14 Jan 2020 · 2.666 dibaca · Kolom
LADUNI.ID, Jakarta - Indonesia beberapa tahun terakhir ini mengalami paceklik pemikiran Islam yang cemerlang akibat merosotnya kualitas para sarjana dan pemikir muslim brilian. Simak ulasan Sumanto al Qurtuby sebagai berikut.
***
Sarjana muslim yang mengkaji masalah keislaman, baik yang berdedikasi di perguruan tinggi maupun bukan, baik yang didikan luar negeri maupun dalam negeri, tentu saja melimpah ruah seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kesejahteraan, perekonomian, kesadaran, dan pendidikan umat Islam serta banyaknya beasiswa yang disediakan oleh berbagai elemen (pemerintah maupun swasta, baik Indonesia maupun mancanegara) sehingga semakin membuka peluang masyarakat (muslim) untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi hingga tingkat doktoral.
Tetapi, sekali lagi, output dari para sarjana Islam ini (baca, sarjana yang mengkaji dan menekuni masalah keislaman) masih belum maksimal dan belum berdampak luas di masyarakat.
Fenomena ini cukup kontras dengan periode 1980-an (atau bahkan lebih awal, 1970-an)
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+