Biografi KH. Mudhoffar Fathurrahman Jepara

 
Biografi KH. Mudhoffar Fathurrahman Jepara

Daftar Isi Profil KH. Mudhoffar Fathurrahman Jepara

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Mendirikan Lembaga Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Teladan
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Mudhoffar Fathurrahman Jepara lahir pada 28 Mei 1928, di lingkungan Pesantren Nailun Najah, Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Fathurrohman Lasem dengan Nyai Hj. Asiyah.

Nasab KH. Mudhoffar Fathurahman dari jalur ayah merupakan keturunan Sunan Giri. Nasab beliau sebagai berikut:

  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Sayyidina Fatimatus Zahro dengan Sayyidina Ali
  3. Sayyidina Husen Bin Ali
  4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin
  5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir
  6. Sayyidina Ja’far Shodiq
  7. Sayyidina Ali AL-Uroidi
  8. Sayyidina Muhammad Annaqib
  9. Sayyidina Sayyidina Isa Arrumi
  10. Sayyidina Ahmad Al-Muhajir Ilallah
  11. Sayyidina Ubaidillah
  12. Sayyidina Alawi
  13. Sayyidina Muhammad
  14. Sayyidina Alawi Muhammad
  15. Sayyidina Ali Choli’ Qosam
  16. Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath
  17. Sayyidina Alawi
  18. Sayyidina Amir Abdul Malik Azmath Khon
  19. Sayyidina Abdulloh Azmath Khon
  20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal
  21. Sayyidina Jamaludin Khusen
  22. Sayyidina Ibrohim Asmuro
  23. Sayyidina Ishak
  24. Sayyidina Ainul Yaqin (Sunan Giri)
  25. Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir)
  26. Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa)
  27. Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda-Mbah Sambu)
  28. Sayyid Abdul Halim
  29. Sayyid Abdul Bar
  30. Sayyid Abdul Lathif
  31. KH. Baidlowi
  32. KH. Ibrohim
  33. KH. Zainuddin
  34. KH. Fathurrohman Lasem
  35. KH. Mudhoffar Fathurrohman

Wafat

KH. Mudhoffar Fathurrohman wafat pada malam Jumat 14 Muharram 1436 H atau bertepatan dengan 6 November 2014, dalam usia 86 tahun.

Mendirikan Lembaga Pendidikan

Setelah hijrah ke Kriyan Kalinyamatan Jepara, KH. Mudhoffar Fathurrohman merintis kegiatan dakwah dan pendidikan dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama 6 tahun (PGA) Nurul Islam, yang pada tahun 1970-an menjadi sekolah favorit di Jepara, untuk menyesuaikan aturan pemerintah maka nama PGA berubah menjadi MTs dan MA Nurul Islam dengan banyak alumni yang menjadi orang-orang besar.

Kemudian mendirikan Madrasah Diniyyah Awwaliyah, Madrasah Wustho, Majlis Khotmil Qur’an, Majlis Ta’lim Selikuran, team pendiri Yayasan Sultan Agung Kriyan, Poskestren dan lain-lain.

Mendirikan Pesantren

KH. Mudhoffar Fathurrohman mendirikan Pesantren Ammar Jepara, yang kemudian menjadi Ammar Nailun Najah, terinspirasi atas berdirinya Pesantren Nailun Najah yang didirikan oleh menantunya yang masih dalam satu desa.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Selain aktif di kegiatan pendidikan dan dakwah, KH. Mudhoffar Fathurrohman juga pernah aktif di PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) yakni di Idarah Aliyah (Pengurus Pusat) Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyah (JATMAN) sejak zaman KH. Idham Kholid Sampai Zaman Habib Luthfi Bin Yahya.

Teladan

KH. Mudhoffar Fathurrahman dikenal dermawan, hingga masyarakat menyematkan ulama yang luar biasa dalam sedekah. Hampir setiap selesai sholat jamaah membagikan uang pada orang yang jamaah shalat Subuh yang fakir miskin

Beliau juga dikenal gemar menjalin silaturrahim kepada saudara-saudaranya. Dan beliau juga di kenal, setiap ada acara keluar kota, pasti suka mampir mampir walau hanya singgah di saudara atau kenalan beberapa menit.

Karya-Karya

Karya KH. Mudhoffar Fathurrohman yang sempat di bukukan diantaranya,

Pertama, Dasar-Dasar Amaliyah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang isinya dasar-dasar pegangan amaliyah harian ahlus sunnah wal jamaah dalam bahasa arab, pernah di cetak oleh PCNU Pekalongan, juga Toko Kitab Mubarokatan Toyyibah Kudus

Kemudian di terbitkan dalam bentuk buku, berjudul tradisi orang orang NU yang di tambahi komentar atau syarah oleh KH. Munawir Abdul Fatah (kakak ipar beliau) dicetak olek LKIS

Kedua, Amaliyah KH. Mudhoffar Fathurrahman. Amalan Wirid beliau yang tidak pernah di Tinggalkan yaitu membaca Surat Al Fatihah 100x dan Sholawat Nariyah 11x setiap selesai sholat.

Beliau juga sering berpesan berkali kali, “man qoro'a fatihah miata marroh, ya ro minal ajaibil masturoh," artinya barangsiapa yang membaca fatihah 100x, dia akan melihat keajaiban (hajatnya di ijabah) dengan nyata. Ijazah tersebut beliau dapat dari Pak leknya yaitu KH. Abdul Hamid Pasuruan.

Sumber: Gus Muhammad bin Muhammad Suhaimi bin Masyhudi

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya