Puasa Ramadhan dalam Sorotan Medis

 
Puasa Ramadhan dalam Sorotan Medis
Sumber Gambar: Pinterest, Ilustrasi Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Setiap memasuki bulan Ramadhan, ruang publik dipenuhi berbagai tajuk kesehatan. Televisi menghadirkan dokter dan pakar gizi, portal berita memuat artikel ilmiah populer, sementara media sosial diramaikan testimoni tentang berat badan yang turun selama 30 hari berpuasa. Istilah seperti detoks alami, turun berat badan cepat, hingga rahasia awet muda ala Nabi menjadi narasi yang akrab di linimasa. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Namun di balik derasnya arus informasi tersebut, dunia kedokteran mengingatkan bahwa manfaat puasa perlu dipahami secara ilmiah, bukan sekadar mengikuti sensasi yang viral.

Di sisi lain, para ulama sejak berabad-abad lalu telah membahas puasa bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai sarana tazkiyatun nafs penyucian jiwa yang berdampak pada kesehatan lahir dan batin.

Media modern memang memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Ketika puasa disandingkan dengan istilah medis populer seperti intermittent fasting, pesan kesehatan menjadi semakin kuat dan mudah diterima. Banyak artikel kemudian mengaitkan puasa Ramadhan dengan riset global tentang pembatasan kalori dan perbaikan metabolisme. Salah satu rujukan yang kerap dikutip berasal dari jurnal medis bergengsi The New England Journal of Medicine edisi 2019. Dalam publikasi tersebut, peneliti saraf Mark P. Mattson menjelaskan bahwa pola makan terbatas waktu dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menekan peradangan, membantu pengaturan berat badan, serta menurunkan risiko penyakit metabolik.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN