Biografi Habib Sholeh bin Muhammad Mauladdawilah

 
Biografi Habib Sholeh bin Muhammad Mauladdawilah

Daftar Isi

1.  Riwayat Hidup dan Keluarga Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

1.1  Lahir
1.2  Riwayat Keluarga Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah
1.3  Wafat

2.  Sanad Ilmu dan Pendidikan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

2.1  Guru-guru Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

3.  Penerus Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

3.1  Anak Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah
3.2  Murid Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

4.  Perjalanan Hidup dan Dakwah Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

5.  Keteladanan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

6.  Referensi

 

1. Riwayat Hidup dan Keluarga Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

1.1. Lahir

Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah adalah Ulama Waro’ yang Sederhana , beliau dilahirkan di Singosari Malang pada tahun 1295 H atau bertepatan dengan tahun 1807 M.Beliau adalah putra Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah.

1.2 Riwayat Keluarga Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

Selama tinggal di Seiwun, beliau menikah dengan cucu Al Habib Sholeh bin Hasan Al Bahar di Sabah, buah dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai 13 anak. Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah sangat memperhatikan bidang pendidikan, terutama pendidikan putra-putrinya. Bahkan sampai mendatangkan guru As-Syekh Ali Arrohbini untuk mengajar Qiro’atul Qur’an di rumahnya di Bareng Raya, serta mengirim beberapa putranya ke Hadramaut untuk menuntut ilmu di Seiwun pada guru beliau, yakni Habib Muhammad bin Hadi Assegaf. Diantara 13 putra-putrinya yang sekarang masih ada, yakni :

  1. Habib Alwi bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, yang kini berada di Jeddah,
  2. Habib M Bakir bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah di Malang,
  3. Ali bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah yang berada di Solo.

1.3 Wafat

Beliau wafat pada hari Jum’at, 28 Ramadhan 1370 H, bertepatan dengan tahun 1950 M dalam usia 75 tahun, dan dimakamkan di pemakaman umum Kasin, Malang. Setelah beberapa hari beliau dimakamkan, beberapa pemilik rumah yang ada di sekitar pemakaman Kasin sering melihat ada cahaya yang keluar dari salah satu makam di pemakaman tersebut. Setelah diselidiki, ternyata cahaya tersebut berasal dari makam Al Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah.

2. Sanad dan Pendidikan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

Beliau diasuh dan dididik oleh kedua orang tuanya sampai menginjak usia remaja. Kemudian dibawa ayahnya ke Negeri Hadramaut, dan menetap di Kota Seiwun untuk menuntut ilmu, supaya menjadi orang alim dalam bidang hukum Islam.

2.1 Guru-guru Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

  1. Habib Muhammad bin Ali Mauladdawilah (Ayahanda Habib Sholeh)
  2. Habib Muhammad bin Hadi Assegaf (mahaguru di Kota Seiwun)
  3. Habib Ali bin Muhammad Al-habsyi (Shohibul Maulid)
  4. Habib Ahmad bin Hasan Al Attas (Shohibul Khuroidho).

3. Penerus Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

3.1. Anak-anak Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

  1. Habib Alwi bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, yang kini berada di Jeddah,
  2. Habib M Bakir bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah di Malang,
  3. Ali bin Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah yang berada di Solo.

3.2. Murid-murid Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

  1. Habib Ahmad bin Salim Alaydrus ( Menantu Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah)
  2. Al Habib Ahmad bin Hadi Al Hamid, Pasuruan.
  3. KH Abdullah bin Yasin, Pasuruan.
  4. KH. Muhsin, Blitar.
  5. Al Habib Ali bin Abdullah Mauladdawilah, Talun Lor.
  6. H. Dahlan, Wetan Pasar.
  7. KH Ahmad Damanhuri, Malang.

4. Perjalanan Hidup dan Dakwah Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

Beliau diasuh oleh kedua orang tuanya sampai menginjak usia remaja. Kemudian dibawa ayahnya ke Negeri Hadramaut, dan menetap di Kota Seiwun untuk menuntut ilmu, supaya menjadi orang alim dalam bidang hukum Islam.

Di Hadramaut, beliau belajar kepada Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, yang terkenal sebagai mahaguru di Kota Seiwun. Selain itu, juga berguru pada Habib Ali bin Muhammad Al-habsyi (Shohibul Maulid) dan kepada Al Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas (Shohibul Khuroidho).

Berkat kecerdasan dan inayah dari Allah SWT, maka beliau berhasil dalam menuntut ilmu, seperti apa yang dicita-citakan ayahnya. Diantara teman-teman beliau yang seangkatan dalam menuntut ilmu itu adalah As-Syekh Abdurrahman bin Muhammad Baraja yang menjabat sebagai Qodhi di Kota Seiwun. Sekembalinya ke Malang, beliau giat mengadakan pengajian-pengajian, termasuk di Kidul Pasar.

Perintis berdirinya Madrasah Attaraqqie, yang mengajar di beberapa masjid, dan majelis ta’lim. Habib Ahmad bin Salim Al-Aydrus, menantu Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, pernah mengatakan, "Beliau merupakan salah satu perintis Madrasah Attaraqqie, dan sempat juga mendatangkan Al Ustadz Abdul Kadir bin Ahmad Bilfaqih dari Surabaya sekitar tahun 1940-an untuk mengajar, dan menjadi Kepala Madrasah Attaraqqie."

Diantara santri beliau yang terkenal adalah:

  1. Habib Ahmad bin Salim Alaydrus ( Menantu Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah)
  2. Al Habib Ahmad bin Hadi Al Hamid, Pasuruan.
  3. KH Abdullah bin Yasin, Pasuruan.
  4. KH. Muhsin, Blitar.
  5. Al Habib Ali bin Abdullah Mauladdawilah, Talun Lor.
  6. H. Dahlan, Wetan Pasar.
  7. KH Ahmad Damanhuri, Malang.

Amalan beliau sehari-hari yang menonjol adalah dzikrulloh. Diwaktu apapun saja, beliau selalu berdzikir kepada Allah SWT. "Hendaknya lisanmu itu selalu basah karena gerak dengan berdzikir kepada Allah." Selain itu, dalam hidupnya suka beramal, terutama pada fakir miskin, anak yatim, dan famili-familinya. "Dalam hidupnya, beliau juga sangat sederhana dan berlaku waro’, dengan meninggalkan semua perkara yang syubhat (meragukan), yang tidak jelas halalnya. Perbuatannya selalu dijaga benar-benar dan disesuaikan dengan hukum syariat Islam," tutur Habib Ahmad, yang juga kakak kandung Habib Alwy bin Salim Al-Aydrus.

Salah satu bukti yang menunjukkan kepadatan ilmu beliau, pada waktu di majelis ilmu Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik,, ada seorang peserta majelis dari Malang menanyakan suatu masalah kepada Al Habib Abubakar. Setelah dijawab masalah tersebut, lalu Al Habib Abubakar berkata, bila ada masalah lagi, tidak perlu datang ke Gresik, cukup ditanyakan kepada seorang alim di Malang, yaitu Al Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah.

Ada beberapa karomah Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, diantaranya sewaktu Gunung Kelud di Blitar meletus dan terjadi lahar. Waktu itu beliau sedang mengajar di sebuah masjid. Atas Rahmat dan takdir Allah SWT masjid tersebut tidak roboh dan tidak tersentuh aliran lahar dari Gunung Kelud. Demikian juga dengan jamaah pengajian yang berada di dalam masjid selamat. Padahal rumah-rumah di sekitar masjid roboh dan hanyut terkena aliran lahar. Bahkan sandal Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah, yang semula hanyut terbawa lahar, setelah banjir lahar reda sandal tersebut kembali lagi ke depan pintu masjid.

5. Keteladanan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah

Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah adalah sosok yang giat mengadakan kajian-kajian atau pengajian-pengajian rutin setelah sekembalinya beliau dari hadramaut. Kegiatan ini beliau lakukan tanpa mengenal lelah dan terus menerus. Kesabaran, ketelatenan dan ketekunan beliau dalam membimbing jamaah yang membuat semakin banyak yang hadir dalam Pengajian-pengajian yang diadakan oleh Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah.

Bahkan Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah juga mencetuskan untuk mendirikan sebuah Madrasah untuk mengembangkan dakwah Islam dan memberikan Pendidikan kepada generasi muda di bidang Agama Islam.

 Amalan beliau sehari-hari yang menonjol adalah dzikrulloh. Diwaktu apapun saja, beliau selalu berdzikir kepada Allah SWT. "Hendaknya lisanmu itu selalu basah karena gerak dengan berdzikir kepada Allah." Selain itu, dalam hidupnya suka beramal, terutama pada fakir miskin, anak yatim, dan famili-familinya. "Dalam hidupnya, beliau juga sangat sederhana dan berlaku waro’, dengan meninggalkan semua perkara yang syubhat (meragukan), yang tidak jelas halalnya. Perbuatannya selalu dijaga benar-benar dan disesuaikan dengan hukum syariat Islam.

Salah satu bukti yang menunjukkan kepadatan ilmu beliau, pada waktu di majelis ilmu Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik, ada seorang peserta majelis dari Malang menanyakan suatu masalah kepada Al Habib Abubakar. Setelah dijawab masalah tersebut, lalu Al Habib Abubakar berkata, bila ada masalah lagi, tidak perlu datang ke Gresik, cukup ditanyakan kepada seorang alim di Malang, yaitu Al Habib Sholeh bin Muhammad bin Ali Mauladdawilah.

6. Referensi

Diambil dari berbagai sumber

 

Semoga Beliau mendapatkan Tempat yang Mulia Disisi NYA. Aamiin.
Lahul Al Fatihah

 

Catatan : Tulisan ini terbit pertama kali pada tanggal 27 Juli 2016
Tim Redaksi mengunggah ulang dengan melakukan revisi di beberapa bagian.
Editor  : Achmad Susanto

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya