Biografi KH Abdul Hamid Baidlowi

 
Biografi KH Abdul Hamid Baidlowi

Kelahiran

Abdul Hamid Baidlowi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem lahir di Lasem pada tanggal 30 Desember 1945. Beliau putra KH. Baidlowi Lasem, yang merupakan salah seorang pendiri NU. KH. Baidlowi juga merupakan Rais al-Akbar Thariqah NU se-Indonesia, sekaligus sebagai pencetus gagasan status Presiden RI Ir. H. Soekarno sebagai “Waliyyul Amri ad-Dharuri bi as-Syaukah” pada saat Indonesia dalam keadaan  genting, yaitu berupa krisis kepemimpinan nasional yang terancam dengan adanya pemberontakan di berbagai daerah.

Nasab KH. Abdul Hamid sendiri apabila diurutkan berdasarkan silsilah secara lengkap, maka akan sampai pada Ki Joyotirto, selanjutnya sampai Mbah Sambu keturunan Pangeran Benawa putra Jaka Tingkir atau Sultan Pajang.

Pendidikan

Adapun pendidikan beliau di masa muda adalah dimulai dari Pondok Pesantren Al-Wahdah Lasem, kemudian melanjutkan di Pondok Tebuireng Jombang. Setelah itu, beliau kembali menimba ilmu di Pesantren Sarang Kabupaten Rembang. Dan pada akhirnya, beliau menempuh pendidikan di Makkah al-Mukarramah.

Setelah kepulangan beliau dari Makkah, Kiai Hamid kemudian menikah dengan Ning Jamilah alumnus Pesantren Al-Hidayat Lasem.

Kiprah Kiai Hamid

PP. Al-Wahdah Lasem yang berada di bawah asuhannya pernah menjadi tuan rumah Kongres PP. IPNU-IPPNU, tepatnya ketika beliau menjabat ketua PCNU Lasem. Beliau juga memiliki peran dalam konsolidasi lahan dan pembangunan lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif yang terdiri dari MA NU, SMP NU dan SMK NU yang berdiri cukup megah. Kemudian dalam perkembangannya dilanjutkan oleh PCNU periode setelahnya di bawah kepemimpinan KH. Rogib Mabrur dan KH M. Zaim Ahmad Ma’shoem.

Secara tidak langsung, dibawah pengaruh beliau selama bertahun-tahun stabilitas Kota Lasem dan sekitarnya kondusif. Sebagai contoh adalah penutupan Bupati  Rembang atas megaproyek Stakong, atas dasar penolakan warga setempat dan berbagai elemen umat Islam. Yang mana megaproyek tersebut rencana akan dibangun di tengah-tengah mayoritas komunitas muslim. Apalagi kondisi pembangunan lembaga Islam di sekitarnya masih berbenah. Beliau juga berjasa atas berdirinya Masjid megah Al-Khitthah, Tulis, Lasem.

Selain itu, Kiai Hamid tercatat sebagai Anggota DPA RI tahun 1998-2004. Kedudukan beliau sebagai penasihat presiden dalam kapasitas dirinya sebagai ulama, berjalan sejak masa kepresidenan Prof. Ir. B.J. Habibie, KH. Abdurrahman Wahid, Megawati sampai pada Susilo Bambang Yudhoyono. Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa berbagai pertimbangan beliau bagi pembangunan Indonesia menorehkan tinta emas yang dicatat dalam berita acara lembaran negara.

Kiai Hamid merupakan seorang orator dan politisi yang penuh kharismatik dan unik. Ketokohannya sudah diakui sampai di tingkat nasional, seperti yang disampaikan oleh KH. Maemun Zubair Sarang dalam menilai adik iparnya itu. Kepiawaian dan kelincahan beliau dalam berbagi bidang, sering membuat bingung lawan, bahkan kadang kawannya sendiri.

Ketika di masa muda, beliau sempat menjabat sebagai pimpinan PCNU Lasem selama beberapa tahun. Di kalangan NU, dan ormas Islam lainnya, beliau sangat disegani. Hal itu tidak terlepas dari kewibawaan, keberanian, keteguhan dan kealiman beliau sebagai ahli hadis.

Kewafatannya

Tepatnya pada hari Ahad, tanggal 15 Juni 2014 atau bertepatan dengan tanggal 17 Sya’ban 1435 H, beliau berpulang ke rahmatullah. KH. Musthofa Bisri, Rais Am PBNU setelah menjadi imam shalat jenazah di Masjid Jami’ Lasem, menyatakan bahwa almarhum sebagai ulama yang sangat teguh memegang prinsip, serta hatinya juga sangat lembut.

 

 

 

 

 

Bagi masyarakat Rembang, nama KH Abdul Hamid Baidlowi sudah tidak asing lagi. Banyak warga yang mengenal namanya karena beliau merupakan putra ulama besar asal Lasem, KH Baidlowi (almarhum) yang semasa hidupnya pernah menjadi Rais Akbar Tariqah Se-Indonesia.

Selain itu, ayah KH Abdul Hamid Baidlowi merupakan pencetus waliyul amri addlaruri bissyaukah, gelar yang diberikan kepada Bung Karno, presiden pertama RI. Bahkan kiai itu masuk dalam catatan sejarah, karena ikut andil dalam mendirikan NU.

Namun, ketenaran KH Hamid Baidlowi bukan hanya karena pengaruh kebesaran nama orang tuanya. Yang jelas, kiai itu sejak kecil suka bergaul, baik di dalam masyarakat maupun organisasi, terutama yang berkaitan dengan pengembangan Islam.

Apalagi setelah dewasa, namanya makin dikenal oleh masyarakat luas karena kiprahnya dalam dunia politik, terutama saat NU masih menjadi partai politik.

Pada zaman Orde Baru, nama KH Hamid Baidlowi juga sering muncul di koran-koran, baik koran daerah maupun nasional. Sebab, pada saat itu dia berani terang-terangan masuk jajaran pengurus PBNU pimpinan Abu Hasan yang merupakan tandingan PBNU pimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Karena kiprahnya dalam dunia politik, kediaman pengasuh Pondok Pesantren Al Wahdah itu sering dikunjungi pejabat tingkat nasional. Antara lain Sudharmono (saat menjabat wapres/Ketua Umum DPP Golkar), H Harmoko saat menjabat Menteri Penerangan, bahkan Akbar Tanjung dan Munawir Sadjzali.

KH. Abdul Hamid Baidlowi juga pernah menyampaikan sebuah makalah ilmiah pada acara pertemuan Ulama dan Habaib di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Jakarta pada tanggal 14 Rajab 1416 H/ 7 Desember 1995 M. yang berjudul: “Kritik Terhadap Gus Dur dan Sa’id Aqil” dan makalah beliau yang berjudul: “Menyiasati Bahaya Syi’ah di Kalangan Nahdlatul Ulama di penghujung Abad Ini” yang disampaikan pada acara sarasehan IPNU-IPPNU cabang Jombang pada tanggal 1 Shafar 1417 H/ 17 Juni 1996 M.

Makalah tersebut hadir di saat umat Islam mulai resah atas bahaya pemikiran Gus-Dur yang pada saat itu berkapasitas sebagai Ketua Umum organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan membongkar kerancauan ideologi Syi’ah Rafidloh yang dipasarkan lewat pemikiran Said Aqil Siradj yang pada saat itu menjabat Katib Am Nahdlatul Ulama. Mereka mencoba menyesatkan umat Islam dari ajaran yang benar, ajaran yang bertentangan dengan nash-nash al-Quran, Sunnah Rasul dan ajaran-ajaran Salafussholih.

Saat ini, KH Abdul Hamid Baidlowi kini menghabiskan masa senjanya dengan mengasuh putra-putri didiknya di Pondok Pesantren Al-Wahdah, Lasem, Rembang.