Biografi Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan

 
Biografi Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan

Kelahiran

Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan, lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 10 Oktober 1936, dari pasangan Tholhah dan Anis Fatma, Beliau adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan adik beliau bernama Afif Najih. Sejak usia kanak-kanak beliau ditinggal oleh ayahnya untuk menghadap Sang Kholiq (wafat), kemudian beliau ikut kakek dan neneknya di Lamongan. Sejak saat itu nama ayah dan kakeknya digunakan menjadi satu kesatuan dengan nama beliau yang semula hanya Muhammad, sehingga menjadi Muhammad Tholhah Hasan, yang sekarang panggilan akrab beliau yaitu Kiai Tholhah.

Tutup Usia

Ulama karismatik yang dalam ilmu agama dan wawasan kebangsaannya telah menghadap Sang Khaliq, Rabu 29 Mei 2019 bertepatan dengan 24 Ramadhan 1440 H di RS Syaiful Anwar Malang pukul 14.10 WIB, beliau dimakamkan di Pemakaman Bungkuk Singosari, Malang.

Pendidikan 

Pada saat bersamaan dengan sekolah umum dan pada saat di sela-sela sekolah jenjang satu dengan yang lain, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mempelajari pengetahuan agama di berbagai pondok pesantren. Pengalaman belajar di pesantren inilah yang paling dominan dalam membentuk pola pikir dan dasar-dasar keilmuan yang beliau miliki.

Beberapa pesantren, guru dan ilmu-ilmu yang dipelajarinya antara lain, di pesantren Keranji dibawah asuhan Kiai Mustofa yang sekarang
bernama pesantren Tarbiyatul Waton. Beliau mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab dasar, antara lain Kitab Jurumiahy, Hadits Arba’in Nawawi dan Taqrib. Sewaktu beliau mondok di pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, saat itu di asuh Kyai Abdul Fatah, beliau hanya sempat mengaji kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab lainnya tetapi tidak sempat khatam, karena beliau hanya sempat belajar selama 6 bulan saja.

Kemudian beliau pindah ke pondok pesantren Tebuireng Jombang, di pondok pesantren ini Tholhah (sapaan akrabnya) mengaji kepada
beberapa Kiai antara lain Kiai Adlan Ali, Kiai Baidlowi, Kiai Mahfud, Kiai Anwar, Kiai Samsuri Badawi, Kiai Samsun, dan Kiai Idris. Beliau sempat mempelajari beberapa kitab, antara lain Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Chozin, Tafsir Jalalain, Tafsir Fatkhul Wahab dan Fiqh Kifayatul Ahyar.

Kitab-kitab lainnya yang merupakan Ilmu Nahwu, Sorof, Ushul Fiqih, Ilmu Hisab dan Ilmu Mantiq. Lebih spesifik lagi, beliau banyak mendalami secara khusus, yakni Tafsir dan Hadits di bawah bimbingan KH. Idris dan KH. Adlan Ali (Al-Maghfurlah) sejak 1951 hingga 1956 di Pesantren Tebuireng Jombang.

Tholhah Hasan juga pernah mondok posoan di pesantren Al-Hidayah Lasem Pati Jawa Tengah, pada waktu itu diasuh oleh Kyai Ma’sum. Kitab-kitab yang yang dipelajari antara lain Tajridu as-Sharih, Riyadu as-Shalihin, Shahih Bukhori dan Al-Hikam, kemudian beliau juga bertahun- tahun berada di pondok pesantren Miftakhul Ulum Bungkuk Singosari Malang, tetapi statusnya di pesantren ini bukan sebagai santri melainkan sebagai pengajar.

Kontribusi Kiai Tholhah turut mewarnai dinamika Bangsa ini. Seorang Kiai dengan latar belakang pendidikan pesantren, yang kemudian melanjutkan pendidikan sarjana mudanya dalam bidang ilmu administrasi, dan mendapat gelar Doctor Honoris Causa (DHS) dalam kajian pendidikan, yang selanjutnya gelar Profesor beliau peroleh dalam bidang Ilmu Wakaf.

Pernikahannya

Masa lajang beliau diakhiri sejak beliau menjadi menantu KH. Masykur (mantan Menteri Agama Kabinet Amir Syatifuddin dan Kabinet Ali Sastro
Amijoyo dan Mantan ketua DPR-MPR Kabinet Pembangunan III). Tholhah Hasan mulai saat itu didampingi Istri bernama Hj. Solichah Noor (anak angkat KH. Masykur yang sebetulnya masih keponakannya sendiri). Sampai sekarang beliau telah dikaruniai 3 orang anak, masing-masing adalah Dr. Hj. Fathin Furaida Alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta). Ir. Nadya Nafis Alumni Fakultas Peternakan/ Jurusan Produksi Ternak Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Ir. Mohammad Hilal Fahmi Alumni Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin Universitas Islam Malang (UNISMA).

Keorganisasian

Dalam organisasi, ia merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang memulai karirnya sejak dari Ranting sampai Pengurus Besar. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidliyah PBNU (1989-1994) dan sekarang menjabat sebagai Wakil Rais ‘Aam Syuriah PBNU (2004-sekarang). Selain di NU, ia juga sebagai Anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pusat (1994-sekarang) dan juga sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (2000-sekarang).

Sejak kecil, Kiai Tholhah sudah memiliki kemauan keras untuk mencapai cita-cita. Terbukti, sebagian besar waktu beliau dihabiskan membaca dan mempelajari berbagai ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Kiai Tholhah gemar bermukim di lingkungan yang membuat beliau dapat belajar ilmu dan organisasi. Bahkan beliau kerap ditunjuk sebagai ketua beberapa organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Misalnya, ketika masih berstatus siswa MTs Tebuireng, Kiai Tholhah mengikuti organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ketika menjadi mahasiswa, Kiai Tholhah berkiprah di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kiai Tholhah beralih ke PMII.

Semakin dewasa, semakin kaya pengalaman berorganisasi. Di bidang pendidikan, Kiai Tholhah dipercaya memegang jabatan: Kepala Sekolah PGA Al-Ma’arif (1962-1965); Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri di Singosari (1978-1982); Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) Universitas Islam Malang atau UNISMA (1981-1985 dan 1985-1989); Rektor UNISMA (1989-1992 dan 1992-1998); serta Dewan Pembina BKS-BTIS (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta Pusat).

Di bidang pemerintahan, Kiai Tholhah pernah dipercaya menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian Pemerintah Daerah (BPH-PEMDA) Kabupaten Malang (1967-1973); Anggota DPRD Kabupaten Malang; hingga akhirnya beliau menorehkan prestasi yang mengagumkan di bidang pemerintahan, yaitu dilantik sebagai Menteri Agama oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 28 Oktober 1999. Beliau menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 1999-2001.

Karya Buku

Karya-karya beliau tak hanya berupa tulisan, akan tetapi juga berupa fisik yang telah berhasil beliau kembangkan dari nol. Karya-karya tulis Kiai Tholhah adalah :

  1. Islam dan Sosio Kultural (Jakarta: Lantabora Press, 2000)
  2. Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman (Jakarta: Lantabora Press, 2000).
  3. Kado Untuk Tamu-tamu Allah (Jakarta: Lantabora Press, 2000).
  4. Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia (Jakarta: Lantabora Press 2004).
  5. Dinamika Kehidupan Religius (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004)
  6. Diskursus Islam Kontemporer (Jakarta: Listarafiska Putra, 20004).
  7. Ahlusunnah Wal Jama‟ah dalam Persepsi dan Tradisi NU (Jakarta, Lantabora Press, 2004).
  8. Agama Moderat: Pesantren dan Terorisme (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004).
  9. Apabila Iman Tetap Bertahan (Jakarta: Listarafiska Putra, 2004).

Jasa-jasanya

Pada bulan Agustus 2008, dalam rangka HUT ke-63 RI, sebanyak 18 tokoh Nasional mendapat anugerah tanda jasa kehormatan dari Presiden SBY, karena dinilai berjasa di berbagai bidang. Kiai Tholhah termasuk salah satu tokoh yang mendapatkan tanda jasa kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana.

Kiai Tholhah dikenal mewariskan banyak yayasan di banyak tempat. Antara lain: Yayasan Universitas Islam Malang (UNISMA), Yayasan Pendidikan Islam Almaaarif Singosari; Yayasan Hizbullah Singosari, Yayasan Sabilillah Blimbing, Yayasan Panti Asuhan Anak Yatim Babus Salam, Yayasan Pondok Pesantren Teknologi “Ummatan Wasathan”. Adapun warisan yang berupa madrasah atau sekolah, antara lain: TK, SDI, MI, SMPI, MTs, SMAI, MA dan SMK di bawah Yayasan Almaarif Singosari; TK dan SDI Sabilillah (inisiator konsep Full Day School / FDS) di bawah Yayasan Sabilillah Blimbing; SMAI di Nongkojajar Pasuruan hingga Madrasah Aliyah Plus di Pekanbaru Riau.

Kiai Tholhah juga berhasil mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) pada tahun 1970 di Singosari yang sekarang menjadi Rumah Sakit Bersalin (Muslimat Medical Center) di bawah Yayasan Kesejahteraan Ummat dan mendirikan Rumah Sakit Islam UNISMA Malang pada tahun 1994 di bawah naungan Yayasan UNISMA. Beliau juga mendirikan Aswaja Center di Batu Malang, Pondok Pesantren Modern dan Lembaga Pendidikan Unggulan di Riau, serta Lembaga Pendidikan Unggulan di Kalimantan.

Lebih dari itu, Kiai Tholhah merupakan sosok ulama multitalenta dan produktif menulis, baik berupa buku, artikel ilmiah, apalagi makalah seminar.