Biografi KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo

 
Biografi KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo

Daftar Isi Profil KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Pengasuh Pesantren
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Menjadi Rektor IAIT Kediri

Kelahiran

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo Lahir di Kediri tanggal 2 September 1960. Beliau merupakan putra ke 12 dari 14 bersaudara dari pasangan KH. Mahrus Aly dan Ny. Hj Zainab. Beliau juga merupakan cucu dari pendiri Pondok Pesantren Lirboyo kota Kediri yaitu KH. Abdul Karim.

Beliau sekarang bertempat tinggal di ndalem yang ada di Pondok Unit HMC tepatnya di JL. KH. Abdul Karim Rt.01 Rw.01 desa Lirboyo kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Secara geografis, ditinjau dari arah sebelah timur P3HMQ, terletak 100 M dari pondok induk Lirboyo dan jika dari arah sebelah barat balai desa Lirboyo, juga 100 M.

Sebelum dihuni oleh beliau, rumah tersebut di huni oleh kakak kandungnya yang bernama KH. Imam Yahya Mahrus.

Keluarga

Pada tanggal 30 September 1985, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Hj. Azzah Nur Laila, gadis yang berasal dari Cirebon.

Pendidikan

Semasa kecil, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama kepada ayahnya KH. Mahrus Aly. Setelah selesai belajar dengan ayahnya, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Lirboyo tepatnya di Madrasah Hidayatul Mubtadien. Setelah tamat, beliau memperdalam ilmunya di Pondok Pesantren Al-Fadllu Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Dimyathi Ro’is.

Pengasuh Pesantren

Dalam usia yang relatif muda (kira-kira 25 tahun), KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo sudah mengemban amanat yang cukup besar yaitu meneruskan perjuangan ayahnya untuk mengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo adalah seorang yang aktif dalam berorganisasi. Beberapa organisasi besar yang pernah beliau ikuti adalah PCNU Kota Kediri selama Dua priode (2004-2012) sebagai pengurus, PBNU Pusat (2010-2015) sebagai Katib Syuriah, dan MUI Kota Kediri (2009-sekarang) sebagai Ketua.

Menjadi Rektor IAIT Kediri

Dalam perjalanan kariernya, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo pernah menjabat sebagai Rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri, meneruskan amanah yang pernah dipegang oleh ayahnya KH. Mahrus Aly dan kakaknya KH. Imam Yahya Mahrus.

Ada sesuatu yang unik dari beliau yaitu beliau tidak pernah kelihatan memakai celana, dalam kegiatan apapun. ”Walaupun kapasitas saya sebagai Rektor, tapi saya terikat dengan Pondok Pesantren Lirboyo, karena Pon-Pes itu selalu identik dengan Sarungan”,  Jelas beliau.

Sebagai Rektor IAIT, dikalangan Mahasiswa beliau dikenal sebagai seorang yang pendiam, sabar, istiqomah, pengertian dengan orang lain, ‘alim, dan ilmu tasawwufnya sangat tinggi. Terbukti ketika beliau menyampaikan mauidzah hasanahnya dan ketika bertingkah laku menunjukkan kealimannya terutama dalam bidang ilmu Tashawwuf.

Tidak hanya itu, ketika Beliau diundang oleh organisasi yang berkaitan dengan kemahasiswaan ataupun lembaga kemasyarakatan selalu menghadirinya walaupun sebentar, kecuali ada halangan yang begitu penting. Hal demikianlah salah satu sifat dari beliau yang disukai oleh para mahasiswa sehingga mereka kagum terhadap beliau.

Beliau juga berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan IAIT, hal itu, direalisasikan dengan dibangunnya gedung-gedung baru yang masih dalam proses untuk memenuhi kekurangan ruangan selama ini dan untuk menunjang Kegiatan Belajar Mengajar di IAIT.

Dengan didirikannya Kampus IAIT dari masanya KH. Mahrus Aly, beliau berusaha agar Mahasiswanya meneruskan cita-cita ayahnya yakni untuk menjadi Ulama’ intelektual yang sesuai dengan keadaan zamannya. Selain itu beliau juga ingin mahasiswanya yang sudah lulus dari IAIT agar memikirkan dan peduli akan keadaan masyarakat dan negara, serta menjadi pemain utama untuk memperbaiki akhlak seluruh manusia agar mempunyai akhlak yang karimah (prilaku yang mulia).

Menurut beliau mayoritas manusia zaman sekarang hanya mempunyai kepandaian tanpa disertai akhlaq yang baik. Manusia seperti itu sangatlah berbahaya dan akan bisa menghancurkan segala-galanya.

Beliau memberi pesan kepada Mahasiswa IAIT agar terlebih dahulu mendalami ilmu-ilmu agama dengan sangat mendalam, kemudian baru ilmu-ilmu lain. karena ilmu agama itu sebagai pondasi setiap manusia untuk hidup. Manusia yang telah menguasai Ilmu Ilmu agama secara otomatis juga akan mengetahui ilmu -ilmu umum sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumiddinnya.