Biografi KH. Ahmad Syaikhu

 
Biografi KH. Ahmad Syaikhu

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Syaikhu

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Pendiri Pondok
  5. Kiprah di NU

Kelahiran

KH. Ahmad Syaikhu lahir pada Selasa Wage, 29 Juni 1921 di daerah Ampel, Surabaya. Beliau merupakan putra bungsu dari dua bersaudara pasangan H. Abdul Chamid dan Ny Hj Fatimah.

Pada usianya menginjak dua tahun, beliau sudah yatim, ditinggal wafat oleh ayahnya. Sepeninggal ayahnya, KH. Ahmad Syaikhu hidup bersama kakaknya, Achmad Rifa'i, dan diasuh ibunya.

Keluarga

KH. Ahmad Syaikhu melepas masa lajangnya dengan menikahi Solichah, putri Mohamad Yasin, pada tanggal 5 Januari 1945. Sesudah berkeluarga, ia membuka home industry sepatu di rumahnya, dengan 15 orang karyawan.

Pendidikan

KH. Ahmad Syaikhu memulai pendidikannya dengan belajar kepada KH. Said, guru mengaji bagi anak-anak di sekitar Masjid Ampel. Pada usia tujuh tahun beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur'an 30 Juz. Selain belajar agama, beliau juga menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Mardi Oetomo, sebuah sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Tak lama belajar di sekolah ini, oleh H. Abdul Manan, ayah tirinya, beliau dipindahkan ke Madrasah Tashwirul Afkar, lembaga pendidikan ini didirikan KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Mansur, dan KH. Dahlan Ahyad. Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal-bakal Nahdlatul Ulama (NU).

Sambil belajar, beliau kembali bekerja pada seorang tukang jahit kenamaan di Pacar Keling, Mohamad Yasin. Di Nahdlatul Wathan beliau dibimbing seorang guru yang kemudian sangat mempengaruhi perkembangannya yaitu KH. Abdullah Ubaid. Selain itu, beliau juga berguru kepada KH. Ghufron untuk belajar ilmu fikih.

Tahun 1937, setamat dari Nahdlatul Wathan, Ibunya, Ny Fatimah yang sudah dua kali menjanda diperistri KH. Abdul Wahab Chasbullah. Di bawah bimbingan ayah tirinya itulah, Syaikhu berkembang menjadi pemuda yang menonjol. Kepemimpinannya mulai tumbuh.

Sekolah sambil bekerja seolah-olah menjadi pola hidup pemuda Syaikhu. Setamat dari Nahdlatul Wathan, ia kembali bekerja di bengkel Marina milik Angkatan Laut. Selama bekerja di bengkel itu, ia melakukan kegiatan dakwah di lingkungan kawan-kawan sekerja.

Setahun kemudian, 1938, KH. Abdul Wahab Chasbullah mengirimkan Syaikhu ke Pesantren Al-Hidayah, Lasem asuhan KH. Ma'shum. Selama di pesantren ini, beliau menjadi santri kesayangan KH. Ma'shum. Sesudah tiga tahun belajar di Lasem, ia terpaksa harus boyong ke Surabaya, karena ia terserang penyakit tipes (typus) yang cukup serius.

Pendiri Pondok

Pada tanggal 27 Ramadhan 1398 H, atau bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 1978, ia mendirikan organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, yaitu Ittihadul Muballighin. Lembaga inilah yang pada akhirnya mengantarkannya menuju terminal pengabdian terakhirnya, yaitu dunia dakwah dan pesantren.

Pesantren Al-Hamidiyah yang kini berdiri cukup megah di daerah Depok, merupakan saksi bisu yang menunjukkan betapa besar dan luhurnya cita-cita yang dikandung KH. Ahmad Syaikhu. Dari pesantren juga berakhir di pesantren.

Kiprah di NU

Ketika terjadi penyerbuan tentara Sekutu ke kota Surabaya, beliau bersama istrinya mengungsi ke Bangil. Pada tahun 1948, sesudah Surabaya kembali aman, beliau pulang ke kota kelahirannya. Mulailah beliau terjun sebagai sebagai pengajar di Madrasah NU. Di samping mengajar, beliau juga menjadi Ketua Ranting NU Karang Menjangan. Itulah awal mula Syaikhu mulai terlibat di organisasi NU.

Pada kepengurusan NU Cabang Surabaya periode 1948-1950, beliau ditunjuk sebagai salah satu ketua Dewan Pimpinan Umum (tanfidziyah), bersama KH. Thohir Bakri, KH. Thohir Syamsuddin dan KH. A. Fattah Yasin. Karier Syaikhu di organisasi terus menanjak dengan cepat. Pada tahun 1952, ia diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRDS Kota Besar Surabaya.

Awal tahun 1950-an beliau mendaftarkan diri menjadi pegawai pemerintah dan bekerja di Kantor Pengadilan Agama Surabaya dan kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai wakil kepala. Baru setahun di Pengadilan Agama, ia pindah ke Kantor Agama Kotapraja, Surabaya.

Pada tahun 1953, Syaikhu terpilih menjadi ketua LAPUNU (Lajnah Pemilihan Umum NU) daerah pemilihan Jawa Timur. Dan pada pemilu 1955, ia diangkat menjadi anggota DPR dari Fraksi NU, dan pada tanggal 25 November 1958 ia ditunjuk sebagai Ketua Fraksi NU.

Dalam kurun waktu 15 tahun sejak ia menjadi anggota DPRDS di Surabaya, akhirnya ia mencapai puncak karir di gelanggang politik, dengan menjadi Ketua DPRGR pada tahun 1966. Di NU sendiri ia pernah menjadi salah seorang ketua PBNU, sampai tahun 1979 (ketika berlangsung Muktamar NU di Semarang).

Kepemimpinan dan ketokohan KH. Ahmad Syaikhu tidak hanya diakui secara nasional, melainkan juga sampai ke level internasional. Pengakuan itu terbukti dengan dipilihnya KH Ahmad Syaikhu sebagai Presiden Dewan Pusat Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA) dalam konferensinya yang pertama di Bandung, tanggal 6-14 Maret 1965.

KH. Ahmad Syaikhu yang dikenal sebagai pengagum Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu berhasil mengembangkan misi dakwah Islamiyah dan misi perjuangan bangsa Indonesia dalam pentas politik internasional.Sekian lama KH. Ahmad Syaikhu menekuni dunia politik, tak menyurutkan perhatian dan minatnya dalam dunia dakwah Islamiyah. Malahan semangat mengembangkan dakwah Islamiyah itulah yang dijadikan motivasi dalam keterlibatannya di pentas politik.