Hukum Shalat Sunah Rabu Wekasan

 
Hukum Shalat Sunah Rabu Wekasan
Sumber Gambar: Foto Laduni ID (ilustrasi foto)

Laduni.ID, Jakarta - Rebo Wekasan adalah istilah yang dipake oleh umat islam di Indonesia untuk menandai hari rabu terakhir di bulan Safar. Dalam sebagian pandangan ahli makrifat yang termasuk orang yang ahli mukasyafah mengatakan setiap tahun Allah SWT menurunkan bala (bencana) yang berjumlah 320.000 yang semuanya diturunkan pada hari Rabo yang terakhir di bulan Safar. Sehingga pada hari tersebut terdapat ragam ritual Rebo Wekasan umumnya dilakukan dengan cara shalat, berdoa dengan doa-doa khusus, selamatan, sedekah, silaturrahim, dan berbuat baik kepada sesama yang dilakukan baik oleh masyarakat umum dan kalangan pesantren.

Mengenai kedudukan hukum pelaksanaan shalat Rebo Wekasan sebenarnya terdapat perbedaan pandangan antara ulama fiqih dan ulama ahli tarekat. Perbedaan tersebut terletak pada niat pelaksanaan shalat tersebut. Menurut kalangan fuqaha, melakukan shalat pada hari Rabu di akhir bulan Safar dengan niat sebagai shalat Rabu Wekasan tergolong bid'ah yang haram. Sedangkan menurut kalangan ulama tarekat/sufi yang mengamalkannya mendasarkan pada kasyaf sebagian ulama yang mengatakan adanya turun bala/bencana pada hari tersebut.

Asal-usul tradisi seperti di atas bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (W. 1151 H) dalam kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf li Naf'il 'Abid wa Qam'i Kulli Jabbar 'Anid atau yang biasa disebut Mujarrabat Ad-Dairabi. Anjuran serupa juga terdapat pada kitab Al-Jawahir Al-Khams karya Syekh Muhammad bin Khathiruddin al-'Atthar (W. 970 H), Hasyiyah as-Sittin, dan sebagainya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Kekeliruan Tentang Bulan Sial

Jika niat pelaksanaan shalat sunah Rebo Wekasan diniatkan secara khusus seperti "saya niat salat Rebo Wekasan" atau "saya niat shalat safar", maka hukumnya tidak sah dan haram karena tidak ada nash sharih yang menjelaskan anjuran shalat Rebo Wekasan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam prinsip kaidah dalam kitab Tuhfah Al-Habib Hasyiyah ‘ala Al-Iqna’ karya Syekh Sulaiman Al-Bujairimi

 والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

"Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah"

Lebih lanjut ditegaskan dalam kitab I’anah Al-Thalibin mengenai shalat-shalat sunah yang diharamkan karena tidak memiliki dasar hadis yang jelas.

قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه

"Sang pengarang (Syekh Zainuddin Al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah Shalat Raghaib, 12 rakaat di antara maghrib dan isya di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir Jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya"

Namun demikian, jika pelaksanaan shalat Rebo Wekasan diniatkan shalat sunah mutlak maka hukumnya terbagi dalam dua pandangan. Menurut Hadratussyekh Hasyim Asy'ari adalah haram. Dalam pandangan Hadratussyekh Hasyim Asy'ari, anjuran shalat sunah mutlak yang ditetapkan berdasarkan hadis shahih tidak berlaku untuk shalat Rebo Wekasan, karena anjuran tersebut hanya berlaku untuk shalat-shalat yang disyariatkan. Hal ini dijelaskan dari kutipan Fatwa Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dalam kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur sebagai berikut:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

"Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab Al-Taqrib, Al-Minhaj Al-Qawim, Fath Al-Mu’in, Al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti Al-Nihayah, Al-Muhadzab dan Ihya’ Ulumuddin. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan"

Baca Juga: Niat Shalat Sunah Qudum dan Tata Caranya

Sedangkan menurut pandangan Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Maki hukumnya adalah boleh. Menurutnya solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunah mutlak. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kanz Al-Najah wa Al-Surur sebagai berikut:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

"Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Safar (Rebo Wekasan), maka barangsiapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya"

Demikian ikhtilaf hukum pelaksanaan shalat sunah Rebo Wekasan dari para ulama kita. Kita bisa mengambil pandangan yang mana saja selama tidak ada niat untuk saling meyalahkan dan saling membid'ahkan. Karena pada dasarnya iktilaf ulama dalam fiqih adalah hal yang biasa terjadi dalam sejarah peradaban Islam dan masing-masing pendapat memiliki landasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Sebagai masyarakat awam, kita patut bersyukur dan menganggap perbedaan itu sebagai rahmat bagi kita akan terbukanya ruang seluas-luasnya untuk menjalankan ritual agama tanpa keluar dari batas syariat.

Wallahu A'lam

Catatan: Tulisan ini terbit pertama kali pada tanggal 07 November 2018. Tim Redaksi mengunggah ulang dengan melakukan penyuntingan


Referensi:
1. Kitab Tuhfah Al-Habib Hasyiyah ‘ala Al-Iqna’ karya Syekh Sulaiman Al-Bujairimi
2. Kitab I’anah Al-Thalibin karya Syekh Abu Bakr bin Syatha Ad-Dimyathi
3. Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur
4. Kitab Kanz Al-Najah wa Al-Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds Al-Maki