Biografi KH. Moh. Said Ketapang

 
Biografi KH. Moh. Said Ketapang

Daftar Isi KH. Moh. Said Ketapang

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Merintis Pesantren
  6. Santri-Santri
  7. Perjuangan Melawan Penjajah
  8. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  9. Kisah Pertemuan dengan KH. Abdul Hamid

Kelahiran

KH. Moh. Said Ketapang lahir pada tahun 1901 di Jl. Tongan Kodya Malang. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Moh. Anwar dengan Ny. Lis.

Wafat

KH. Moh. Said Ketapang wafat pada tanggal 1 Desember tahun 1964 dalam usia 63 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di lingkungan Pesantren PPAI Ketapang Kepanjen Malang.

Sebelum KH. Moh. Said Ketapang wafat, ada satu kisah dimana pada saat beliau sedang sakit, beliau dikunjungi al-Quthb al-Habib Abdul Qadir Bilfaqih, Pengasuh Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyah, yang waktu itu diantarkan oleh Gus Suyuti Dahlan. Dalam pertemuan itu, Habib Abdul Qadir sempat menawarkan obat dari Jerman yang sangat istimewa dan mujarab kepada Kiai Said.

Namun, dengan segala kerendahan hati tawaran sang habib tersebut ditolaknya. Lantas KH. Moh. Said Ketapang menceritakan, jika dirinya pernah bermimpi. Hatinya pecah menjadi dua. Pecahan itu kemudian menjadi tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya: “Tidak ada obat untuk penyakit ini, kecuali dengan dzikrullah.”

“Kalau begitu, tidak usah saya beri obat Pak Kiai. Dzikir itu saja diteruskan,” tutur Gus Mad Suyuti menirukan perkataan Habib Abdul Qadir Bilfaqih kepada Kiai Said waktu itu.

Keluarga

Pada tahun 1925,  KH. Moh. Said Ketapang melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Fatimah, seorang perempuan dari Kidul Pasar Malang. Waktu itu, beliau masih berstatus sebagai pegawai di Kantor Gubernur di Surabaya tahun 1925-1927. Dalam pernikahannya, Kiai Said tidak sampai dikarunia anak.

Pendidikan

Pada masa penjajahan Belanda, KH. Moh. Said Ketapang termasuk beruntung. Karena pada usia 10 tahun, beliau dapat mengenyam pendidikan dan berhasil menamatkan pendidikan NIS tahun 1911. 5 tahun kemudian, tahun 1916, menamatkan ELS. Setamat dari ELS beliau bekerja menjadi Komis Pos di Jember selama 9 tahun, 1916-1925.

Secara khusus, awalnya Kiai Said hanya nyantri di beberapa kiai di Malang, seperti ngaji pada Kiai Mukti Kasin, dan beberapa kiai lainnya. Selain itu, juga pernah nyantri ke Canga’an Bangil. Kemudian nyantri ke Pondok Pesantren Salafiyah Siwalan Panji Sidoarjo pada tahun 1926-1931, setahun setelah menikah.

Merintis Pesantren

Setelah KH. Moh. Said Ketapang pindah di Kabupaten Malang, tepatnya pada tahun 1927, beliau mulai kembali merintis pondok pesantren hingga pada tanggal 28 Oktober 1948 Pondok Pesantren PPAI Desa Sukoraharjo Dusun Ketapang Kepanjen Malang resmi berdiri. Pondok ini merupakan pemindahan pondok pesantren dari daerah Karangsari Bantur, Kabupaten Malang, yang juga didirikan oleh beliau pada tahun 1931.

Selanjutnya beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren di Sonotengah, Pakisaji, Kabupaten Malang selama 16 tahun, 1931-1947. Tahun 1948, beliau mendirikan pesantren pindahan dari Sonotengah, di daerah Karangsari Bantur guna menyelamatkan santrinya dari penjajahan Belanda. Beliau berjuang mengusir penjajah Belanda serta menjadi penggerak tentara Hizbullah dari tahun 1945-1948.

Sebagaimana umumnya pesantren NU, pondok beliau juga bersistem pengajaran klasikal (Salafiyah). Unit pendidikan yang tersedia meliputi Sekolah Diniyah Putra-Putri Ibtida’iyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

Santri-Santri

Dalam mendidik para santrinya, KH. Moh. Said Ketapang mempunyai prinsip, bahwa sebagai seorang pemimpin harus bisa mencetak atau mengkader santrinya menjadi pemimpin. Dengan tekat bulat dari prinsip beliau, maka tidak heran, jika kemudian KH. Moh. Said Ketapang berhasil mengkader santrinya menjadi kiai, ulama, ustadz dan tokoh masyarakat, diantaranya:

  1. KH. Abdul Hanan
  2. KH. Alwi Murtadho (Pengasuh PPAI Al-Ihsan Blambangan Bululawang)
  3. KH. Abdul Basyir
  4. KH. Drs. Mahmud Zubaidi (Ketua MUI Kabupaten Malang dan Pengurus NU Cabang Kabupaten Malang)
  5. Ustadz H. Ismail Qodly (guru agama di SLTP Shalahuddin)
  6. Gus Mad Suyuti Dahlan (Pengasuh Ponpes Nurul Ulum Kacuk Sukun)
  7. KH. Ahmad Su’aidi (Pengasuh PPAI Ketapang, menggantikan Kyai Moh. Said.

Perjuangan Melawan Penjajah

Sejak masa muda, KH. Moh. Said Ketapang memang dikenal sebagai orang yang suka bekerja keras dan tekun belajar. Selain membantu orangtuanya, juga berdagang serta terkadang bertani.

Selain itu, beliau juga pernah bekerja menjadi pegawai pemerintah Belanda, tapi tidak memuaskan hati beliau, hingga dia mengundurkan diri. Karenanya, setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren beliau mendirikan dan mengasuh Pondok Pesanntren Sono Tengah Pakisaji Malang, pada tahun 1931-1947. Pada tahun 1948, beliau mendirikan Pesantren Karangsari di Bantur. Setelah itu, sekitar tahun 1949 mendirikan Ponpes PPAI Ketapang, Kepanjen.

Di masa pendudukan penjajah Belanda, Kiai Said turut berjuang bersama masyarakat untuk mengusir penjajah. Bahkan beliau termasuk tokoh yang menggerakkan tentara Hizbullah pada tahun 1945-1948.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Di kalangan santri dan masyarakat, KH. Moh. Said Ketapang dikenal sebagai ulama yang bijaksana. Beliau juga dekat dengan umara’ dan organisasi, tetap menampakkan pribadi yang alim, wara’ dan sufi. Selain itu, juga aktif di organisasi NU dan sempat menjadi Rois Syuriah NU Cabang Malang pada tahun 1950-1965. Bahkan, pernah ditunjuk menjadi Ketua Misi Ulama se Jatim ke Moskow (Rusia) dan Karachi (Pakistan) mewakili Partai NU wilayah Jawa Timur.

Menurut Gus Mad Suyuti Dahlan, Kiai Said itu sosok sufi yang berpendirian teguh, suka menyendiri dan menjauhi keramaian. Meski beliau lebih menekankan pada syariat (fiqih), tapi juga mengamalkan Thariqah Khalwatiyah dengan kitab susunannya Khulashah Dzikr al-‘Ammah wa al-Khasshah, yang didirikan Syekh Khalwati.

“Beliau itu hampir 27 tahun tidak pernah telat melaksanakan shalat berjamaah. Dan pelajaran itu, selalu ditekankan pada santri-santrinya,” ujar Almaghfurlah KH. Suyuti Dahlan (Pengasuh PP Nurul Ulum Kebon Sari Malang).

Demikian juga dalam bidang pendidikan, beliau sangat memperhatikan para generasi muda. Para santrinya diarahkan untuk menjadi penganjur agama Islam atau da’i, menjadi kader-kader dakwah yang memperjuangkan agama Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah serta menyebarluaskan ajaran pesantren yang sehaluan dengan PPAI Ketapang.

Kisah Pertemuan dengan KH. Abdul Hamid

Pagi itu hampir beranjak siang, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid) Pasuruan sudah berada di depan Ndalem KH. Mohammad Said, Pengasuh PPAI Ketapang Kepanjen Malang, seraya mengucapkan: “Assalamu’alaikum...” sampai 3 kali, tapi tak ada jawaban.

Tak lama kemudian, muncul seorang santri datang dari bilik yang tak jauh dari Ndalem mendatangi KH. Abdul Hamid yang berada di serambi Ndalem. “Romo Kiai Said wonten?” (Kiai Said ada?) Tanya Kiai Hamid.

“Romo Kiai Said kadose tindakan kolowau kaleh Bu Nyai. Ngapunten, saking pundi?” (Kiai Said sepertinya tadi pergi bersama Bu Nyai. Maaf, Anda dari mana?) Tanya santri tadi.

“Kulo Abdul Hamid saking Pasuruan”, (saya Abdul Hamid dari Pasuruan).

Mendengar jawaban itu santri tadi langsung bingung tak tahu harus berbuat apa karena sekarang ia tahu bahwa yang di hadapannya bukan orang biasa, tetapi kiai panutan banyak orang. Melihat hal itu Kiai Hamid pun langsung berkata kepada santri tadi: “Menawi ngaten kulo tak ngrantosi Romo Kiai Said ten masjid mawon mpun nak geh”, (kalau begitu sembari menunggu Kiai Said, saya di masjid dulu ya).

Akhirnya Kiai Hamid pun berjalan menuju masjid yang tak jauh dari Ndalem, kemudian shalat dua rakaat lalu rebahan tidur di depan mihrab masjid. Sedangkan santri tadi sambil bingung kembali ke bilik memberi tahu teman-temannya bahwa tamu tadi adalah Kiai Hamid dari Pasuruan yang alim dan wara’.

Selang hampir satu jam, melihat kondisi Kiai Hamid yang sedang tidur-tiduran di depan mihrab menunggu kedatangan Kiai Said, akhirnya santri tadi berinisiatif untuk mencari keluarga atau abdi ndalem agar bisa membukakan pintu Ndalem Kiai Said. Tujuannya supaya Kiai Hamid bisa menunggu di Ndalem saja.

Tak lama kemudian keluarlah Gus Kholidul Azhar, putra angkat Kiai Said, dari dalam Ndalem sambil kelihatan layu nampak habis bangun tidur. Maka tanpa basa-basi santri tadi langsung berkata kepada Gus Kholid: “Gus, wonten Kiai Hamid Pasuruan bade sowan dateng Romo Yai,” (Gus ada Kyai Hamid Pasuruan ingin menghadap KH. Said).

“Iyo wis mari ketemu kok,” (iya sudah ketemu kok), jawab Gus Kholid.

“Lho, kepanggih pripun tho Gus. Lha wong Kiai Hamid sak meniko tasik nenggo Romo Kiai Said kundur saking tindakan ten masjid ngantos sare wonten ngajenge mihrob”, (Sudah ketemu bagaimana Gus, lha tadi Kyai Hamid masih menunggu Kyai Said yang sedang keluar di masjid depan mihrab kok).

“Lho, sopo sing ngomong Abah (Kiai Said) tindak? Wong iki maeng lho aku metu teko kamar (habis tidur) Abah karo Kiai Hamid isik temon-temonan ndek mbale (ruang tamu) omah”, (kata siapa Abah sedang keluar? Baru saja aku keluar kamar, Abah bersama Kiai Hamid bertemu di ruang tamu.)

“Lho, saestu Gus Romo Kiai Said tasik tindakan, kulo ningali piambak wau mios ipun. Pramilo Kiai Hamid nenggo Romo Kiai kundur sakniki ten masjid” (beneran lho Gus, tadi Kyai Said sedang keluar. Saya lihat. Sedangkan Kiai Hamid menunggunya di masjid).

“Koen iki yokpo se, dikandani lek Abah karo Kiai Hamid isik temon-temonan ndek mbale kok gak percoyo?” ( Kamu ini bagaimana sih, diberi tahu Abah bersama Kyai Hamid masih bertatap muka di ruang tamu kok tidak percaya).

“Mosok nggeh Gus, saestu tah? Wong nembe mawon kulo tasik ningali Kiai Hamid wonten masjid, sare ten ngajenge mihrob. Lan kulo ningali Kiai tindakan lan dereng kondur” (Masak sih Gus, sungguh? Baru saja saya lihat Kiai Hamid masih di masjid, tiduran di depan mihrab. Dan saya lihat Kiai Said sedang keluar, belum pulang.)

“Koen iki, dikandani kok gak percoyo.” (Kamu itu diberi tahu kok tidak percaya.) Timpal Gus Kholid.

Di tengah perdebatan antara santri tadi dengan Gus Kholid, tiba-tiba datang mobil Holden Kiai Said datang dan berhenti di depan Ndalem. Keluarlah dari dalam mobil tadi Kiai Said dan Ibu Nyai. Melihat pemandangan itu, Gus Kholid dan santri tadi menjadi bingung. “Lho Gus, niku lho Romo Kiai nembe kondur saking tindakan,” (Lho Gus, itu Kiai Said baru saja pulang, tukas santri tadi.)

“Lha terus, sing tak delok temon-temonan ndek mbale omah iki maeng sopo?” (Lha terus yang barusan saya lihat sedang bercengkerama di ruang tamu itu siapa?) Sela Gus Kholid.

“Lha geh duko Gus,” (Ya tidak tahu, Gus), jawab santri tadi.

Di tengah kebingungan keduanya, maka Gus Kholid langsung menghampiri Kiai Said yang baru keluar dari mobil, seraya berkata: “Abah, wonten...”

Belum selesai berkata, Kiai Said langsung menjawab: “Kiai Hamid? Wis.. wis... Abah wis ketemu kok.” (Sudah, sudah saya temui kok) Sambil berjalan menuju Ndalem.

Maka makin bingunglah Gus Kholid dan santri tadi mendengar jawaban Kiai Said tersebut. Demi untuk menghilangkan kebingungannya, santri tadi langsung berlari ke masjid memastikan Kiai Hamid masih di depan mihrab.

“Tapi kali ini ia tidak berhasil menemukan Kiai Hamid di sana, dicari ke mana-mana pun tidak ketemu.” Tutur KH. Achmad Muchtar Gz, santri KH. Moh. Said, mengakhiri kisahnya.