Biografi Habib Syekh Abdul Rahim Puang Makka

 
Biografi Habib Syekh Abdul Rahim Puang Makka

Riwayat dan Keluarga
 Al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka (selanjutnya disebut Habib Puang Makka), lahir di Makassar, 14 September 1960. Adalah mursyid ke 12 Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary pelanjut mursyid ke 11 dan pengasuh pesantren An-Nadlah, Makassar. Beliau mendapat amanah sebagai Mursyid Jam'iatul Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary yang diwarisi dari ayahnya bernama AGH As-Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma dan tercatat sebagai mursyid ke-11 dari Syekh Yusuf.

Secara geneologis merupakan keturunan nabi. Untuk mengetahui turunan seseorang, selain menyebut nama ayah maka lebih jelas lagi bila tambahkan nama marga atau nasab turunan ayah ke atas.Marganya Assegaf sebagai leluhur induk dari banyak keluarga Alawiyin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah (generasi ke-22 dari Nabi saw) yang menurunkan ulama-ulama sufi besar bertaraf waliyullah dengan kharisma dan memiliki spiritual power luar biasa. 

Masa Pendidikan
Sejak kecil dikirim ayahnya nyantri selama 6 tahun (1975-1982) di Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan KH Hasyim Asy'ari. Puang Makka mengembara ke Pulau Jawa untuk memperdalam ilmu tarekat dan mengasah kesufiannya atas rekomendasi mendiang ayahnya. Menempuh pendidikan formal di Makassar, Perguruan Islam Balang-Balang. Kemudian di SMA 3 hingga meraih gelar sarjana di Sospol Unhas.

Guru sekaligus ulama tarekat sebagai tempat belajar dalam pengembaraannya itu, adalah Habib Husein al-Habsy di Probolinggo, Kraksaan. Kemudian mendapat rekomendasi untuk memperdalam lagi ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan. Juga kepada Habib Husen Assegaf di Gresik, dan KH. Mujni di Purwokerto.

Selain yang telah disebutkan di atas, beberapa ulama lainnya di Jawa yang dijadikan tempat tabarruk dan dari ulama itu Habib Puang Makka memperoleh ijazah tarekat, adalah KH. Mufid Mas’ud di Pandanaran, KH. Lutfi Hakim di Meranggen Demak, KH. Dimyati di Tasik, K.H. Latifi Bedawi di Kodong Legi Malang, KH. Abd. Karim di Porodadi, KH. Abd. Majid di Probolinggo.

Sambil tabarrukan dan menerima ijazah tarekat dari beberapa ulama seperti yang disebutkan, Puang Makka juga nyantri di Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya Selatan Kebun Jeruk, yang diasuh KH. Noer Muhammad Iskandar SQ. Sambil nyantri, Habib Puang Makka intens mengikuti pengajian tasawuf pada Prof. Dr. Buya Hamka dan Dr. KH. Idham Khalid di Jakarta.

Selanjutnya selama dua tahun, 1987-1989, Puang Makka kembali memperdalam ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan.

Kiprah Beliau di Nahdlatul Ulama (NU)

  1. Sebagai tokoh Nadhlatul Ulama (NU) yang turut membesarkan Ansor termasuk Banser. Pada tahun 1989-1992 karena aktif sebagai salah satu unsur Ketua Dewan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor (DPP GP Ansor), maka Habib Puang Makka pindah ke Jakarta, namun dalam setiap waktu luangnya mengunjungi sang guru di Pekalongan Jawa Tengah.
  2. Di antaranya, Mustasyar PCNU Makassar sejak tahun 1995 sampai sekarang.
  3. Rais Sadis Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Muktabarah al-NahdliyahNahdlatul Ulama (Jatman NU) tahun 2012 sampai sekarang.
  4. Puang Makka juga menjabat Ketua Dewan Penasehat GP Ansor Sulsel, 2013 sampai sekarang ;Dewan Pembina PP GP Ansor 2015 sampai sekarang.
  5. Selain kesibukannya di Makassar, Puang Makka sampai saat ini masih sering ke Jawa dalam rangka tabarruk kepada gurunya, Maulana Muhammad Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, Rais Am Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Multabarah al-Nahdliah Nahdaltul Ulama (Jatman NU), yang juga sebagai tokoh sufi al-‘alamiy, ulama sufi internasional. Dari sang guru inilah Puang Makka dibaiat Tarekat Syazdiliyah dan dari sang gurunya itu, Puang Makka diijazahkan surban seukuran 6 meter, demikian pula atas rekomendasi sang guru, Puang Makka diberi amanah sebagai Rais Sadis Idharah Aliyah Jatman NU.

Menjadi Mursyid
Tibalah saatnya Habib Puang Makka dibaiat menjadi khalifah pada tahun 2002, dan sejak itu Habib Puang Makka mendapat amanah untuk membaiat jamaah di Parangloe Gowa mewakili ayahnya, Habib Puang Ramma. Sebagai pemimpin, Habib Puang Makka senantiasa mendampingi ayahnya dalam berbagai kegiatan tarekat dan kegiatan lainnya terutama dalam berdakwah dan mengisi pengajian atau halaqah lainnya.

Tahun 2005, atau setahun sebelum wafatnya mendiang sang ayah, Allahu yarham Habib Puang Ramma membaiat anaknya, Habib Puang Makka menjadi mursyid Tarekat Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassariy.

Sejak menjadi mursyid, Habib Puang Makka mewakafkan waktunya, full time melayani jamaah, bahkan seringkali dikunjungi oleh banyak kalangan, tidak terkecuali pejabat, pengusaha dan politisi yang datang meminta restu sekaligus doa keberkahan. Sehingga jam istirahatnya sangat sedikit karena hampir setiap malamnya hanya tidur dua jam. Sebagai Mursyid, Habib Puang Makka sesaat setelah melayani jamaah dan tetamunya, ia kembali disibukan beribadah dan mengamalkan kewajiban zikir tarekat di tengah malam sembari menunggu masuknya waktu subuh.

Sebagai mursyid yang memiliki insting kuat, hati yang bersih dan dengan melalui istikharahnya, maka Habib Puang Makka mengadakan perubahan positif di internal Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary, yakni dengan menjadikan tarekat ini pada amaliah neo sufisme sehingga berinisiatif menghimpun jamaah dan simpatisannya dalam wadah Jam’iyah sebagai ormas Islam yang selain konsen pada amalan tarekat juga fokus pada amaliah sosial dan kemasyarakatan.

Melalui Jam’iyah, atau lebih lengkapnya adalah Jam’iyah Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassary yang didirikan sejak tahun 2006, menjadikan jamaah lebih dekat mursyidnya, jamaah tidak mengkultuskan mursyid tetapi tetap menghargai dan menghormatinya.

Di Jam’iyah, secara rutin dilaksanakan dialog, diskusi, kajian dan pengajian pendalaman tasawuf yang tidak saja terbatas bagi jamaahnya, tetapi terbuka untuk secara umum untuk seluruh masyarakat. Dalam waktu-waktu tertentu, Habib Puang Makka membawa jamaahnya ke luar kota, misalnya di Kepulauan Pangkep dan pengunungan Parangloe Gowa untuk berkhalwat dan mengadakan suluk.

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber