Biografi KH. Zubair Gresik

 
Biografi KH. Zubair Gresik

Sekilas Biografi

Beliau adalah mukhtasyar NU pada tahun 1924, yang diangkat langsung oleh KHM. Kholil, Bangkalan, Madura. Semasa hidupnya, beliau pernah menuntut ilmu di Mekah selama 30 tahun. Ketika berumur sekitar 5 tahun, ayah beliau pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, Zubair kecil dipondokkan dan ayah beliau berpesan kepada ulama yang menjadi Guru Zubair kecil agar Zubair jangan pulang ke Indonesia sebelum diizinkan oleh gurunya.

Demikianlah latar belakang mengenai lamanya beliau menimba ilmu agama di Mekah. Pada suatu musim haji, ada seorang hartawan dari Gresik yang datang ke Mekah untuk memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji. Saat itu ia mendatangi guru dari KH. Zubair, ia sampaikan niatnya bahwa disamping ia datang ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, ia juga mempunyai niat agar bisa mendapatkan calon suami untuk anaknya yang tinggal di Indonesia (Gresik).

KH. Zubair dipanggil oleh gurunya dan menanyakan apakah dia bersedia diajak pulang ke Indonesia (Gresik) dan selanjutnya menjadi menantu dari seorang jama'ah haji yang berasal dari Gresik (KH. Zubair sendiri berasal dari Demak-pen). KH. Zubair menyetujui apa yang disampaikan oleh gurunya tersebut. Setelah tiba di Gresik, disamping mengajarkan ilmu agama Allah pada keluarga beliau, KH. Zubair juga mendirikan pondok pesantren, dan sampai saat ini pondok pesantren tersebut masih terus dijadikan tempat menimba ilmu oleh masyarakat sekitarnya. KH. Zubair wafat pada tahun 1926.

Karomah KH. Zubair:

Berada di dua tempat pada waktu bersamaan

Pada suatu ketika, KH. Zubair diminta untuk menjadi khotib sholat jum'at pada waktu yang bersamaaan, yaitu: di masjid jamik Gresik dan di masjid Giri. Beliau ditolong Allah dalam memenuhi permintaan dari kedua pengurus masjid tersebut. Setelah sholat jum'at selesai dilaksanakan, para ja'maah dari kedua masjid merasakan adanya kejanggalan karena orang-orang yang melaksanakan sholat jum'at di masjid Gresik berkata bahwa yang menjadi imam dan khotib di tempatnya adalah KH. Zubair, demikian juga orang-orang yang melaksanakan sholat num'at di masjid Giri, mereka tidak percaya bahwa yang menjadi imam dan khotib di masjid jamik Gresik adalah KH. Zubair, mereka tahu sendiri bahwa di masjid Giri, yang menjadi imam dan khotib adalah KH. Zubair.

Karena kedua belah pihak merasa sama-sama benar akhirnya mereka sowan ke tempat KH. Zubair dan menanyakan seputar kejadian yang mereka pertentangkan, KH. Zubair menjawab pertanyaan kedua belah pihak yang berselisih pendapat itu dengan tersenyum, dan dari cara menjawab KH. Zubair tersebut akhirnya masyarakat mengerti bahwa hal itu tidak usah diperdebatkan karena bagi Allah tidak ada yang mustahil, dan mereka pun percaya bahwa yang menjadi imam dan khotib di masjid jamik Gresik dan masjid Giri pada saat yang bersamaan adalah KH. Zubair.

Murid dari golongan jin
Santri KH. Zubair tidak hanya dari golongan manusia, tetapi juga dari golongan jin.

Amalan:

KH. Zubair memberikan sodaqoh kepada para janda tua dan anak-anak yatim setiap hari. Ketika para janda tua dan para anak yatim membuka pintu mereka guna melaksanakan sholat shubuh di mushola ataupun di masjid, mereka selalu menemukan sejumlah uang di depan pintu rumah . Kejadian itu berlangsung sampai jarak sekitar 200 meter dari rumah kediaman KH. Zubair. Masyarakat saling bertanya siapakah yang menaruh uang tersebut, dan tidak ada yang pernah mengetahui siapakah orang dermawan itu, dan barulah setelah KH. Zubair wafat, para janda tua dan anak yatim yang hendak melaksanakan sholat shubuh, mereka tidak lagi menemukan uang di depan pintu-pintu mereka, dan saat itulah mereka meyakini bahwa ternyata orang dermawan yang menaruh uang di depan pintu-pintu mereka selama ini adalah KH. Zubair.