Biografi H. Hasan Gipo

 
Biografi H. Hasan Gipo

Daftar Isi Profil H. Hasan Gipo

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
  4. Melawan PKI

 

Kelahiran

Hasan Basri atau yang kerap disapa dengan panggilan H. Hasan Gipo dilahirkan di Kampung Sawahan pada tahun 1869, tepatnya di Jalan Ampel Masjid, yang kini menjadi Jalan Kalimas Udik. Beliau merupakan keturunan keluarga besar dari “Marga Gipo” sehingga nama Gipo diletakkan di belakang nama Hasan. Nama Gipo sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Sagipodin dari bahasa Arab Saqifuddin, Saqaf (pelindung) dan al-dien (agama).

Jika diruntut silsilahmya beliau tersebut, H. Hasan Gipo masih mempunyai hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansur karena KH. Mas Mansur (Muhammadiyah) masih keturunan dari Abdul Latief Gipo yang merupakan salah seorang dari marga Gipo tersebut. Dari beberapa keterangan tersebut, bisa ditarik pemahaman juga bahwa keturunan Sagipodin mempunyai akar kuat di Kalangan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah.

Apabila ditelusuri melalui jalur silsilah keluarga, didapati bahwasannya beliau merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo. Ayahnya bernama H. Marzuki, kakeknya H. Alwi, buyutnya bernama H. Turmudzi yang memperistri Darsiyah. Canggahnya Abdul Latief Sagipuddin merupakan awal dinasti Gipo yang memperistri Tasirah dan memiliki 12 anak. Dari silsilah itulah kita jumpai seorang Hasan Basri di Ampel yang berpusat di kota Surabaya dan lebih akrab dipanggil dengan H. Hasan Gipo.

Beliau yang terlahir dari kalangan ekonomi mapan, berhasil mengenyam pendidikan ala Belanda, tanpa mengesampingkan pendidikan kepesantrenanya, jiwa-jiwa santri juga mendarah daging di urat nadinya. Terbukti kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dijabat oleh dinasti Gipo hingga masa jabatan H. Hasan Gipo.

Wafat

H. Hasan Gipo wafat pada tahun 1934, jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin.

Sebelumnya, sejarah tentang KH. Hasan Gipo sempat hilang dari peradaban NU. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi, namun semua telah kembali sebagaimana mestinya. Pada Agustus 2015, Ketua Ikatan Keturunan Sagipodin (IKSA) Jatim H Wachid Zein serta pihaknya menemukan makam KH. Hasan Gipo setelah melakukan berbagai ikhtiar, termasuk menelusuri keturunannya di Gresik.

Dari beberapa keturunannya juga ditemukan beberapa dokumen penting salah satunya adalah foto mungil berukuran 3×4 yang terpasang pada SK Pengesahan Pemerintah Hindia Belanda, yang dulu bernama bernama Statueten HBNO 1926, lengkap beserta tulisan jabatannya yaitu Ketua Tanfidziyah.

 

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

Penunjukan H. Hasan Gipo sebagai  Ketua Tanfidziyah NU Pertama mendapati perlakuan khusus, seperti halnya terbentuknya NU waktu itu. pasalnya sosok H. Hasan Gipo ini merupakan sosok yang limited edition, dimana beliau menguasai ilmu umum yang didapatinya sewaktu mengenyam pendidikan di Belanda dan juga beliau dikenal sebagai satu-satunya orang dari komunitas KH. Wahab Hasbullah yang cakap dan terampil dalam membaca dan menulis tulisan latin. Beliau pun akrab dengan masyarakat di sekelilingnya.

Pemilihan H. Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah mulanya berawal dari musyawarah kecil pembentuk pengurus NU yang hanya melibatkan sebagian tokoh-tokoh dari daerah Ampel, Kawatan, Bubutan, dan daerah sekitar semuanya dari Surabaya. Dalam forum musyawarah itulah disebutkan nama H. Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah yang pertama.

Meskipun pada masa itu, Nahdlatul Ulama masih berbentuk embrio dimana tokoh utama yang menjadi Rois Syuriah NU adalah KH. Said dari Paneleh, Surabaya. KH. Hasyim Asya’ri dipilih sebagai Rois Akbar Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) dengan KH. Wahab Hasbullah sebagai Katib ‘Am. H. Hasan Gipo menjabat kurang lebih 3 tahun dan pada muktamar ke-3 di Semarang KH. Noor dari Sawah Pulo, Surabaya menggantikanya.

Sebagai ketua Tanfidziyah, beliau bersama KH. Hasyim Asya’ri, NU menunjukan diri sebagai gerakan sosial yang lebih dari sekedar usaha mempertahankan tradisi dari serangan kaum modernis, terutama yang tinggal di Surabaya pada tahun 1910-an yang didalangi oleh pedagang Minangkabau bernama Faqih Hasyim.

Hasan Gipo selain menjadi aktivis pergerakan juga menjadi seorang pedagang yang tinggal di kawasan elite Surabaya, dan hal itu sangat membantu pergerakan Kiai Wahab dan beliau yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui aktivis pergerakan di Surabaya seperti HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo dan disitulah beliau Kiai Wahab dan Hasan Gipo berkenalan dengan Soekarno, Kartosuwiryo, Muso, SK Trimurti yang merupakan murid dari HOS Cokroaminoto sehingga disitulah para aktivis mulai merencanakan kemerdekaan Indonesia.

Melawan PKI

Hasan Gipo adalah orang yang enerjik, cekatan dan pemberani, pasalnya beliau pernah melabrak Muso (tokoh PKI) karena jengkel dengan kebanggaanya terhadap atheis, yang kemudian beliau menantang Muso untuk membuktikan adanya Tuhan dengan berdiri di atas rel kereta api di Krian (antara Surabay-Mojokerto) hingga kereta datang menabrak mereka berdua.