.

Pendidikan

KH. Ahmad Badawi adalah putra seorang saudagar kaya sekaligus seorang kyai di kota Kaliwungu, Kendal yang bernama KH. Abdurrasyid. Pada masa itu, KH. Abdurrasyid merupakan pedagang yang paling sukses, bahkan barang-barang dagangannya biasa diekspor ke negara-negara Timur Tengah. Sehingga tidaklah mengherankan jika sebagian putra-putranya dipondokkan di Kota Mekah. Diantara putra-putranya yang dipondokkan di kota Mekah adalah KH. Ahmad Badawi, KH. Utsman, dan lain-lain. Ahmad Badawi menuntut ilmu di kota Mekah selama puluhan tahun. Di samping mempelajari ilmu-ilmu syari’ah, beliau juga menghafal Al-Qur’an dan Qira’ah Sab’ah.

Setelah puluhan tahun menuntut ilmu di kota Mekah, akhirnya beliau kembali ke tanah kelahirannya yaitu Kaliwungu. Namun, setiba dari kota Mekah beliau tidak lantas mengajar dan mendirikan pondok, tetapi beliau terlebih dahulu tabarrukan di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta asuhan KH. Muhammad Munawwir.

Guru-Guru

Diantara guru-guru beliau di kota Mekah adalah Syekh Ahmad Ibadi al-Misri dan Syekh Abdullah bin Ibrahim al-Misri.

Murid

Setelah beberapa tahun di Ponpes Krapyak, baru beliau kembali ke Kaliwungu dan mengajarkan Al-Qur’an kepada para santri serta mendirikan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an “Miftahul Falah”. Di samping mengajar para santri, beliau juga bekerja sebagai kusir “andong” atau “delman”. Namun, walaupun beliau bekerja sebagai kusir tetapi beliau tetap disiplin dan istiqomah mengajar santri-santrinya. Sehingga banyak santri-santri beliau yang menjadi ulama besar. Diantara santri beliau yang menjadi ulama atau tokoh masyarakat adalah:

  1. KH. Asror Ridwan, Kaliwungu, Kendal (Pendiri PPTQ Al-Asror dan Majelis Ta’limul Qur’an Kauman Kaliwungu)
  2. KH. Abu Bakar Shofwan, Gedongan, Cirebon (Pendiri Pesantren Tahfidz Gedongan Cirebon)
  3. KH. Yusuf Junaedi, Ciomas, Bogor (Pendiri Pesantren Ilmu Al-Qur’an Bogor)
  4. KH. Ahmad Sakho Muhammad, Jakarta (Pentashih Mushaf Depag RI.)
  5. KH. Mahfudz Sarbini, Kaliwungu, Kendal (Imam Masjid Al-Muttaqien Kaliwungu)

Dan masih banyak lagi santri-santri beliau yang menjadi ulama besar maupun tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing.

Karomah

Dahulu sebelum Masjid Besar al-Muttaqien Kaliwungu mengalami pemugaran sebagaimana yang nampak seperti sekarang ini, di depan Masjid al-Muttaqien tersebut terdapat suatu pasar, pasar sore namanya. Pasar sore ini bukan sekadar seperti nama sekarang ini, tetapi memang betul-betul merupakan pasar dengan segala atributnya. Dinamakan pasar sore, karena keramaiannya pasar sore tersebut dimulai pada sore hari. Meski sekarang wujud pasarnya tidak ada dan sekarang berubah menjadi tempat parkir milik Masjid Besar al-Muttaqien Kaliwungu, akan tetapi namanya masih sangat dikenal oleh semua orang. Menurut berbagai sumber, di pasar sore tersebut dulu banyak sekali berkeliaran para wanita kupu-kupu malam atau wanita penghibur. Mereka mulai beroperasi tentunya pada saat malam hari. Memang banyak pihak yang sangat menyayangkan terhadap kondisi yang demikian. Hal ini sangat dapat di maklumi karena sebagai tempat yang dekat dengan tempat ibadah semestinya tempat itu harus bersih dari hal-hal yang demikian.

Sebenarnya saat itu sudah ada sekelompok pemuda yang sering mengusir dan menghalau para perempuan tersebut dengan sekenanya. Namun mereka ternyata harus berhadapan dengan aparat pemerintah, karena langkah tersebut dinilai bertentangan hukum yang berlaku di Indonesia dan dianggap melakukan pelecehan terhadap hak asasi manusia (HAM). Oleh sebab itu, para pemuda itu akhirnya tidak dapat berbuat seenaknya terhadap kupu-kupu malam tersebut.

Pada dasarnya, semua yang masih berotak waras memang menghendaki agar para penghibur hidung belang itu hengkang dari pasar sore tersebut. Namun, mereka tidak mempunyai kiat-kiat khusus untuk mengusir mereka. Adalah KH. Ahmad Badawi salah seorang ulama Kaliwungu yang cukup punya kepedulian tentang permasalahan tersebut. Beliau dengan inisiatif dan cara beliau sendiri, setiap malam sekitar pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB selalu mengunjungi lokasi tersebut, pasar sore. Biasanya para WTS duduk dibeberapa becak yang mangkal disitu. Beliau tahu kalau yang duduk-duduk di becak-becak tersebut adalah para penghibur hidung belang. Oleh sebab itu setiap beliau mengunjungi tempat tersebut yang beliau dekati adalah tukang becaknya.

Kemudian setiap WTS beliau dekati serta di pegang punggungnya. Secara syar’i dan dhohirnya jelas cara yang demikian menyalahi hukum Islam. Sehingga pada saat itu beberapa tokoh masyarakat yang sebagian adalah keponakan beliau sendiri kurang berkenan dan tidak setuju dengan cara beliau ini, seperti KH. Humaidullah Irfan, KH. Asror Ridwan, KH. Ibadullah Irfan dan beberapa tokoh yang lain. Akan tetapi KH. Ahmad Badawi tidak memperdulikannya. Oleh sebab itu, pernah dari keponakan beliau yang bernama Mas’ud bin H.Umar sowan (datang) dan matur pada beliau yang intinya, “ Paman, orang-orang dan juga para kyai diantaranya KH. Humaidullah Irfan, KH. Asror Ridwan, KH. Ibadullah Irfan dan kyai-kyai yang lain sangatlah malu bila melihat paman sedang ngobrol dengan wanita malam. Para kyai bilang sama saya sangatlah malu jika melihat tindakan Panjenengan yang demikian, kalau bisa jangan begitu. Saya pun sebagai keponakan paman juga merasakan malu jika paman seperti itu”. Apa jawab beliau, “Hai Mas’ud, aku akan memberimu hadiah uang saya yang tersimpan disabukku dan akan aku hadiahkan kamu semua sebanyak Rp.1.500.000,- jika kamu berani mengikuti tindakan saya”.

Meski diulang sampai tiga kali, Mas’ud sebagai keponakan tidak mampu menjawab sepatah kata pun. Intinya Mas’ud tidak sanggup. Selanjutnya Mas’ud pun ditanya oleh beliau, “Apakah kamu tahu apa yang aku lakukan?” Mas’ud menjawab, “saya tidak tahu maksud dan tujuan paman”, “kalau kamu tidak tahu, ya sudah diam saja, dan kalau kamu ingin tahu jawabannya, nanti kalau aku sudah tidak ada (wafat)” pesan beliau.

Setelah beliau wafat, memang benar, ternyata para pekeja wanita malam tersebut sudah bersih sama sekali hingga sekarang ini, perjudian dipasar pun sudah tidak ada. Ini dirasakan pada tahun 1977 M, setelah KH. Ahmad Badawi wafat.

Para kyai dan masyarakat Kaliwungu pun baru mengakui usaha dan jasa KH. Ahmad Badawi bin KH. Abdurrasyid. Dan Alhamdulillah kota Kaliwungu sekarang sudah bersih dari wanita pekerja malam. Ini semua, antara lain berkat usaha dari beliau KH. Ahmad Badawi yang begitu gigih, berani dan sanggup menghadapi semua ejekan dan cemoohan dari berbagai pihak. Para kyai dan masyarakat pada saat itu luar biasa dalam merendahkan dan memojokkan beliau. Mungkin ilmu yang diterapkan belum banyak dimengerti oleh kyai-kyai lain dan masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu, setelah kewafatan beliau, hampir semua orang mengakui bahwa beliau adalah wali dan bukan orang sembarangan. Dan sekarang kita semua mengambil buah dari jerih payah perjuangan beliau. Sehingga sekarang nampak lebih indah dan tentram dibanding dengan masa-masa sebelumnya.

 

Disusun Oleh Saifurroyya Dari Berbagai Sumber