Isra’ Mi‘raj: Perjalanan Agung dan Fondasi Spiritualitas Umat

 
Isra’ Mi‘raj: Perjalanan Agung dan Fondasi Spiritualitas Umat
Sumber Gambar: Ilustrasi Laduni.id

Laduni.ID, Jakarta - Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj merupakan salah satu episode paling monumental dalam sejarah kenabian Islam. Peristiwa ini bukan hanya mengundang kekaguman, tetapi juga menjadi ujian iman bagi generasi awal umat Islam. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, kemudian dinaikkan menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Sebuah perjalanan yang, bagi nalar masyarakat Quraisy kala itu, tampak mustahil dan karenanya dijadikan bahan ejekan.

Namun justru pada titik inilah makna Isra’ Mi‘raj menemukan signifikansinya. Peristiwa ini bukan sekadar kisah spektakuler, melainkan fondasi spiritual Islam, terutama melalui kewajiban Shalat. Jalaluddin as-Suyuthi, dalam karyanya Al-Isrā’ wa al-Mi‘rāj, menghimpun puluhan riwayat sahih serta pandangan para ulama lintas generasi yang menegaskan bahwa Isra’ Mi‘raj merupakan mukjizat nyata, bukan simbol atau pengalaman ruhani semata. Tradisi keilmuan Islam menerima peristiwa ini sebagai fakta iman yang diwariskan secara turun-temurun.

Al-Qur’an menegaskan peristiwa Isra’ secara eksplisit dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN