Biografi KH. Muhammad Yahya

 
Biografi KH. Muhammad Yahya

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Yahya

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Menjadi Syekh Mursyidin

Kelahiran

KH. Muhammad Yahya atau kerap disapa dengan panggilan Kiai Yahya adalah putra dari pasangan KH. Qoribun dengan Nyai Ratun. Beliau dilahirkan pada tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Wafat

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, KH. Muhammad Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun.

Ada yang berpendapat Kiai Yahya meninggal pada usia 68 tahun karena beliau  lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH. Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun.

Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH. Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun.

Keluarga

KH. Muhammad Yahya melepasa masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis putri angkat KH. Isma’il yang bernama Siti Khodijah.

Buah dari pernikahannya, KH. Muhammad Yahya dan Siti Khodijah dikaruniai 11 putra dan putri, sebagian besar dari mereka menjadi ulama. Sedangkan putrinya dipersunting oleh Kiai juga. Ada juga yang menjadi dosen di Universitas Negeri Malang, dan juga ada juga yang menjadi ketua MUI Kota Malang. Berikut nama-nama putra putri beliau:

  1. KH. A. Dimyati Ayatullah Yahya (1936 – 1971)

Kiai A. Dimyati meninggal 40 hari sebelum ayahnya wafat. Kiai Dimyati adalah putra tertua yang bersama ayahanda, beliau berjuang mengembangkan Pondok Pesantren Miftahul Huda dan mengasuh jama’ah Thoriqoh di Kodya dan Kabupaten Malang.

  1. KH. Abdul Adzim Amrullah Yahya (1938 – 2003)

Beliau adalah Pendiri Pondok Pesantren yaitu PP. Manba’ul Huda di Girimulyo, Kec. Karangploso Kab. Malang. KH. Abdul Adzim diberi ijazah (mandat) oleh ayahanda beliau untuk menjadi khalifah dan mursyid (guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wan Naqsabandiyah, yang bertugas membina dan membaiat thoriqoh di Malang. Mandat ini beliau terima setelah pemegang mandat sebelumnya, Kiai Dimyati wafat. Dalam Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An Nahdliyah Malang, Kyai Abdul Adzim dipercaya sebagai roisnya.

  1. Gus Abdulloh (Lahir 1940) meninggal waktu kecil.
  2. KH. Abdur Rochim Amrullah Yahya (1942 – 2010)

Beliau merupakan pengasuh generasi IV di PP. Miftahul Huda. Sebagai penerus Ayahnya. Beliau bersama saudara bertekad melestarikan apa yang dirintis dan ditetapkan oleh ayahnya, serta melakukan pengembangan positif selama tidak bertentangan dengan cita-cita dan wasiat Ayahnya. Kiai Abdur Rochim dipanggil kehadirat-Nya dengan meninggalkan tiga putri dan satu putra.

  1. KH. Abdur Rohman Yahya (Lahir 1945)

KH. Abdur Rohman bersama dengan Kiai Abdur Rochim menjadi pengasuh di PP. Miftahul Huda dan secara istiqomah memberikan pengajian kitab kuning kepada para santri dalam setiap harinya. Beliau juga diijazahi dan diberi mandat sebagai khalifah dan mursyid (guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wan Naqsabandiyah, sebagai penerus ayahnya. Dalam Idaroh An Nahdliyah Malang, Kiai Abdur Rohman dipercaya sebagai katib, dan sekarang (setelah Kiai Abdul Adzim wafat) Kiai Abdur Rohman dipercaya sebagai rois.

  1. KH. Ahmad Arif Yahya (Lahir 1948)

Kiai Ahmad Arif adalah putra ke-enam Kiai Yahya. Saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Madrasah Diniyah Matholiul Huda PP. Miftahul Huda. Sejak tahun 1978 Kiai Ahmad Arif bersama beberapa ustadz mengelola Madrasah Diniyah dengan menerapkan sistim salaf klasikal. Dalam madrasah ini beliau membagi jenjang pendidikan terdiri dari tiga tingkatan, yakni tingkat ula, wustho, dan ulya.

  1. Nyai Khodijah (Lahir 1950)

Nyai Khodijah adalah putri pertama Kiai Yahya. Beliau bersama suami, KH. M. Muchtar saat ini sedang mengasuh santri di PP. Manabi’ul Huda, Tumpukrenteng, Kec. Turen Kab. Malang.

  1. KH. Muhammad Ghozali Yahya (Lahir 1952)

Kiai Muhammad Ghozali saat ini sedang merintis dan mengembangkan pondok pesantren di Karangploso, Malang.

  1. Nyai Hj. Fatimah (Lahir 1955)

Nyai Hj. Faimah saat ini bersama suami, KH. Ubaidillah mengasuh PP. Hidayatul Mubtadi'in, Dawuan Malang.

  1. Nyai Hj. Maryam Mashrifiyah (Lahir 1958)

Nyai Hj. Maryam saat ini meneruskan perjuangan ibunda beliau Almarhumah Nyai Hj. Siti Khodijah Yahya dalam mengasuh santri putri PP. Miftahul Huda. Suami beliau, KH. M. Baidlowi Muslich, menjabat sebagai Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia Kota Malang. Saat ini Nyai Hj. Maryam beserta suami sedang merintis dan membangun Pondok Pesantren Anwarul Huda di Karang Besuki Malang.

  1. Nyai Hj. Dewi Aisyah (Lahir 1962)

Nyai Hj. Dewi Aisyah adalah putri terakhir Kiai Yahya. Bersama kakak beliau, meneruskan ibunda Almarhumah Nyai Hj. Siti Khodijah Yahya mengasuh pondok putri di PP. Miftahul Huda. Suami beliau, Drs. K.H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd menjabat Wakil Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda.

Pendidikan

KH. Muhammad Yahya sejak kecil sudah diajarkan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya. Setelah dari ayahnya, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu KH. Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah.

Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip. Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu.

Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi tempat dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri.

Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya. Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu KH. Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang.

Menjadi Pengasuh

KH. Muhammad Yahya merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Miftahul Huda atau yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren Gadingkasri Malang.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya.

Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Ke ikut sertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota.

Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di daerah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH. Abdurrahman Yahya.

Demikian pula  ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten  Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia.

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya.

Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya, diantaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas.

Menjadi Syekh Mursyidin

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH. Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.