Ziarah Makam KH. Abdul Mughni bin Sanusi Kuningan (Guru Mughni)

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Ziarah Makam KH. Abdul Mughni bin Sanusi Kuningan (Guru Mughni)
Sumber Gambar: Twitter @dennieHan

Laduni.ID, Jakarta – Guru Mughni adalah salah satu dari enam guru ulama Betawi di abad ke-19 hingga abad ke-20. Beliau memiliki nama lengkap Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qays, Guru Mughni lahir sekitar tahun 1860 M di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Sanusi bin Ayyub dengan Hj. Da’iyah binti Jeran.

Guru Mughni sejak kecil belajar kepada sang ayah, H. Sanusi di Masjid Mubarok, setelah itu melanjutkan ke guru ngaji bernama H. Jabir. Kemudian, Guru Mughni melanjutkan belajar kepada Habib Usman bin Yahya yang bergelar “Mufti Betawi”.

Di usia yang ke-18 tahun, Guru Mughni dikirim ayahnya untuk belajar di Mekkah. Selama 9 tahun belajar di Mekkah, Guru Mughni berhasil menimba ilmu kepada para ulama tanah suci seperti Syekh Sa’id al-Babasor, Syekh Mukhtar Atharid, Syekh Umar Bajunaid al-Hadrami, Syekh Sa’id al-Yamani, Syekh Muhammad Ali Al-Maliki, Syekh Abdul Karim Al-Dagestani, Syekh Mahfud At-Tarmasi dan Syekh Muhammad Umar Syatho, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan lain-lain.

Setelah belajar di Mekkah selama 9 tahun, Guru Mughni lalu pulang ke tanah air dan mulai mengajar. Namun tidak lama dari kepulangannya tersebut, Guru Mughni memutuskan kembali ke Mekkah untuk kedua kalinya. Selama bermukim di Mekkah ini lah, Guru Mughni berteman dengan sejumlah orang Betawi, salah satunya Guru Marzuki (Cipinang).

Hubungan kedua ulama itu berlanjut hingga kekeluargaan melalui jalur pernikahan. Putra Guru Mughni, KH. Ali Sibromalisi menikah dengan Hj. Syaikhoh, putri Guru Marzuqi. Melalui jalur inilah anak cucu mereka berdua bisa tetap bersilaturahmi dan bertukar ilmu.

Pada tahun 1926, Guru Mughni mendirikan Madrasah Sa’adatud Darain yang merupakan satu-satunya madrasah di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah seluruh pembangunan rampung, Guru Mughni lalu menyerahkan pengelolaan madrasah kepada kedua puteranya KH. Syahrowardi dan KH. Rahmatullah dan dibantu menantunya, H. Mahfudz dan H.M Toha.

Di antara murid-murid Guru Mughni yang melanjutkan perjuangan dakwah beliau adalah Guru Abdul Rahman Pondok Pinang, KH Hamim dari Lenteng Agung, Guru Na’im dari Cipete, KH Hamim dan KH Rasain juga dari Cipete, Guru Ilyas dari Karet dan Guru Ismail Pedurenan (dipanggil Guru Mael, mertua KH Ahmad Junaidi Menteng Atas).

Selama hidupnya, Guru Mughni hanya menulis dua kitab, di antaranya adalah Taudhih al-Dala’il fi Tarjamati Hadist al-Syamil dan Naqlah Min ‘Ibarat al-Ulama Nasihat Mawa’izah li Awlad al-Zaman Fi Adab Qira’at al-Qur’an wa Ta’limih.  

Lokasi Makam

Guru Mughni wafat pada Kamis, 5 Jumadil Awal 1352 H/1935 M. Jenazah beliau dishalatkan dan diimami oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsy Kwitang selepas shalat Jumat. Makam Guru Mughni berada di pekuburan keluarga di Mushola Al-Mizan/Langgar Tanjung, Jalan Mega Kuningan Barat Blok E. 33, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, 500 meter dari Hotel JW Marriott, persisnya di depan kantor Kedutaan Besar Pakistan.

Sumber foto: Twitter @dennieHan, nearplace.com


Editor: Daniel Simatupang