Dari Persia dan Romawi ke Iran dan Barat: Sejarah Panjang yang Memberi Cermin Masa Kini

 
Dari Persia dan Romawi ke Iran dan Barat: Sejarah Panjang yang Memberi Cermin Masa Kini
Sumber Gambar: pinterest, ilustrasi Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Sejarah dunia mencatat bahwa kawasan Timur Tengah sejak dahulu merupakan panggung utama perebutan kekuasaan global. Salah satu konflik terpanjang dan paling melelahkan dalam sejarah adalah rivalitas antara Kekaisaran Persia (Sassanid) dan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berlangsung selama berabad-abad sejak abad ke-3 hingga awal abad ke-7 Masehi. Dalam kurun waktu itu, kedua kekuatan besar ini terlibat dalam peperangan yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti, saling menyerang, merebut wilayah, dan mempertahankan pengaruhnya di kawasan yang sama.

Sejarawan Edward Gibbon dalam karya monumentalnya, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, menggambarkan bagaimana konflik panjang ini pada akhirnya justru menguras kekuatan kedua belah pihak. Ia menulis bahwa kedua imperium tersebut “terkuras oleh permusuhan yang berkepanjangan,” sebuah gambaran yang menegaskan bahwa tidak ada pemenang sejati dalam perang yang terlalu lama berlangsung. Apa yang tampak sebagai persaingan kekuatan, pada akhirnya berubah menjadi kelelahan kolektif yang melemahkan fondasi masing-masing kekaisaran.

Kondisi ini semakin memburuk pada fase akhir perang besar antara Bizantium dan Persia pada awal abad ke-7. Dalam kajian modern, James Howard-Johnston melalui bukunya Witnesses to a World Crisis menjelaskan bahwa perang terakhir antara kedua kekaisaran itu menjadi titik kritis yang mempercepat keruntuhan. Ia menegaskan bahwa pada akhir konflik tersebut, kedua imperium telah melemah secara fatal baik dari sisi militer, ekonomi, maupun stabilitas internal. Wilayah-wilayah yang sebelumnya kuat menjadi rapuh, sementara kepercayaan rakyat terhadap penguasa mulai menurun.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN