Pendidikan Islam Kombinasi Transfer of Knowledge dan Transfer of Spiritual

 
Pendidikan Islam Kombinasi Transfer of Knowledge  dan Transfer of Spiritual

LADUNI.IDI HIKMAH- Kita  harus mengintropeksi diri terhadap fenomena yang terjadi di lembaga pendidikan kita dewasa ini terjadinya degradasi moral dan keadaban di kalangan pelajar bahkan juga kerap menimpa sang gurunya. Mengapa para guru dipandang sedemikian rendah oleh anak bangsa saat ini? Mungkin, mereka tidak merasakan kebermanfaatan ilmu yang mereka pelajari. Atau, metode dan model pembelajaran yang tidak dimulai dari bab Adabu Mu’allim wa Muta’allim.

 Imam as-Sam’ani menceritakan bahwa majelis Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri lima ribu orang. Lima ratus orang menulis sedangkan selainnya hanya ingin melihat dan meniru adab dan akhlak Imam Ahmad.” (Siyar Alam Nubala11/316).

Imam asy-Syathibi berkata: “Walhasil, hendaklah seseorang tidak mengikuti ularna kecuali yang terpercaya menurut kaca mata syar’i. Yang selalu menegakkan hujjah, paling paham dengan hukum syar’i secara umum maupun terperinci. Maka acapkali yang diikuti tidak sesuai dengan syar’i dalam sebagian masalah, maka janganlah dijadikan hakim dan jangan ditiru kesalahannya yang menyelisihi syariat.” (al-I’thisham 1/535, Adab at-Tatalmudz hal. 42)

Dengan bahasa lain pendidikan hanya transfer of knowledge (memberikan ilmu) tanpa di iringi oleh transfer of spiritual (menanamkan moral/contoh tauladan) Atau kesalahan juga terdapat pada guru yang punya orientasi materi. Ilmu hanya sebatas seremonial dan dihargai dengan uang.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN