Biografi KH. Abdul Aziz Manshur

 
Biografi KH. Abdul Aziz Manshur

Daftar Isi Profil KH. Abdul Aziz Manshur

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mengasuh Pesantren

Kelahiran

KH. M. Abdul Aziz Manshur lahir pada tahun 1941 di Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in, Pacul Gowang, Diwek, Jombang. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara, dari pasangan KH. Manshur Anwar dengan Nyai Hj Salamah.

Dari garis keturunan ayah, KH. M. Abdul Aziz Manshur adalah keturunan langsung dari pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in, Pacul Gowang, Diwek, Jombang. Sementara dari ibu, merupakan keturunan KH. Abdul Karim Lirboyo.

Wafat

KH. M. Abdul Aziz Manshur wafat pada dini hari sekitar pukul 00.10 WIB,  8 Desember 2015, di Rumah Sakit Graha Amerta Dr. Soetomo, Surabaya. Beliau meninggal dunia pada usia 71 karena sakit gangguan ginjal. Jenazah beliau dimakamkan pemakaman keluarga Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Pacul Gowang, Jombang.

Pendidikan

Sejak usia dini KH. M. Abdul Aziz Manshur mulai dididik oleh kedua orang tuanya. Pada usia 4 tahun beliau diajar orang tuanya mengenal fasolatan, thoharoh (sesuci) dan menghafal juz Amma  langsung oleh Ibu beliau.

Memasuki usia 6 tahun beliau mulai ikut sekolah, kemudian dilanjutkan dengan belajar al-Quran. Dalam mengkaji al-Quran,  hanya butuh waktu 1 tahun bagi beliau untuk mengkhatamkan al-Quran, dan mengadakan tasykuran.

Memasuki usia 7 tahun, KH. Abdul Aziz Manshur mulai masuk sekolah rakyat (SR) yang kedudukannya setingkat dengan Sekolah Dasar (sekarang) berada di desa Bandung.  Pada kelas satu beliau diajar oleh seorang guru bernama Suroto, dengan tetap mempelajari al-Quran dan Al-Barzanji, Diba’ sekaligus dengan makna oleh orang tua beliau.

Di sekolah rakyat ini, beliau berhasil menguasai  baca, tulis, berhitung, sejarah, berbahasa Indonesia, dan beberapa keterampilan, seperti, membuat kaset, kipas, dan lain-lain. Beliau terpaksa masuk sekolah rakyat ini karena memang sekolah yang ada pada  waktu itu hanya sekolah rakyat.

Setengah tahun lamanya sekolah di SR beliau pindah ke Madrasah Ibtida’iyyah Pacul Gowang yang sempat vakum beberapa tahun akibat agresi Belanda ke II.

Setelah selasai sekolah pendidikan dasarnya, beliau kemudian melanjutkan pendidikannya dengan belajar ke Pondok Pesantren Tebuireng selama dua setengah tahun dan kemudian lanjut belajar di Pondok Pesantren Lirboyo.

Ketika di Lirboyo, beliau fokus untuk mempelajari ilmu alat (nahwu dan sorof). Dan saat bulan puasa tiba, beliau tabarrukan di pondok pesantren lain. Selama menimba ilmu di Lirboyo, KH. M. Abdul Aziz Manshur termasuk santri yang berprestasi, sehingga Almaghfurlah KH. Marzuqi Dahlan (Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo) mengambil beliau sebagai menantu.

Mengasuh Pesantren

Setelah melangsungkan pernikahan, tak lama kemudian KH. M. Abdul Aziz Manshur menggantikan ayahandanya yang telah kembali kerahmatullah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in.

KH. M. Abdul Aziz Manshur dengan penuh tanggungjawab memikul amanah dari ayahandanya, mengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in dengan sepenuh hati, percaya diri, dan rasa ikhlas.

Pondokpun semakin maju dan berkembang, meski era globalisasi telah menggeser semua “barang lama” dan menyebabkan pergeseran nilai-nilai kehidupan di tengah masyarakat, tetapi beliau tetap mempertahankan sistem kesalafan yang murni dan konsisten.

Teladan

Teladan yang dapat diikuti dari KH. M. Abdul Aziz Manshur adalah sosok ulama dari Jombang yang memiliki sifat lemah lembut, sabar, dan mengayomi masyarakat, dan santri-santrinya di Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in, Pacul Gowang, Jombang.