Wisata Spiritual dan Bertawassul di Makam KH. Mudjahid Malang

 
Wisata Spiritual dan Bertawassul di Makam KH. Mudjahid Malang

Sekilas Biografi

KH. Mudjahid adalah seorang Kyai Kharismatik dari Desa Jeru Tumpang. Ilmunya sangat luas, pribadinya sangat luhur. Kyai sederhana yang menjadi panutan umat. Beliau adalah pendiri dan pengasuh pesantren PPPI Jeru Tumpang Malang pada tahun 1953.

Terlahir pada tahun 1928 dari putra ke tujuh saudara dari pasangan H. Abdul Manaf dan Nyai Hj. Sri Ma’unah,  masa kecilnya sudah disibukkan mengaji pada beberapa kyai yang ada di sekitar desa Jeru Tumpang. Saat itu beliau belajar al-Qur’an, ilmu nahwu dan shorof.
Setelah itu, kira-kira usia 11 tahun Kyai Mudjahid mulai berkelana mencari ilmu.

Beliau berangkat ke Kepanjen untuk berguru kepada Kyai Amin. Selanjutnya beliau nyantri kepada Kyai Muhamamd Sa’id yang saat itu pesantrennya masih berlokasi di Sono Tengah Pakisjaji. Selama berada di pesantren ini, Kya Mudjahid melakukan riyadloh. Kalau bekalnya habis, beliau pulang ke Tumpang untuk mengambil bekal dengan naik sepeda ontel bersama temannya. 

Usai mondok di Sono Tengah, beliau nyantri kepada Kyai Shodiq Damanhuri di desa Gondang Blitar. Bahkan setelah selesai nyantri, beliau diambil menantu oleh sang pengasuh. Setelah menikah, beliau diminta sang mertua untuk tabarukan, mondok ke beberapa pesantren. Walhasil, beliau harus meninggalkan istrinya terlebih dahulu demi memperoleh ilmu untuk sangu berdakwah. Sebagai istri yang sholihah, Nyai Hj. Maimunah ikhlas melepaskan suaminya pergi, apalagi ia diperintah oleh orang tuanya.

Selanjutnya, Kyai Mudjahid menuju Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang di bawah asuhan Kyai Muhammad Romli. Selesai mondok di Darul Ulum, Kyai Mudjahid masih melanjutkan mondok ke beberapa Pesantren di antaranya PP Bendo Kediri asuhan Kyai Ma’ruf, PP Hidyataul Mubtad’in di bawah asuhan Kyai Mahrus Ali, PP Jampes Kediri asuhan Kyai Ikhsan dan terakhir di Pondok Gading Pesantren di bawah asuhan Kyai Muhammad Yahya.

Setelah kurang lebih 13 tahun beliau ngaji dari satu kya ke kyai yang lain, dari satu pondok ke pondok yang lain. Berbagai macam ilmu sudah beliau kuasai dan dirasa cukup beliaupun mulai mengamalkan ilmunya. Kyai Mudjahid membantu mertuanya untuk mengajarkan ilmu yang telah beliau dapatkan. Di sana beliau bersama istrinya dikarunia seorang anak setelah menikah kurang lebih 3 tahun lamanya. Kemudian Kyai Mudjahid memboyong istri dan anaknya ke kampung halaman desa Jeru Tumpang.

Melihat kondisi masyarakat seperti itu, tergeraklah hati beliau untuk mendirikan pesantren. Untuk itu beliau diminta Kyai Mundzir Kediri untuk memohon kepada Allah SWT dengan sholat hajat selama 41 malam sebelum mendirikan pesantren.

Pada mulanya santri yang mengaji kepada Kyai Mudjahid hanya sepuluh orang. Namun lambat laun banyak ulama dan masyarakat yang menitipkan anaknya kepada Kyai Mudjahid. Diantaranya Kya Ahmad Zamachsari (pengasuh PP Al-Rifa’i Gondanglegi) serta adiknya Gus Djakfar (Pengasuh PP Al-Fattah Singosari) yang dititipkan oleh abahnya yani Kyai Rifai untuk menimba ilmu dari Kyai Mudjahid. Bahkan sebelum almarhum Kyai Muhsin Maqbul Bululawang mendirikan pesantren, bila ada yang ingin mengaji kepadanya, Kyai Muhsin menyarankan agar terlebih dahulu mengaji kepada Kyai Mudjahid Tumpang.

Dalam sehari, tak kurang dari sembilan macam kitab yang beliau ajarkan sendiri kepada para santri. Selain ngajar kitab, beliau juga menyimak setoran hafalan al-Qur’an santri yang menghafalkan al-Qur’an.

KH Mudjahid wafat tanggal  03 Sya'ban 1418 H/03 Desember 1997, makamnya berada di makam keluarga di pesantren PPPI Malang, di Desa Jeru Kecamatan Tumpang, Malang.
 

Lokasi Makam

Makam KH Mudjahid berada di makam keluarga di pesantren PPPI Malang, di Desa Jeru Kecamatan Tumpang, Malang.