Membaca Kembali Tulisan Ahmad Tohari, "Membingkis Ulama"

 
Membaca Kembali Tulisan Ahmad Tohari,
Sumber Gambar: Perpustakaan Jakarta, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Ketika relasi antara negara dan tokoh agama kerap diukur dari seberapa besar "amplop" dan "bingkisan" yang meluncur di momen-momen tertentu, sebuah tulisan lawas dari sastrawan besar Ahmad Tohari terasa penting kita baca kembali. Tepat 32 tahun silam, Senin 28 Maret 1994, harian Suara Merdeka Semarang memuat esai berjudul "Membingkis Ulama", sebuah kritik halus namun tajam tentang bagaimana pemberian simbolis kepada para kiai dan ulama justru berpotensi menggerus wibawa dan kemandirian mereka di hadapan kekuasaan.

Ahmad Tohari, sastrawan kelahiran 13 Juni 1948 yang dikenal luas lewat trilogi monumental Ronggeng Dukuh Paruk, memang bukan orang sembarangan dalam membaca tanda-tanda zaman. Dengan latar belakang pesantren dan pengalaman hidup yang kaya, mulai dari bangku kuliah di Fakultas Kedokteran Ibnu Khaldun, Ekonomi Unsoed, hingga FISIP Unsoed, serta kiprahnya sebagai redaktur di berbagai media nasional, Tohari selalu mampu membungkus kritik sosial dalam narasi yang halus namun mengena.

Esai "Membingkis Ulama" hadir dalam bentuk dialog santai di ruang tamu Mas Mantri, mengisahkan kegelisahan seorang santri (yang tak lain adalah Tohari sendiri) terhadap pemberian bingkisan Lebaran dari Bupati Demak kepada 116 ulama. Lewat Mas Mantri, Tohari menyuarakan sebuah pertanyaan penting, apakah pemberian barang konsumsi kepada pewaris para nabi, yang sejatinya mandiri dan terhormat, tidak justru mengubah relasi setara menjadi hirarkis, dari mitra sejajar menjadi pihak yang tersubordinasi? Pertanyaan ini, 32 tahun kemudian, masih menggelisahkan. Berikut di bawah ini disajikan salinan tulisan lengkapnya:

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN