Biografi KH. Abdurrahman Nawi

 
Biografi KH. Abdurrahman Nawi
Abuya KH. Abdurrahman Nawi adalah seorang tokoh ulama betawi yang merupakan pendiri pondok pesantren di tiga tempat yaitu Sawangan, Depok, dan Tebet yang kesemua nya itu bernama Al-Awwabin. Sekalipun usianya sudah mulai dibilang senja, memasuki umur 70 tahun ini, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Awwabin ini masih mengasuh sekitar 31 majelis taklim yang ada di Jakarta ini.
 
Dan uniknya, dalam setiap acara yang dihadirinya KH Abdurrahman Nawi sering duduk bersama dengan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Habib Husein bin Ali bin Husein Alattas. Karena sering bertemu dalam sebuah acara, ketiga ulama Betawi ini oleh H. Hamzah Haz (Ketua DPP PPP dan saat itu sedang menjabat sebagai Wakil Presiden RI) pernah menjuluki mereka ulama “Tiga Serangkai”.
 
Lepas mendapat julukan Ulama “Tiga Serangkai” Betawi dari orang nomor 2 RI itulah, akhirnya kemana-mana mereka selalu bertiga, utamanya dalam acara-acara keagamaan yang banyak digelar oleh kalangan habaib, pemerintah ataupun masyarakat yang ada di Jakarta ini.

Abuya Abdurrahman Nawi adalah sosok ulama, dai dan pengajar ulama yang komplit. Ia pernah di Mahad Ali As-Syafi’yah KH Abdullah Syafi’i (Jatiwaringin) dan juga di Darul Arkom. Jabatan di kemasyarakatan yang pernah ia pegang adalah sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama Cabang Jakarta Selatan. Dalam sepuluh tahun terakhir ia menjadi salah satu anggota Dewan Penasehat MUI Pusat (1997-sekarang).

Riwayat dan Keluarga

 Beliau dilahirkan pada bulan Safar 1354 Hijriah (1933M) dari pasangan H. Nawi bin Su'id dan 'Ainin binti Rudin, yang diberi nama Abdurrahman.
 
Sebagaimana lazimnya masyarakat Betawi yang secara turun temurun fanatik memeluk Islam dan kuat menjalankan syari’atnya, Abdurrahman tumbuh dalam lingkungan kampung Tebet yang juga sarat dengan nilai-nilai dan budaya keagamaan. Ada mushola yang menjadi tempat berkumpul anak-anak untuk menjalankan shalat lima waktu dan kegiatan mengaji.
 
H. Nawi maupun isterinya ‘Ainin bukan seorang tokoh agama bagi masyarakatnya. Mereka hanyalah seorang yang taat beragama dan senang kepada ulama. Sehari-hari mereka sebagai pedagang nasi ulam di warung Fedok. Pada waktu-waktu tertentu H. Nawi selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pengajian yang diadakan para ulama dan habib di Kampung Melayu atau di Kwitang. H. Nawi yang pedagang itu mendidik puteranya Abdurrahman untuk rajin shalat dan mengaji sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.
 
Masa Mencari Ilmu
 
Mula-mula Abdurrahman belajar mengaji dengan guru yang ada di Tebet, yaitu Mu’alim Ghazali dan Mu’alim Syarbini. Disini ia belajar membaca al-Qur’an serta dasar-dasar akidah dan praktek ibadah. Ketekunan Abdurrahman untuk mengaji nampak lebih giat dibanding saudara-saudara dan anak-anak yang lain. Maka H. Nawi terus mendorongnya untuk belajar dan mengaji dan mengingatkannya untuk tidak main-main.

Gurunya yang lain, KH. Muh. Zain bin Sa’id, pernah suatu saat memberinya wejangan, bahwa manusia itu akan dipandang karena tiga hal, yaitu jagoan, kekayaan dan ilmu. Ketika ia ditanya: “kamu mau jadi apa?”, maka jawabnya spontan “mau
menjadi orang berilmu”. Lantas sarannya, untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kamu harus rajin belajar.
 
Kemudian jadilah Abdurrahman sebagai remaja yang pekerjaannya setiap saat hanya mengaji dan belajar. Dari pergaulannya sesama teman yang suka mengaji dan petunjuk guru dan orang tua, beliau tak kehabisan guru-guru di sekitar Tebet yang di rumahnya membuka pengajian mengajarkan ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab.
 
Di Bukit Duri beliau belajar mengaji kepada KH. Muhammad Yunus, KH. Basri Hamdani, KH. M. Ramli dan Habib Abdurrahman Assegaf. Beliau juga mengaji kepada KH. Muh Zain (Kebon Kelapa, Tebet), KH. M. Arsyad bin Musthofa (Gg. Pedati, Jatinegara), KH. Mahmud (Pancoran), KH. Musannif (Menteng Atas), KH. Ahmad Djunaedi (Pedurenan), KH. Abdullah Husein (Kebon Baru, Tebet), KH. Abdullah Syafi’i (Matraman) serta Habib Husein al-Haddad (Kampung Melayu).

Agak jauh lagi beliau juga mengaji kepada KH. Hasbiyallah (Klender), KH. Mu’alim (Cipete), KH. Khalid (Pulo Gadung), Habib Ali Jamalullail dan Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang), Habib Abdullah bin Salim al-Attas (Kebon Nanas), Habib Muhammad bin Ahmad al-Hadad (Kramat Jati), Hbib Ali bin Husein a;-Attas (Kemayoran), dan Ustad Abdullah Arifin (Pekojan).
 
Meski Abdurrahman tidak pernah belajar di sekolah maupun pesantren, namun cara belajar beliau tidak kalah dengan cara belajar santri di pesantren. Dalam sehari beliau bisa mengikuti pelajaran di tiga tempat, yang masing-masing dua atau tiga mata pelajaran. Sistem belajar yang beliau ikuti biasanya memakai kitab.

Guru membaca ‘ibarah dalam kitab dan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kemudian menerangkan maksud dari ‘ibarah tersebut dengan penjelasan yang sangat luas dan mendalam.
 
Semangat Abdurrahman memahami dan menguasai pelajaran memang sangat tinggi. Setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan gurunya, beliau mencatat dengan baik apa yang perlu. Setelah pengajian usai, beliau pun tidak segan-segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan teman-temannya untuk mengulang dan mendalami pelajaran yang sudah lewat.
 
Beliau tidak pernah mau ketinggalan dari teman-temannya dalam menguasai pelajaran. Jika suatu saat beliau merasa ketinggalan, maka beliau pun berjanji “awas, tunggu besok, ane pasti kalahkan dia”. Dan malamnya dia pun tak mau tidur sebelum benar-benar menguasai pelajaran tersebut.
Dengan sistem belajar tidak formal selama kurang lebih 25 tahun itu, memang beliau tidak memperoleh ijazah atau syahadah.
 
Tetapi hasil dari belajarnya tidak dipungkiri telah mencapai tingkat pengajaran yang tinggi dalam sistem belajar formal. Karenanya, beliau pun akhirnya diakui telah menguasai ilmu-ilmu Bahasa Arab dan Syari’ah yang mumpuni.
 
Setelah dirasa cukup mendapat didikan dan ijazah dakwah dari Habib Ali Bungur, tak berarti ia berhenti belajar. Pada tahun 1960-an ia berangkat haji sekaligus belajar dengan beberapa ulama yang ada di sana seperti Syekh Abdul Qadir Mandailing, Syekh Husein Al-Fatani. Di tanah suci itu pula, ia juga mengambil barakah Habib Muhammad Alwi Al-Maliki, Habib Zein bin Smith.
 
Aktivitas Berdakwah
 
Sebagaimana tradisi masyarakat Betawi, KH. Abdurrahman Nawi yang oleh para murid dan keluarganya dipanggil dengan Abuya ini, pada tahun 1962 membuka pengajian di rumahnya, Tebet Barat VIII. Pengajian yang diberi nama As-Salafi itu mengajarkan kitab-kitab tertentu sesuai dengan kemampuan dan minat para pesertanya. Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu dibacakan kitab Taqrib, Tijan Durar, Nashaih Diniyah. Sedangkan untuk pemuda dan para ustad dibacakan Qawa’idul Lughah, Ibnu ‘Aqil, Fathul Mu’in, Bughyah Mustarsyidin, Asybah wan-Nazhair, dan Qami’ut Thughyan. Pesertanya datang dari beberapa kampung di Jakarta dan sekitarnya.
 
Dalam mengajar Buya memang cukup cermat dan sabar. Dalam setiap pengajian ia hanya mengajar dengan kitab, agar pengajian terarah. Berdasarkan pengalamannya belajar kepada beberapa guru dan merujuk berbagai macam kitab, Buya berusaha menyampaikan ilmu secara sederhana agar mudah ditangkap oleh muridnya. Prinsip Buya dalam mengajar, biar sedikit asal betul-betul paham dari pada banyak tetapi tidak ada yang paham.
 
Dari sini banyak masyarakat yang senang belajar kepada Buya. Orang yang pernah mengikuti pelajarannya pun tertarik untuk selalu mengikutinya. Kemudian buya mendirikan sebuah pesantren yang bernama Al-Awwabin, selain itu juga mempunyai pengajian rutin di beberapa masjid dan majelis ta’lim, serta mengajar tetap Kitab Fathul Mu’in pada Radio Asy-Syafi’iyyah sejak tahun 1982. Pengajian tetap yang sampai sekarang masih berjalan antara lain:
a.       MT. Al-Awwabin (Tebet Barat)
b.      MT. Al-Ikhwan (Jl. Tawes, Tebet Barat)
c.       MT. Al-Istiqamah (Pondok Kopi, Jakarta Timur)
d.      MT. Nurul Iman, Lampiri (Pondok Kelapa, Jakarta Timur)
e.       MT. Al-Barokah (Pinang Ranti)
 
Dan masih banyak lagi majelis yang dipimpin oleh Buya KH. Abdurrahman Nawi ini. Selain mengajar dan berdakwah secara langsung, beliau juga menulis kitab dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab, diantaranya:
a.       Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, tentang sharaf
b.      Ilmu Nahwu Melayu, tentang ilmu nahwu
c.       Sullam al-‘Ibad, tentang akidah (tauhid)
d.      Tujuh Kaifiyat, tuntunan shalat-shalat sunah, dll
 
Adapun motivasi beliau menulis kitab-kitab tersebut adalah untuk membantu umat Islam secara luas agar mengetahui bagaimana ilmu dan cara menjalankan ibadah-ibadah dengan benar. Karena buya merasa bahwa tidak semua orang itu dapat membaca dan mempelajari kitab-kitab fiqh berbahasa Arab, oleh sebab itu maka beliau mempunyai inisiatif untuk menulis kitab bahasa Melayu yang disusun dengan cara yang mudah, lengkap dan praktis agar setiap orang mudah paham dan bisa mengamalkannya.

Mendirikan Pesantren

Pada awalnya, Pondok Pesantren Al-Awwabin didirikan diatas tanah milik pribadi orang tua KH. Abdurrahman Nawi, yang bernama H. NAWI, saat itu lokasinya berada di Jl. Tebet-Barat VII Jakarta Selatan, tepat bersebelahan dengan rumah pribadi Beliau. Dan pada waktu itu pendidikannya masih bersifat  non formal, tak ada sekolah, Al-Awwabin hanya menampung santri dewasa, yang umurnya berkisar 20 tahun keatas, dengan jumlah yang dibatasi pula mengingat tempat yang belum memadai.

Dan akhirnya, pada tahun - tahun berikutnya atau berkisar tahun 70 an, barulah anak lelaki kelahiran betawi yang disebut sebut sebagai Kyai Antik ini, mulai membangun gedung - gadung baru untuk mengembangkan kepak sayap Al-Awwabin dengan membuka pendidikan yang bersifat formal, yaitu pendidikan sekolah untuk tingkat Tsanawiyah ( SMP ) dan Aliyah ( SMA ), gedung gedung tersebut dibangun diatas tanah milik pribadi orang tuanya, yang lokasinya berbeda dari yang pertama tadi yakni di Jl. Tebet -Barat VI H Jakarta Selatan.

Kini pesantrennya dipindah ke Depok, di mana Pondok Pesantren Al-Awwabin Putri atau disebut juga Pondok Pesantren Al-Awwabin II berlokasi di Jl. H. Sulaiman No. 12, Perigi, Bedahan, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Sementara, Pondok Pesantren Al-Awwabin I ( putra dan putri) beralamat di Jl. Raya Sawangan No. 21 Kota Depok. Sedangkan sekretariat lama yakni di Jl. Tebet Barat VI H/3 , Jakarta Selatan, dijadikan sebagai sekretariat pendidikan taklim yang ada di Jakarta.

Tutup Usia

KH Abdurrahman Nawi kini disemayamkan di Pesantren Al-Awwabin, Depok. Rencananya jenazah akan dimakamkan pada jam 09.00 besok pagi di Pesantren Al-Awwabin, Bedahan, Depok. Kiai Abdurrahman Nawi merupakan Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta periode 1992-1996.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/113643/innalillahi-ulama-kharismatik-betawi-kh-abdurrahman-nawi-wafat
KH Abdurrahman Nawi kini disemayamkan di Pesantren Al-Awwabin, Depok. Rencananya jenazah akan dimakamkan pada jam 09.00 besok pagi di Pesantren Al-Awwabin, Bedahan, Depok. Kiai Abdurrahman Nawi merupakan Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta periode 1992-1996.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/113643/innalillahi-ulama-kharismatik-betawi-kh-abdurrahman-nawi-wafat

 KH Abdurrahman Nawi wafat pada pukul 13.35 di Pesantren Al-Awwabin sepulang dari Rumah Sakit Bakti Yudha Depok, Jawa Barat, Senin 18 November 2019, Beliau dimakamkan di Pesantren Al-Awwabin, Bedahan, Depok.