Biografi KH. Chasan Tholabi

 
Biografi KH. Chasan Tholabi

Daftar Isi Profil KH. Chasan Tholabi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren

Kelahiran

KH. Chasan Tholabi lahir pada tahun 1921 di Krapyak. Beliau merupakan putra dari KH. Amiruddin bin KH. Abdullah Rosyad. Beliau juga adalah keponakan dari KH. Muhammad Munawwir, Krapyak.

Wafat

KH. Chasan Tholabi wafat pada tahun 1991 di rumahnya, di Krapyak.

Keluarga

Sepulang dari Demak, KH. Chasan Tholabi melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Mursyidinah yang masih kerabatnya sendiri, yakni masih cucu dari KH. Abdullah Rosyad.

Selepas menikah, beliau tetap fokus berdakwah keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Tercatat enam kali Kiai Chasan ngontrak rumah di Jogja Kota dan Bantul, diantaranya di Krapyak Wetan, Krapyak Kulon, Sewon, Sentolo, Mergangsan Kidul, Mergangsan Lor. Baru yang ketujuh beliau fokus pindah ke Wates.

Selama berdakwah, Bu Nyai Mursyidinah pun turut menopang ekonomi keluarga. Bu Nyai berdagang minyak tanah, pakaian, dan lainnya, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kiai Chasan dikenal ulama’ yang terus menemani masyarakat dalam pengajian. Tidak mengenal lelah, selalu keliling untuk mendidik masyarakat. Ini juga selalu didorong KH. Ali Maksum, sehingga Kiai Chasan sangat bersemangat untuk ngaji dengan masyarakat secara keliling.

Pendidikan

Chasan kecil memulai pendidikannya dengan belajar kepada ayahnya sendiri, Kiai Amiruddin. Setelah mulai beranjak dewasa, Chasan kemudian mengaji kepada Pak Dhe-nya, yakni KH. Munawwir. Kepada KH. Munawwir, Kiai Chasan mengaji Al-Qur’an sampai juz 25. Belum sempat Kiai Chasan mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an, KH. Munawwir wafat tahun 1942.

KH. Munawwir merupakan sosok kiai yang sangat keras kalau yang mengaji itu kerabatnya sendiri. Kalau sedikit saja melakukan pelanggaran, maka akan segera dita’zir, dihukum. Ini dilakukan Kiai Munawwir dengan penuh kedisiplinan, berharap agar kerabatnya menjadi ulama yang kelak akan berjuang mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Setelah mengaji kepada KH. Munawwir, Kiai Chasan mulai berkelana ngajinya di Pesantren Tremas, Pacitan. Disana beliau belajar fiqih, tafsir, dan ilmu lainnya. Pesantren Tremas dikenal sebagai pesantren yang melahirkan ulama’-ulama’ besar, termasuk KH. Ali Maksum dan KH. Hamid Pasuruan.

Selepas dari Tremas, Kiai Chasan mengkhatamkan hafalan al-Qur’an di Demak, di Pondok Pesantren Bustanu Usysyaqil Qur’an yang diasuh oleh KH. Muhammad, putra KH. Mahfudz Tremas. KH. Muhammad sendiri mengaji al-Qur’an kepada KH. Munawwir Krapyak. KH. Muhammad diambil menantu oleh KH. Soleh Darat Semarang.

Mendirikan Pesantren

Setelah mengelana di Jogja dan Bantul, Kiai Chasan memutuskan untuk pindah ke Wates, tahun 1970. Disana mendirikan mushala sebagai tempat dakwahnya. Awal mula dakwah Kiai Chasan khsusus mengajarkan al-Qur’an. Hal ini dikarenakan di Wates saat itu merupakan basis daerah abangan dan masih banyak masyarakat yang awam agama.

Tantangan dari masyarakat saat itu demikian hebat. Sering mushala Kiai Chasan dilempari batu, begitu juga ketika adzan dikumandangkan diteriaki anjing yang menggonggong. Gangguan fisik kadang juga muncul. Namun karena Kiai Chasan juga memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, maka hambatan tersebut lambat laun bisa teratasi. Akhirnya, tahun 1979 Kiai Chasan mendirikan Pesantren al-Qur’an Wates  di atas tanah seluas 280 m.

Spirit dakwah Kiai Chasan luar biasa. Warga Wates yang masih awam agama justru menjadi pelecut semangat Kiai Chasan untuk terus mengajarkan agama kepada masyarakat. Ciri khas ngaji Kiai Chasan adalah selalu memulai ngaji setiap santri dengan usholli dan kabira. Artinya, memulai ngaji dengan tata cara sholat dengan benar. Baru kemudian ngaji yang lainnya. Ini tentu saja harus benar cara membawa al-Qur’annya. Makna lain, Kiai Chasan menggunakan cara sholat yang sudah disepakati para ulama pesantren, alias khas ala NU. Inilah ciri khas yang masih terus dilakukan di pesantrennya sampai sekarang.

 

Sumber: bangkitmedia.com