Lintas Ziarah dan Bertawssul di Makam Wali Limbung Temanggung

 
Lintas Ziarah dan Bertawssul di Makam Wali Limbung Temanggung
Sepintas Sejarah
 
Ada dua versi tentang Syekh Sayid Abdullah yang berkembang di masayarakat setempat. Cerita yang paling populer menyebutkan bahwa Wali Limbung adalah orang Jawa, putra dari Sultan Agung penguasa Mataram Islam. Ketika terjadi konflik antara Mataram dengan VOC, Mataram memutuskan untuk menyerang Belanda di Batavia, Sultan Agung ikut berangkat dan mengajak istrinya yang ternyata sedang hamil.
 
Perang yang berlangsung berbulan-bulan, kandungan sang Istri juga semakin besar. Sultan Agung memerintahkan salah satu Patihnya untuk mengantar pulang Istri beliau pulang ke Mataram. Ketika sampai di daerah Temanggung, istri Sultan sudah tidak kuat lagi berjalan karena sudah dekat waktunya melahirkan sampai sampai tubuh beliau Limbung. dari sanalah kemudian muncul nama Limbung yang kemudian melekat kepada Wali Limbung.
 
Konon Nama asli beliau adalah Klono Jiwo (Jiwa yang berkelana). Klono Jiwo akhirnya tetap tinggal di sana bersama ibunya dan ayah angkatnya, yaitu sang Patih yang membawa ibunya dalam perjalanan pulang. Sang Patih tersebut kemudian mendirikan pondok pesantren yang kini dikenal Pondok Kiai Parak. Sementara itu, Wali Limbung ketika dewasa juga menjadi seorang tokoh pengembang Islam di sana, ia mendirikan pondok pesantren yang sekarang dikenal dengan Pondok Kiai Parak Tsani.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN