Pesantren Al-Khoiriyah Probolinggo

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp 0. Donasi Sekarang
 
Pesantren Al-Khoiriyah Probolinggo

Profil

Pesantren Al Khoiriyah di Dusun Masjid Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, didirikan oleh KH Murjadi pada tahun 1901 silam. Pesantren yang kini diasuh oleh KH Saifullah ini menjadi satu-satunya yang pernah menjadi penampungan santri tunagrahita titipan dari Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo.

Pengasuh Pesantren Al Khoiriyah KH Saifullah menjelaskan, sejarah pendirian pesantren ini diawali sejak tahun 1901 atau sebelum kemerdekaan. Kala itu pesantren Al Khoiriyah layaknya pesantren pada umumnya dengan fokus pada pesantren salafiyah berupa sekolah madrasah diniyah. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1980 pesantren itu mulai mendirikan pendidikan formal. Dimulai dari sekolah MI dan MTs, kala itu tonggak kepemimpinan sudah diasuh Kiai Saifullah.

Mendirikan pendidikan formal itu bukan permintaan masyarakat, melainkan inisiatif dirinya atas permintaan Rais Aam PBNU KH Achmad Shiddiq. Pada saat itu, Kiai Achmad Shiddiq berkunjung untuk meresmikan Masjid Al Khoiriyah. Dalam ceramahnya, kiai asal Kabupaten Jember itu meminta kepada pengurus yayasan dan pesantren untuk mengembangkan pesantren dari salaf menjadi khalaf (modern, dengan menyediakan kurikulum dan pendidikan formal).

Alasannya, pendidikan khalaf menjadi kebutuhan masyarakat. Dan jika pesantren tidak menyiapkan, lambat laun akan ditinggalkan para santri. “Kami sadari betul apa yang diucapkan KH Achmad Shiddiq dan sejak itu kami pun mendirikan beberapa pendidikan formal,” jelas suami dari Nyai Hj. Sariroh ini, Ahad (21/9). Pada tahun 2012 silam pesantren ini menjadi terlengkap di Kecamatan Leces.

Dengan perkembangan jumlah santri (bukan santri) mencapai 1809 siswa dari berbagai pendidikan formal. “Kami bersyukur disini sudah berkembang, semoga saja bisa terus dipertahankan,” tuturnya. Di Kecamatan Leces sendiri terdapat 49 pesantren yang berdiri. Mulai dari desa paling selatan Desa Malasan Kulon hingga paling utara Desa Warujinggo. Namun bisa jadi pesantren ini yang memiliki fasilitas pendidikan terlengkap.

Ada pendidikan formal di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo. Pendidikan formal di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo mulai dari Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Semuanya bernama Nurus Sahid. Sementara yang pendidikan di bawah Kementerian Agama meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).


Pengasuh

  1. KH. Murjadi
  2. KH. Saifullah
  3. KH. Abu Sufyan

Pendidikan

Pendidikan Formal

  1. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
  2. Madrasah Tsanawiyah (MTs) 
  3. Madrasah Aliyah (MA)
  4. Sekolah Dasar Islam (SDI)
  5. Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) 
  6. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Pendidikan Non Formal

  1. Tahfidzul Quran
  2. Madrasah Diniah


Ekstrakurikuler

  1. Tahfidzul Qur’an 
  2. Kajian Kitab kuning
  3. Tahlil
  4. Imamah
  5. Khitobah
  6.  Muhadlarah (Latihan Pidato/Dakwah)
  7. Seni Hadroh
  8. Kursus B. Arab dan B. Inggris
  9. Ketrampilan Hidup dan Wirausaha
  10. Pramuka
  11. PMR
  12. Paskibra
  13. Sepakbola
  14. Voli
  15. Basket
     





Fasilitas

1. Masjid
2. Asrama Pesantren
3. Gedung Sekolah
3. Gudang
4. Perpustakaan
5. MCK/WC
6. Laboratorium Komputer
7. Laboratorium Bahasa
8. Ruang tamu
9. Kopontren
10. Dapur
11. Aula
12. Lapangan
13. Kantor



Alamat

Dusun Masjid Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur

Kode Pos: 52358

Data pesantren lebih lengkap per propinsi dan kabupaten/kota dapat dicek di wiki.laduni.id/pesantren

Untuk berpartisipasi memperbarui informasi ini, silakan mengirim email ke redaksi@laduni.id.

Pesantren Al Khoiriyah di Dusun Masjid Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, didirikan oleh KH Murjadi pada tahun 1901 silam. Pesantren yang kini diasuh oleh KH Saifullah ini menjadi satu-satunya yang pernah menjadi penampungan santri tunagrahita titipan dari Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo. <> Pengasuh Pesantren Al Khoiriyah KH Saifullah menjelaskan, sejarah pendirian pesantren ini diawali sejak tahun 1901 atau sebelum kemerdekaan. Kala itu pesantren Al Khoiriyah layaknya pesantren pada umumnya dengan fokus pada pesantren salafiyah berupa sekolah madrasah diniyah. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1980 pesantren itu mulai mendirikan pendidikan formal. Dimulai dari sekolah MI dan MTs, kala itu tonggak kepemimpinan sudah diasuh Kiai Saifullah. Mendirikan pendidikan formal itu bukan permintaan masyarakat, melainkan inisiatif dirinya atas permintaan Rais Aam PBNU KH Achmad Shiddiq. Pada saat itu, Kiai Achmad Shiddiq berkunjung untuk meresmikan Masjid Al Khoiriyah. Dalam ceramahnya, kiai asal Kabupaten Jember itu meminta kepada pengurus yayasan dan pesantren untuk mengembangkan pesantren dari salaf menjadi khalaf (modern, dengan menyediakan kurikulum dan pendidikan formal). Alasannya, pendidikan khalaf menjadi kebutuhan masyarakat. Dan jika pesantren tidak menyiapkan, lambat laun akan ditinggalkan para santri. “Kami sadari betul apa yang diucapkan KH Achmad Shiddiq dan sejak itu kami pun mendirikan beberapa pendidikan formal,” jelas suami dari Nyai Hj. Sariroh ini, Ahad (21/9). Pada tahun 2012 silam pesantren ini menjadi terlengkap di Kecamatan Leces. Dengan perkembangan jumlah santri (bukan santri) mencapai 1809 siswa dari berbagai pendidikan formal. “Kami bersyukur disini sudah berkembang, semoga saja bisa terus dipertahankan,” tuturnya. Di Kecamatan Leces sendiri terdapat 49 pesantren yang berdiri. Mulai dari desa paling selatan Desa Malasan Kulon hingga paling utara Desa Warujinggo. Namun bisa jadi pesantren ini yang memiliki fasilitas pendidikan terlengkap. Ada pendidikan formal di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo. Pendidikan formal di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo mulai dari Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Semuanya bernama Nurus Sahid. Sementara yang pendidikan di bawah Kementerian Agama meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/54687/berubah-pesantren-khalaf-atas-permintaan-kh-achmad-shiddiq
Pesantren Al Khoiriyah di Dusun Masjid Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, didirikan oleh KH Murjadi pada tahun 1901 silam. Pesantren yang kini diasuh oleh KH Saifullah ini menjadi satu-satunya yang pernah menjadi penampungan santri tunagrahita titipan dari Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo. <> Pengasuh Pesantren Al Khoiriyah KH Saifullah menjelaskan, sejarah pendirian pesantren ini diawali sejak tahun 1901 atau sebelum kemerdekaan. Kala itu pesantren Al Khoiriyah layaknya pesantren pada umumnya dengan fokus pada pesantren salafiyah berupa sekolah madrasah diniyah. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1980 pesantren itu mulai mendirikan pendidikan formal. Dimulai dari sekolah MI dan MTs, kala itu tonggak kepemimpinan sudah diasuh Kiai Saifullah. Mendirikan pendidikan formal itu bukan permintaan masyarakat, melainkan inisiatif dirinya atas permintaan Rais Aam PBNU KH Achmad Shiddiq. Pada saat itu, Kiai Achmad Shiddiq berkunjung untuk meresmikan Masjid Al Khoiriyah. Dalam ceramahnya, kiai asal Kabupaten Jember itu meminta kepada pengurus yayasan dan pesantren untuk mengembangkan pesantren dari salaf menjadi khalaf (modern, dengan menyediakan kurikulum dan pendidikan formal). Alasannya, pendidikan khalaf menjadi kebutuhan masyarakat. Dan jika pesantren tidak menyiapkan, lambat laun akan ditinggalkan para santri. “Kami sadari betul apa yang diucapkan KH Achmad Shiddiq dan sejak itu kami pun mendirikan beberapa pendidikan formal,” jelas suami dari Nyai Hj. Sariroh ini, Ahad (21/9). Pada tahun 2012 silam pesantren ini menjadi terlengkap di Kecamatan Leces. Dengan perkembangan jumlah santri (bukan santri) mencapai 1809 siswa dari berbagai pendidikan formal. “Kami bersyukur disini sudah berkembang, semoga saja bisa terus dipertahankan,” tuturnya. Di Kecamatan Leces sendiri terdapat 49 pesantren yang berdiri. Mulai dari desa paling selatan Desa Malasan Kulon hingga paling utara Desa Warujinggo. Namun bisa jadi pesantren ini yang memiliki fasilitas pendidikan terlengkap. Ada pendidikan formal di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo. Pendidikan formal di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo mulai dari Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Semuanya bernama Nurus Sahid. Sementara yang pendidikan di bawah Kementerian Agama meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/54687/berubah-pesantren-khalaf-atas-permintaan-kh-achmad-shiddiq
Pesantren Al Khoiriyah di Dusun Masjid Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, didirikan oleh KH Murjadi pada tahun 1901 silam. Pesantren yang kini diasuh oleh KH Saifullah ini menjadi satu-satunya yang pernah menjadi penampungan santri tunagrahita titipan dari Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo. <> Pengasuh Pesantren Al Khoiriyah KH Saifullah menjelaskan, sejarah pendirian pesantren ini diawali sejak tahun 1901 atau sebelum kemerdekaan. Kala itu pesantren Al Khoiriyah layaknya pesantren pada umumnya dengan fokus pada pesantren salafiyah berupa sekolah madrasah diniyah. Seiring dengan perjalanan waktu, pada tahun 1980 pesantren itu mulai mendirikan pendidikan formal. Dimulai dari sekolah MI dan MTs, kala itu tonggak kepemimpinan sudah diasuh Kiai Saifullah. Mendirikan pendidikan formal itu bukan permintaan masyarakat, melainkan inisiatif dirinya atas permintaan Rais Aam PBNU KH Achmad Shiddiq. Pada saat itu, Kiai Achmad Shiddiq berkunjung untuk meresmikan Masjid Al Khoiriyah. Dalam ceramahnya, kiai asal Kabupaten Jember itu meminta kepada pengurus yayasan dan pesantren untuk mengembangkan pesantren dari salaf menjadi khalaf (modern, dengan menyediakan kurikulum dan pendidikan formal). Alasannya, pendidikan khalaf menjadi kebutuhan masyarakat. Dan jika pesantren tidak menyiapkan, lambat laun akan ditinggalkan para santri. “Kami sadari betul apa yang diucapkan KH Achmad Shiddiq dan sejak itu kami pun mendirikan beberapa pendidikan formal,” jelas suami dari Nyai Hj. Sariroh ini, Ahad (21/9). Pada tahun 2012 silam pesantren ini menjadi terlengkap di Kecamatan Leces. Dengan perkembangan jumlah santri (bukan santri) mencapai 1809 siswa dari berbagai pendidikan formal. “Kami bersyukur disini sudah berkembang, semoga saja bisa terus dipertahankan,” tuturnya. Di Kecamatan Leces sendiri terdapat 49 pesantren yang berdiri. Mulai dari desa paling selatan Desa Malasan Kulon hingga paling utara Desa Warujinggo. Namun bisa jadi pesantren ini yang memiliki fasilitas pendidikan terlengkap. Ada pendidikan formal di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo. Pendidikan formal di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo mulai dari Sekolah Dasar Islam (SDI), Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Semuanya bernama Nurus Sahid. Sementara yang pendidikan di bawah Kementerian Agama meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/54687/berubah-pesantren-khalaf-atas-permintaan-kh-achmad-shiddiq
 

Relasi Pesantren Lainnya

  • Belum ada pesantren yang berelasi dengan pesantren ini.