Biografi KH. Ali Syibromalisi

 
Biografi KH. Ali Syibromalisi

Daftar Isi Profil KH. Ali Syibromalisi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Guru
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Kisah

Kelahiran

KH. Ali Syibromalisi bin Guru Mughni bin Sanusi bin Qois bin Ayub atau yang kerap di sapa dengan panggilan KH. Ali Syibromalis lahir di Kuningan, Jakarta, 25 Desember 1921. Beliau merupakan putra dari pasangan Guru Mughni dengan Hj. Masmawin.

Ayahanda beliau, Guru Mughni Kuningan merupakan satu dari enam guru terkemuka di Betawi.

Wafat

KH. Ali Syibromalis wafat pada bulan Juli 1996 pukul 14.45 WIB. Beliau berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta Selatan, karena sakit. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Mega Kuningan di samping makam ayah, kakek dan buyutnya.

Keluarga

KH. Ali Syibromalisi melepas masa lajangnya dengan menikahi Syaikhoh putri dari Guru Marzuqi Cipinang Muara. Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai 11 anak.

Kemudian KH. Ali Syibromalisi, menikah kembali dengan Tihana, gadis yang berasal dari Pela Bangka, salah seorang muridnya. Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai 11 anak.

Anak-anaknya yang terkenal mendalami agama ada tiga orang, yaitu KH. Marzuki Ali,  DR. Faizah Ali, dan Mustafa.

Pendidikan

Sekitar tahun 1933, saat usia beliau 12 atau 13 tahun, KH. Ali Syibromalisi dikirim ke Makkah oleh sang ayahnya, Guru Mughni untuk belajar memperdalam ilmu-ilmu Islam. Setelah beberapa lam belajar di Mekkah, beliau akhirnya kembali ke Tanah Air karena alasan politik dan kondisi perang dunia II yang mengharuskan pelajar-pelajar Indonesia di Makkah kembali ke tanah airnya. Guru yang ia sering sebut yang terbesar adalah Syaikh Yasin Al-Fadani.

Kedekatan murid dan guru ini tidak diragukan, bahkan ketika Syaikh Yasin diundang Presiden Suharto ke Indonesia, Syaikh Yasin sempat mampir di rumah KH. Ali Syibromalisi. Kembali ke tanah air ia terus berjuang, melalui 3 media, Formal dan Non Formal (pendidikan, majelis ta`lim, organisasi masyarakat dan politik).

Perjuangan itu terus ia lakukan sampai akhir hayat. Di tanah air, teman seperjuangannya yang banyak bersama melangkah memperjuangkan misi yang sama adalah KH. Abd Razak Ma’mun (keponakan), KH. Abd Syakur Chairi (teman), KH. Ahmad Hajjarmalisi (kakak).

Menjadi Guru

Setalah dirasa cukup mendapatkan ilmu dari Mekkah, KH. Ali Syibromalisi kemudian mengamalkan ilmunya dengan mengajar di 10 tempat perminggunya. Beberapa Masjid yang beliau sempat mengajar, yaitu Masjid Baitul Mughni, Masjid Istiqlal, Masjid Istikmal, Masjid Darussalam, Kuningan Barat, Masjid Blok S, dan beberapa masjid di Kemang, Cipete dan lain-lain. Selain ahli mengajar, ia juga ahli dalam ceramah.

Ia sering menyampaikan Khutbah Jum’at dan Ied, ceramah di kesempatan hari-hari besar Islam, dan menghadiri pertemuan-pertemuan tingkat provinsi dan Nasional.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Ali Syibromalisi juga dikenal dengan sosok yang aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU). Jabatannya yang tertinggi adalah menjadi salah satu Ketua di  PBNU, aktif di Dewan Masjid, walau hanya di  tingkat wilayah, aktif di MUI Pusat tercatat sebagai anggota/pengurus Ittihad al-Muballighin pimpinan KH. A. Syaihu dan menjadi ketua atau pengurus di beberapa Yayasan, kepengurusan masjid. Antara lain, Yayasan Darussa’adah, Yayasan KH. Abdul Mughni Kuningan, Masjid al-Taysir, Masjid Darussalam.

Untuk melanjutkan misi dakwahnya, KH. Ali mempersiapkan penerusnya dari murid maupun anak yang kemudian ia kirim atau usahakan untuk mendapatkan beasisawa ke timur tengah. Juga mengirim putranya, KH. Marzuki Ali ke Makkah, lalu ke Mesir. KH. Marzuki Ali dikenal sebagai jago baca kitab di kalangan mukimin Makkah dan Mesir.

Ia juga mengirim putrinya Faizah Ali ke Al-Azhar Mesir, putrinya ini berhasil sampai mendapat gelar doktor. Ia juga mengusahkan beasiswa untuk keponakannya, yaitu Nasruddin Syahrowardi yang belajar ke Madinah, selesai Lc. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke Mesir. Ahmad Luthfi Fathullah belajar ke Syria, selesai Lc. lalu melanjutkan sampai selesai doktor.

Kisah

Salah satu kelebihan KH. Ali Syibromalisi yang jarang dimiliki kebanyakan kiai adalah sisi ekonomi. Ia mewariskan jiwa dagang dari orangtuanya, Guru Mughni yang dikenal sebagai kiai yang alim, kaya, jago berdagang. KH. Ali menggeluti usaha kontrak bangun. Membangun rumah-rumah mewah untuk disewakan kepada orang-orang asing.

Usaha inilah yang banyak membantu ekonominya. Selian itu, usaha yang tetap dipertahankan sampai akhir hayat adalah memelihara sapi perah, yang menjadi usaha kebanyakan orang kuningan, kampung asalnya. Namun, menurut Dr. KH. Ahmad Luthfi Fathullah Mughni, MA, dengan segala sepak terjang beliau yang patut ditiru, beliau tetap punya sisi kekurangan. Yaitu, tidak menulis.

Padahal, orangtuanya, Guru Mughni, sudah menunjukkan contoh yang baik dengan menulis dan mencetak buku sendiri, minimal 2 karya yang sudah diterbitkan. Tidak diketahui bahwa KH. Ali sempat menuliskan sebuah buku yang diwariskan untuk generasi anak cucunya.