Feodalisme di Pesantren? Membaca Ulang Tradisi, Adab, dan Keikhlasan Para Kyai Sepuh
Laduni.ID, Jakarta - Isu tentang adanya feodalisme di pesantren sesekali kembali diperbincangkan. Sebagian masyarakat melihat relasi penghormatan santri kepada kyai begitu tinggi, sehingga tampak seperti ada hierarki sosial yang kaku. Mereka melihat santri yang merunduk ketika lewat di hadapan kyai, mencium tangan, bahkan enggan duduk sejajar. Dalam perspektif yang serba modern dan egaliter, tradisi seperti itu mudah disalahpahami sebagai bentuk ketundukan berlebihan. Dianggapnya seolah-olah pondok pesantren menyimpan sistem aristokratis yang dipertahankan oleh budaya lama.
Padahal, bila dicermati lebih dalam, relasi kyai dan santri bukanlah hubungan yang dibangun atas kekuasaan atau status sosial. Pesantren tumbuh dari tradisi adab yang sudah mengakar sejak generasi salafussshalih (ulama terdahulu yang sholeh), yakni bahwa ilmu tidak hanya dipelajari melalui teks, tetapi juga dipantulkan melalui sikap. Dalam tradisi ini, guru dihormati bukan karena kedudukan duniawinya, melainkan karena mereka adalah penjaga ilmu, pembimbing akhlak, dan pemikul amanah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seorang santri berdiri hormat di hadapan gurunya bukan karena takut, tetapi karena menyadari bahwa di depannya ada mata rantai sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Bukankah feodalisme menuntut hormat karena status, sementara pesantren mengajarkan hormat karena adab? Di sini harus adil dalam memandangnya.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp31.062
Rp1.449.000
Rp431.100
Rp1.449.000
Memuat Komentar ...