30 Jul 2018 Β· 6.284 dibaca · Islam Nusantara
Laduni.ID, Jakarta - Dalam kehidupan keagamaan masyarakat Nusantara, sejak berabad-abad lalu hingga hari ini, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi ruang spiritual yang penuh makna. Bukan hanya ajang seremonial, melainkan sarana untuk mengenang jejak Rasulullah, meneladani akhlaknya, serta menyuburkan rasa cinta kepada beliau. Di dalamnya, doa dan shalawat selalu bergema, lalu ditutup dengan jamuan makanan yang dinikmati bersama jamaah. Demikianlah wajah Islam Nusantara yang teduh. Di dalamnya terpadu ilmu, doa, cinta Rasul, dan kebersamaan yang diwujudkan dalam hidangan penuh keberkahan.
Akan tetapi, tidak jarang selalu saja muncul kelompok yang menolak kebiasaan ini. Mereka menyebutnya bid’ah, bahkan sampai mengharamkan makanan yang disajikan di majelis peringatan keagamaan. Pandangan seperti ini, menurut KH. Ahmad Muwaffiq, adalah bentuk kesalahpahaman sekaligus cermin dari ketidaktahuan. Sebab, sejak dahulu para ulama dan masyarakat Islam justru menaruh perhatian khusus pada makanan yang telah didoakan dan dibacakan shalawat. Makanan semacam itu tidak han
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+