H Hasan Gipo Ketua Tanfidziyah PBNU Surabaya Jawa Timur
Dirangkum dari 14 sumber terverifikasi · lihat sumberRiwayat Singkat
Daftar Isi Profil H. Hasan Gipo
Kelahiran
KH. Hasan Basri atau yang kerap disapa dengan panggilan H. Hasan Gipo dilahirkan di Kampung Sawahan pada tahun 1869, tepatnya di Jalan Ampel Masjid, yang kini menjadi Jalan Kalimas Udik. Beliau merupakan keturunan keluarga besar dari “Marga Gipo” sehingga nama Gipo diletakkan di belakang nama Hasan. Nama Gipo sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Sagipodin dari bahasa Arab Saqifuddin, Saqaf (pelindung) dan al-dien (agama).
Jika diruntut silsilahmya beliau tersebut, H. Hasan Gipo masih mempunyai hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansur karena KH. Mas Mansur (Muhammadiyah) masih keturunan dari Abdul Latief Gipo yang merupakan salah seorang dari marga Gipo tersebut. Dari beberapa keterangan tersebut, bisa ditarik pemahaman juga bahwa keturunan Sagipodin mempunyai akar kuat di Kalangan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah.
Apabila ditelusuri melalui jalur silsilah keluarga, didapati bahwasannya beliau merupakan generasi kelima dari dinasti Gipo. Ayahnya bernama H. Marzuki, kakeknya H. Alwi, buyutnya bernama H. Turmudzi yang memperistri Darsiyah. Canggahnya Abdul Latief Sagipuddin merupakan awal dinasti Gipo yang memperistri Tasirah dan memiliki 12 anak. Dari silsilah itulah kita jumpai seorang Hasan Basri di Ampel yang berpusat di kota Surabaya dan lebih akrab dipanggil dengan H. Hasan Gipo.
Beliau yang terlahir dari kalangan ekonomi mapan, berhasil mengenyam pendidikan ala Belanda, tanpa mengesampingkan pendidikan kepesantrenanya, jiwa-jiwa santri juga mendarah daging di urat nadinya. Terbukti kepemimpinan ekonomi di kawasan bisnis Pabean masih dijabat oleh dinasti Gipo hingga masa jabatan H. Hasan Gipo.
- Baca juga: Presiden Pertama NU Adalah KH Hasan Gipo
Wafat
H. Hasan Gipo wafat pada tahun 1934, jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel dalam pemakaman khusus keluarga Sagipoddin.
Sebelumnya, sejarah tentang KH. Hasan Gipo sempat hilang dari peradaban NU. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi, namun semua telah kembali sebagaimana mestinya. Pada Agustus 2015, Ketua Ikatan Keturunan Sagipodin (IKSA) Jatim H Wachid Zein serta pihaknya menemukan makam KH. Hasan Gipo setelah melakukan berbagai ikhtiar, termasuk menelusuri keturunannya di Gresik.
Dari beberapa keturunannya juga ditemukan beberapa dokumen penting salah satunya adalah foto mungil berukuran 3×4 yang terpasang pada SK Pengesahan Pemerintah Hindia Belanda, yang dulu bernama bernama Statueten HBNO 1926, lengkap beserta tulisan jabatannya yaitu Ketua Tanfidziyah.
Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
Penunjukan H. Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah NU Pertama mendapati perlakuan khusus, seperti halnya terbentuknya NU waktu itu. pasalnya sosok H. Hasan Gipo ini merupakan sosok yang limited edition, dimana beliau menguasai ilmu umum yang didapatinya sewaktu mengenyam pendidikan di Belanda dan juga beliau dikenal sebagai satu-satunya orang dari komunitas KH. Wahab Hasbullah yang cakap dan terampil dalam membaca dan menulis tulisan latin. Beliau pun akrab dengan masyarakat di sekelilingnya.
Pemilihan H. Hasan Gipo sebagai Ketua Tanfidziyah mulanya berawal dari musyawarah kecil pembentuk pengurus NU yang hanya melibatkan sebagian tokoh-tokoh dari daerah Ampel, Kawatan, Bubutan, dan daerah sekitar semuanya dari Surabaya. Dalam forum
Sebagian bacaan ini khusus anggota Laduni+. Buka biografi lengkap, karya, sanad & silsilah — plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja.
Mulai Rp20.000/bulan — full artikel, silsilah, hadis & asbabul wurud penuh, unduh PDF, dan Laduni AI bersanad. Tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.

