Wisata Religi dan Berdoa di Makam Keramat Guru Mughni Jaksel

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp0. Donasi Sekarang
 
Wisata Religi dan Berdoa di Makam Keramat Guru Mughni Jaksel

Sekilas Sejarah

KH. Muhammad Mughni bin Sanusi bin Qais atau sering di sebut dengan nama Guru Mughni. Beliau tinggal di Kuningan Jakarta Selatan pada masa penjajahan Belanda.

Asal-usul kampung Kuningan di Jakarta Selatan sebenarnya berasal dari Kuningan (termasuk wilayah Karesidenan Cirebon di zaman penjajahan Belanda) di tataran Pasundan. Ketika pasukan Raden Fatahillah dari Kesultanan Cirebon akan menyerang Portugis yang ingin menguasai Sunda Kelapa, juga berperan serta Adipati Cangkuang atau Pangeran Kuningan yang ikut berperang.

Pangeran Kuningan juga dikenal sebagai pendiri Masjid Al Mubarak, masjid pertama di daerah Kuningan dan menjadi ulama pertama yang mengembangkan serta mendakwahkan ajaran Agama Islam di daerah tersebut.

Ketika lahir, belum nampak keistimewaan dari Guru Mughni. Beliau lahir ketika wilayah Nusantara masih dalam penjajahan Belanda. Pada tahun 1860 M, Mughni kecil lahir sebagai anak paling bungsu dari empat bersaudara. Lahir dari keluarga kaya pada saat itu. Walau demikian, Haji Sanusi tidak melalaikan pendidikan ajaran agama islam, beliau mendidik anak-anaknya dengan sungguh-sungguh tentang ilmu agama Islam. Sehingga Mughni kecil dan kakak-kakaknya selepas berdagang, mereka harus mengaji. Sehingga aktivitas sehari-hari dari keluarga Haji Sanusi ini selalu diisi oleh norma-norma Islam secara menyeluruh, aqidah ditanamkan secara kuat kepada anak-anaknya.

Menginjak usia sekitar 7 tahun. Haji Sanusi melihat ada tanda-tanda kecerdasan pada anaknya, memiliki kharisma dan kepribadian yang berbeda dari kakak-kakaknya. Sehingga timbullah keinginan H.Sanusi untuk benar-benar menyekolahkan putra bungsunya ini ke Mekkah, yang saat itu merupakan sumber dari berbagai ilmu pengetahuan khususnya agama Islam.

Pada usia 18 tahun, Mughni remaja berangkat ke Mekkah untuk menimba ilmu kurang lebih selama 9 tahun. Sejarah mencatat bahwa Guru Mughni melebihi kecerdasaan dari teman-teman sepermainannya ketika itu. Saat di Mekkah, maka mulailah, Mughni remaja belajar berbagai ilmu kepada halaqah para ulama di Mekkah. Dikabarkan oleh cicitnya (Amirah Nahrawi) bahwa tidak ada satu majelis pun yang yang tidak diikuti mughni. Dan tidak ada satu gurupun yang tidak ia tanyai tentang berbagai ilmu pengetahuan. Semua ilmu dilahap oleh Mughni. Bahkan ada berbagai kisah yang menyatakan bahwa walaupun Guru Mughni sudah mengetahui suatu jawaban dari suatu hukum atau ilmu, tapi karena kecintaannya kepada guru-gurunya, dia sering mengulang-ulang dalam bertanya berbagai disiplin ilmu tersebut. Sehingga para gurunya hanya tertawa karena dia sudah tahu jawabannya tetapi masih bertanya. Seakan-akan itu ledekan sang murid kepada gurunya tetapi dengan gaya atau adab yang santun. Imbuh Aminah Nahrawi.

Diantara nama guru-guru yang mengajar Guru Mughni yaitu :

1. Syaikh Nawawi bin Umar Al Bantani Al Jawi Al Makki.

2. Syaikh Ahmad Al Khatib Minangkabawi Al Jawi

3. Sayyid Ahmad Usman (Mufti Betawi)

4. Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

5. Syaikh Mahfudz Termaz, dll

Tercatat bahwa jumlah guru yang mengajar Guru Mughni lebih dari 100 orang. Sedangkan yang tercatat oleh dzuriyahnya sebagaimana beliau sebut sendiri sekitar 14-17 guru.

Karena merasa masih haus untuk mencari ilmu, maka Guru Mughni berangkat lagi ke Mekkah. Beliau kembali menimba ilmu di halaqah-halaqah para ulama Aswaja di sana. Beliau berusaha mengembangkan lagi ilmu yang dimiliki dan hasilnya akan di bawa ke Nusantara untuk membimbing para pemuda di daerahnya. Untuk kali kedua ini beliau tinggal di Mekkah selama 5 tahun. Selama 5 tahun ini beliau melakukan hal yang sama saat kali pertama di Mekkah. Tidak ada majelis ilmu yang beliau tinggalkan. Dan tidak ada juga halaqah yang tidak beliau ikuti. Tidak ada guru yang tidak ia tanyakan tentang berbagai disiplin ilmu walaupun beliau sudah tahu jawabannya atau sudah mereka-reka jawaban yang betul. Sehingga total waktu pembelajaran Guru Mughni di Mekkah adalah 14 tahun.

Ketika pulang ke Tanah Air, beliau disambut bahagia oleh para murid-muridnya yang telah ditinggal dulu. Mereka sekarang telah menjadi pemuda-pemuda yang bergelar kyai, ustadz, yang benar-benar berwibawa, berakhlak, dan berkarakter muslim yang tangguh. Diantaranya ada Kiai Abdul Shohimi.

Setelah kepulangannya ke tanah Air kali kedua ini, maka mulailah beliau mengajar, memenuhi undangan ceramah dan mulai mendidik . Adapun kitab-kitab yang dipakai yaitu :

1. Kitab Fiqih merujuk pada Kitab Safinatun Najah.

2. Kitab Tafsir merujuk pada Kitab Tafsir Jalalain.

3. Kitab Hadits merujuk Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Muslim.

Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun pengajaran tidak pernah ditinggalkan atau dirubah atau ditukar.

Berselang tidak lama kemudian, pada tahun 1920 M, dibangun Masjid Guru Mughni (Masjid Kuningan) atau Masjid Baitul Mughni. Masjid ini awalnya dibuat hanya sebesar kamar dan di bangun di atas lahan milik Guru Mughni sendiri. Dan yang membangunnya adalah beliau dan anak-anak beliau. Setelah jadi, maka mulailah masjid ini dibesarkan sedikit demi sedikit.

Lokasi Makam

Makam Keramat Guru Mughni Kuningan beerada di Jl. Mega Kuningan Barat, RT.1/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan