Isra’ Mi‘raj dan Logika Keimanan
Laduni.ID, Jakarta - Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW sejak dahulu hingga hari ini selalu menjadi salah satu pembahasan hangat dalam khazanah keislaman yang perlu selalu direnungkan. Di samping karena kemuliaan peristiwa tersebut, pada saat yang sama juga sebab peristiwa agung ini sering menjadi sasaran pertanyaan, bahkan keraguan. Sebagian orang yang mengukur segala sesuatu dengan timbangan logika material semata selalu mengusut kebenarannya.
Salah satu “syubhat” atau keraguan yang kerap diulang adalah soal jarak. Bagaimana mungkin Nabi SAW menempuh jarak yang begitu jauh, dari bumi ke langit, bahkan hingga melampaui tujuh lapis langit, hanya dilakukan dalam satu malam? Bukankah jarak antara bumi dan langit merupakan jarak yang luar biasa besar, yang bahkan cahaya, sebagai makhluk tercepat yang dikenal manusia, tetap membutuhkan waktu lama untuk menempuhnya?
Pertanyaan semacam ini, jika dicermati, sebenarnya lahir dari satu asumsi dasar, yakni bahwa semua peristiwa harus tunduk sepenuhnya pada hukum kebiasaan (adat) dan hukum fisika yang kita kenal. Padahal, Isra’ dan Mi‘raj sejak awal adalah peristiwa mukjizat, dan mukjizat, dalam definisinya itu sendiri adalah kejadian yang melampaui kebiasaan. Harusnya dari sini sudah bisa dipahami dan diterima dengan baik seputar peristiwa ajaib itu.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp550.000
Rp140.000
Rp77.000
Memuat Komentar ...