Biografi KH Ahmad Umar Abdul Mannan Mangkuyudan

 
Biografi KH Ahmad Umar Abdul Mannan Mangkuyudan

Riwayat dan Keluarga
KH Ahmad Umar Abdul Mannan
adalah kiai kharismatik dan salah Salah satu maqbaroh Kiai yang terkenal dengan kewaliannya di Kota Solo. Kiai Umar juga pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan pada tahun 1947. KH Ahmad Umar lahir pada hari Sabtu Pahing, 5 Agustus 1916 dari pasangan KH Abdul Mannan dan Nyai Zaenab.

Masa Pendidikan
Selain kepada orang tuanya, KH Ahmad Umar berguru kepada Prof. KH Mohammad Adnan (Den Kaji). Selanjutnya, ia masuk sekolah formal “Al-Islam” pimpinan Kiai Ghazali. Kemudian ia pindah ke Pondok Pesantren Termas, Arjosari, Pacitan, di bawah asuhan KH Dimyathi Abdullah. Di pesantren ini, saat usianya 15 tahun (1931—1934), KH Ahmad Umar berhasil menghafal Al-Qur'an 30 juz serta berteman dengan Kiai Abdul Hamid Pasuruan dan Kiai Muntaha Wonosobo.

Dari Termas ia melanjutkan belajar Al-Qur'an kepada KH R. Muhammad Munawwir di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta selama dua tahun dan mendapat sanad tahfiz. Pada tahun 1936 ia belajar kepada KH Zaenuddin di Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk, Jawa Timur.

Menjadi Pengasuh Pesantren
Sejak tahun 1937 KH Ahmad Umar mengajar Al-Qur'an di Pesantren al-Muayyad yang dirintis pada tahun 1930 oleh ayahnya (KH Abdul Mannan), KH Ahmad Shofawi, dan Prof. KH Mohammad Adnan. Pembelajaran Al-Qur'an di pesantren ini dipadu dengan Madrasah Diniyah (1939), Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Pertama (1970), Madrasah Aliyah (1974), serta Sekolah Menengah Atas (1992).

Metode Pengajaran
KH Ahmad Umar terkenal dengan julukan “Pendiam yang Waspada”. Ia sangat patuh dengan perintah gurunya, sangat memperhatikan akhlak, dan menyayangi murid-muridnya. Ia tidak menghukum santri-santrinya yang nakal, justru mendoakan mereka agar kelak menjadi ulama yang saleh. Dalam memberikan sanad tahfiz kepada santri ia sangat selektif.

Selain mempertimbangkan kesahihan, kelancaran, dan kefasihan bacaan, memperhatikan pula akhlak santri yang akan diberi sanad. Lebih dari itu, sebelum memberikan sanad kepada santrinya ia terlebih dahulu melakukan salat istikharah meminta petunjuk kepada Allah. Oleh karena itu, meskipun ribuan santri yang menghafal Al-Qur'an kepadanya, hanya sedikit yang berhasil mendapatkan sanad.

Di antara santri yang mendapatkan sanad dari KH Ahmad Umar adalah Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad.

Para santri KH Ahmad Umar Abdul Manan yang mengabdi di masyarakat, antara lain:

1. KH M. Salman Dahlawi (PP Al-Manshur Popongan Tegalganda Klaten)
2. KH Luqman Suryani (PP Suryani Sraten, Serengan Surakarta)
3. KH Ma‘shum Ahmad (PP. Miftahul Huda, Ketegan Tanggulangin, Sidoarjo)
4. Ny. Hj. Istijabah (PP Al Imam, Wonokromo, Plered, Bantul, Yogyakarta)
5. KH Drs. Ahmad Baidlowi Syamsuri, Lc (PP Sirajuth Tholibin Brabo, Kedungjati, Grobogan)
6. KH M. Kholil (PP al-Ma‘ruf Bandungsari, Grobogan)
7. KH Habib Ihsanuddin (PP Doglo Candi Gatak Cepogo, Boyolali)
8. KH Naharussurur, BA (PP Ta‘mirul Islam, Tegalsari Bumi, Surakarta)
9. KH Chamdani Mawardi (PP Madrasatul Qur'an, Mojo Andong, Boyolali)
10. KH Muntaha (PP Roudlotul Furqon, Kebumen, Bayubiru, Semarang)
11. KH Muharror Ali (PP Khozinatul Ulum, Jl. Mr. Iskandar Kaliwangon, Blora)
12. KH Drs. Muchsin Yunus (PP Az Zahro, Penanggulan Pegandon, Kendal)
13. KH A. Thonthowi Jauhari, MA (PP Al-Musadaddiyah, Garut)
14. KH Noer Muhammad Iskandar, SQ, MA (PP ash-Shiddiqiyyah, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat)
15. KH Drs. Badawi Ibnu Umar (PP al-Ishlah Singosari, Malang)
16. KH Rohmat  Efendi (PP al-Mumajjad Tempursari Karangawen, Klaten)
17. KH Abdul Mu‘thi Dimyathi (PP Manbaul Hisan, Sitibentar Mirit, Kebumen)
18. KH Muhammad Adnan (PP al-Barokah, Sambeng Gunting Wonosari, Klaten)
19. KH M. Thoha Musthofa (PP al-Mustajabah, Nusukan, Surakarta)
20. KH Dr. Ahsin Sakho Muhammad (Rektor IIQ, Jakarta)
21. KH Drs. Muntaha Azhari, MA (Pembantu Rektor III Institut PTIQ, Jakarta).

 

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber