Biografi KH. Thoifur Ali Wafa

 
Biografi KH. Thoifur Ali Wafa

Riwayat dan Keluarganya

Kiai Haji Thaifur Ali Wafa merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Assadad, Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten, Sumenep. Nama Kiai Thaifur Ali Wafa sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan masyarakat Sumenep. Beliau juga dikenal sering berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi, tekun menulis kitab. Karangannya, Bulghattullab, Tanwirul Baso’ir, Alfarqudurrofi’, Haba’ilu al Syawarid, Syarah Misykatul Anwar, Al Roaudun Nazhir, Kuthufud Daniyah, Sullamul Qashidin, Miftahul Ghawamid, Firdausun Na’im.

Thaifur Ali Wafa Muharrar lahir dari pasangan Kiai Ali Wafa dan Nyai Mutmainnah binti Dzil Hija. Silsilah dari ayahnya, Thaifur adalah keturunan Syeikh Abdul Kudus (akrab disebut Al-Jinhar) yang tinggal di desa Sariqading. Sedangkan, dari silsilah ibunya ia termasuk bagian dari keluarga desa Waru Pamekasan. Dzil Haja nikah dengan Halimatus Sa’diyah yang berasal dari desa Bindang; keturunan Syeikh Abdul Bar (akrab disebut Agung Tamanuk) ada yang mengatakan nasab Thaifur Ali Wafa berujung sampai Pangeran Katandur yang dimakamkan di Sumenep.

Beliau lahir di Ambunten Sumenep pada tahun 1964 (20 Sya’ban 1384 H). Umurnya relatif muda. Kini ia menjadi pengasuh Pesantren As-Sadad.

Terlepas dari itu semua, KH. Thaifur Ali Wafa juga salah seorang mursyid Thariqah Naqsabandiyah. Thariqah Naqsabandiyah, lanjutnya, merupakan salah satu thariqah muktabaroh yang sanadnya sampai kepada Rasulullah.

Karya Tulisnya

Beberapa tahun belakangan, publik mengenalnya melalui karangannya yang sangat banyak dalam berbagai bidang ilmu keislaman.  kitab karangan beliau pertama kali ketika digunakan sebagai rujukan dalam sebuah forum Bahtsul Masail NU, kitab itu berjudul Bulghotut Thullab.

Selain Bulghoh, ada beberapa karangan beliau yang lain semisal Tafsir Firdausun Na’im yang dicetak sebanyak tujuh jilid dan juga Misanul Lashif Syarh Matan Syarif. Kitab terakhir ini adalah syarah setebal seribu halaman atas kitab Matan Syarif karya Syaichona Kholil Bangkalan. Kecintaannya terhadap ilmu memang sudah tampak sejak kecil. Berbagai macam tirakat untuk melancarkan proses ilmiah sudah dilakukan sejak belia.

Dalam otobiografinya yang berjudul Manarul Wafa, Kiai Thoifur menyebut bahwa ayahnya melarangnya untuk memakan ikan laut dan makanan pasar. Sebagaimana sudah maklum dalam tradisi pesantren, dua makanan ini memang menjadi “musuh utama” para santri. Karena kitab pedagogis standar pesantren, Ta’limul Muta’allim, menyebut bahwa dua makanan ini adalah penyebab tumpulnya otak. Konon katanya ikan laut selalu mendoakan pencari ilmu. Maka sebagai wujud balas budi, pencari ilmu dilarang makan ikan laut.

Kiai Thoifur mengenang bahwa ia pertama kali makan ikan laut sejak mulai menghindarinya di usia enam tahun adalah ketika berusia 20-an tahun. Saat itu gurunya, Syekh Ismail Zain Mekkah, menyodorinya ikan laut ketika makan dalam satu nampan. Ia pun terpaksa memakannya.

Selain keteguhan berprinsip, satu sifat lagi yang ia warisi sejak kecil adalah semangat menghafalkan. Masih dalam kitab Manarul Wafa, ia menceritakan ketika ayahnya mengadakan walimatul khitan, ia mendapat tugas menghafalkan Maulidul Azb yang nantinya akan ia baca ketika acara. Dia pun berhasil menghafalkannya. Kelak beliau membuat syarah atas nazham Maulidul Azb berjudul Nailul Arb.

Santri Kelana Ilmu

Ketika menginjak usia remaja, Kiai Thoifur  pergi ke Demangan Bangkalan untuk mencari ilmu kepada seorang kiai masyhur, KH. Abdullah Schal. Kiai Abdullah adalah cicit Syaichona Kholil Bangkalan. Di pondok Syaichona Kholil itu Kiai Thoifur belajar berbagai kitab “kelas menengah” seperti Shohih Bukhori, Sullamul Munawraq, dan lain-lain. Di kemudian hari Kiai Abdullah mengambil Kiai Thoifur sebagai menantunya.

Sebelum pergi ke Mekkah untuk berguru kepada Syekh Ismail Zain, Kiai Thoifur melanjutkan berkelananya di berbagai pondok di tanah Jawa, di antaranya Lasem Rembang dan Batokan Kediri. Di pondok terakhir ini beliau mengaji kepada Mbah Kiai Jamal pengasuh Batokan kala itu.

Setelah itu dia melanjutkan rihlah ilmiahnya menuju kota suci Mekkah. Di kalangan pesantren Mekkah dan Yaman memang sering menjadi jujugan para gus untuk menuntut ilmu secara informal.

Di Mekkah Kiai Thoifur berguru kepada guru-guru (syekh) ternama. Di antara para masyayikh yang beliau serap ilmunya adalah Syekh Abdullah bin Ahmad Dardum dan Syekh Ismail Zen. Kepada nama pertama Kiai Thoifur banyak mengambil ilmu nahwu. Memang Syekh Abdullah Dardum dikenal sebagai Sibawaihi ashrih, Sibawaih masa itu di Hijaz.

Di masa-masa ini Kiai Thoifur mulai mempelajari seni tulis menulis (fannul kitabah) yang mana hal ini di masa mendatang membuat beliau dikenal sebagai kiai yang sangat produktif (muktsirut ta’lif).

Sedangkan kepada Syekh Ismail, Kiai Thoifur banyak mengambil berbagai macam ilmu utamanya fikih. Syekh Ismail Zen seringkali meminjamkan kitab-kitabnya agar dibaca Kiai Thoifur. Hubungan keduanya semakin dekat. Kiai Thoifur seringkali disuruh mencatat hal-hal yang dianggap Syekh Ismail penting. Bahkan di kemudian hari Kiai Thoifur diangkat sebagai asisten pribadi Syekh Ismail. Banyak kitab Syekh Ismail berasal dari diktean beliau kepada Kiai Thoifur yang dengan tekun mencatatnya.

Sejauh ini, tercatat dalam Manarul Wafa tidak kurang dari lima puluhan karangan Kiai Thoifur mulai dari fikih, nahwubalaghoh, hingga sirah Nabi saw. Mengenai keproduktifannya, Kiai Thoifur menceritakan bahwa dia pernah bermimpi bertemu Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Dalam mimpinya Syekh Yasin mengajari beliau tips-tips mengarang kitab.

Pernikahan Beliau

Setelah empat belas tahun Thoifur pergi ke Mekah beserta Syekh Ali Hisyam untuk menunaikan haji dan ziarah. Mereka berdua berziarah ke asta Rasulullah saw. Dan, pada usia ini ia ditunangkan dengan putri Syekh Abdullah Salilul Khalil kemudian ia menikahinya sampai sekarang. Sedangkan, orang yang melamar adalah saudara suami saudarinya, Syekh As’ad bin Ahmad Dahlan.

Mengasuh Pesantren

Setelah merasa cukup belajar di Mekah Thoifur kembali ke tanah kelahirannya, Ambunten Timur Sumenep pada 1413 H. Maka, di sana ia disibukkan dengan mengabdikan diri kepada masyarakat: mengajarkan ilmu-ilmunya dan mendidik murid-muridnya. Ia meneruskan kepemimpinan ayahnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren As-Sadad. Setiap akhir tahun pelajaran ia menggelar perayaan imtihan, selain itu acara ini dihadiri wali-wali santri.

Sumber: Dari Berbagai Sumber