Biografi KH Abdul Muchit Muzadi

 
Biografi KH Abdul Muchit Muzadi

Riwayat dan Kelahiran

Beliau bernama lengkap Abdul Muchit Muzadi. Lahir pada 19 Jumadil Awal 1344 H / 4 Desember 1925 M Bangilan ,Tuban  dari keluarga yang memang menjunjung tinggi ilmu pengetauhan dan agama , terpandang dan termasuk keluarga yang terbilang mampu dikala itu. Ayahanda beliau seorang pedagang tembakau sukses bernama Muzadi.

Serta seorang ibu yang selalu menghasi hari-hari beliau dengan kasih sayang dan dari ibundanya beliau belajar dasar-dasar agama seperti membaca Al-Qur’an. Rumyati, ibundanya sebagai sosok penting dalam hidupnya lewat kepribadian dan doa yang selau dipanjatkan untuknya.

Hidup dimasa-masa penjajahan, membuat pola pikir dan sikap nasionalisme yang tinggi mempengaruhi kepribadian Muchit muda. Setelah dikirim untuk mondok di Kulon Banon Kajen dibawah asuhan KH. Nawawi, tak lupa juga berguru kepada KH Salam (Abah KH Sahal Mahfudh). Tak puas dengan itu beliau pun melanjutkan belajar ilmu agama dengan berguru kepada Hadrotus Syeikh Hasyim Asy’ary di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Disinilah pemikiran beliau tentang Nasionalisme tumbuh berkembang. Bertemu dengan teman-teman yang aktif dalam pergerakan menentang penjajah Jepang yang baru masuk ke Indonesia saat itu. Beliau bersama teman-teman nya mendirikan Koperasi Desa ”Tokoku”. Sekaligus sebagai sekretaris pada tahun 1942-1944. Beliau juga masuk kedalam Suisintai “Barisan Pelopor” yang didirikan di Bangilan serta ikut aktif di organisasi ini. Suisintai merupakan sebuah organisasi yang berdiri atas inisiatif Bung Karno guna mempersiapkan para pemuda menuju kemerdekaan.

Sedangkan kelompok yang lain seperti Fujinkai (untuk para kaum perempuan), Seinendan (untuk para pelajar), Keibodan (untuk kaum pemuda kampung) dan Heiho didirikan oleh Dai Nippon untuk menyongsong Perang Asia Timur Raya. Disini juga beliau ditanamkan rasa nasionalisme yang tinggi sehinga Jepang pun memandangnya sebagai ancaman yang akan mengancam .

Beliau juga aktif dalam bidang kemiliteran yang ketiaka itu beliau masuk kedalam barisan laskar Hizbullah sampai beliau diangkat menjadi kepala kompi dengan memimpin 60 anak buah yang bermarkas di Bangilan yang masih dalam Batalyon Bojonegoro yang dipimpin H. Romli. Ketika terjadi rasionalisasi Hizbullah kepada TNI 1947, beliau memilh untuk keluar karena merasa tidak nyaman dan jiwanya tidak lari kesitu. Dunia pendidikan lebih beliau pilih dan berkhidmat untuk ilmu pengetahuan, agama, NU dan Indonesia  .

Beliau juga merintis beberapa sekolahan diantaranya, Sekolah Menengah Islam (SMI) lalu Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama dll. Itu semua tidak lepas dari khidmah dan rasa pentingnya ilmu untuk diajarkan dan sebarluaskan di setiap individu yang ada .

Karena kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama, mbah Muchit terlibat aktif di jam’iyyah Nahdlatul Ulama menjadi Sekretaris GP. Ansor Kota Yogyakarta (1961-1962), Sekretaris GP Ansor Cabang Kabupaten Malang, Sekretaris Cabang NU Jember (1976-1980), Wakil Ketua Cabang NU Jember (1976-1980), Pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur (1980-1985), Wakil Rois Syuriyah NU Jawa Timur ( 1985-1990), Rois Syuriyah PBNU (1989-2004), dan Mustasyar PBNU (2004-2009).

 

Masa Pendidikan

Sejak kecil, almarhum aktif di dunia pergerakan hingga kemerdekaan. Setelah belajar di Pesantren Tuban, ia melanjutkan belajar kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang.Pada tahun 1941, saat usianya masih 16 tahun, ia telah menjadi anggota NU melalui pendaftaran di Ranting NU Tebuireng. Di Tebuireng, ia juga belajar berorganisasi. Di sana, ia bertemu beberapa santri terkenal dari daerah lain, diantaranya KH Ahmad Shidiq.

Setamat dari Tebuireng ia kembali ke kampung halamannya di Tuban dengan mendirikan Madrasah Salafiyah (1946). Walaupun sebagai guru, ia juga ikut berjuang melawan penjajah dengan menjadi anggota Lasykar.

Pada tahun 1952, Kiai Muchit mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI), selanjutnya pada tahun 1954 juga mendirikan Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama. Saat menjadi pegawai di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta (1961), ia mengikuti kuliah di Universitas Cokroaminoto.

Dari Yogyakarta, ia ditugaskan di IAIN Malang pada tahun 1963 dan tahun itulah ia merintis SMP NU. Begitu juga ketika menjadi Pembantu Dekan II di IAIN Sunan Ampel Jember, ia juga mendirikan Madrasah Tsanawiyah.

Penugasan ke IAIN Sunan Ampel Jember membuatnya bertemu lagi dengan sahabat seperguruannya yang menjadi pengasuh pesantren di Jember, yaitu KH. Achmad Shidiq. Dia menemukan teman diskusi yang seimbang dan akhirnya banyak menulis tentang pemikiran keislaman.

Ketika sahabatnya itu menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU, ia membuat rumusan konseptual mengenai Aswaja, menuntaskan hubungan Islam dengan negara, dan mencari rumusan pembaruan pemikiran Islam, serta strategi pengembangan masyarakat NU, sehingga ia menjadi sekretaris pribadi KH Achmad Shidiq.

Sukses “duet” KH Ahmad Shiddiq-KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam memimpin NU tidak bisa lepas dari pikiran kreatif KH Muchit Muzadi yang menjadi “penasehat” pemikiran KH Ahmad Shidiq.

 

Pengalaman Organisasi

Mbah Abdul Muchith Muzadi merupakan pejuang organisasi yang luar biasa. Sejak pindah dari Tuban ke sejumlah daerah, dia terus berjuang bersama NU.

Di NU, Mbah Abdul Muchith Muzadi pernah menjabat sebagai Sekretaris GP Ansor Jogjakarta (1961-1962), Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang dan Sekretaris PCNU Jember (1968-1975). Dia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PCNU Jember (1976-1980), pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004), dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).

Ketika NU masih bersama Masyumi, Kiai Muchith juga ikut berjuang bersama para ulama lainnya di Masyumi. Di situ dia pernah menjabat sebagai Komandan Kompi Hizbullah yang saat itu juga sebagai anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tuban (1947-1951). Pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban (1959-1961).

Di organisasi NU, keterlibatan Mbah Muchit sangat besar dalam perumusan konsep menjelang Muktamar di Situbondo tahun 1984 yang kemudian memutuskan khittah jam’iyyah NU, kembalinya NU ke kancah perjuangan, meninggalkan dunia politik praktis. Bersama KH Achmad Shiddiq, Rais Aam Syuriyah PBNU (1984-1989), Kiai Muchit sering disebut sebagai sosok yang mewarnai pemikiran dan gagasan Kiai Achmad Shiddiq.

 

Pengalaman Kemiliteran

Abdul Muchith pernah bergabung dengan Hizbullah ketika laskar itu mendirikan cabangnya di daerah Bangilan. Namun dia tidak bisa mengikuti latihan perwira Hizbullah angkatan pertama di Cibarusa, karena tidak diizinkan orang tuanya. Ia bergabung dengan Hizbullah ketika para alumni pendidikan angkatan pertama itu membentuk Hizbullah di daerah masing-masing. Dirinya bergabung ke dalam Hizbullah setelah setahun berada dalam Suisintai. Di Hizbullah, selain dilatih kemiliteran, ia juga diberi bekal pendidikan kerohanian oleh para ulama.

Kyai Muchit, lantas ditunjuk sebagai Komandan Kompi Hizbullah, tatakala tiga bagian Hizbullah (Bangilan, Senori dan Singgahan) disederhanakan menjadi satu Kompi Bangilan. Sementara markas utama Batalyon masih tetap di Bojonegoro, dengan Komandan Batalyon Kapten H Romli.

Dengan membawahi 60 orang anak buah, Abdul Muchit bermarkas di rumah Basyar, salah seorang pamannya. Setiap hari Abdul Muchith harus menjalani kehidupan dengan disiplin tentara. Setiap pagi berdinas di markas mengawasi anak buah. Usai Dzuhur dia pulang untuk mengajar di madrasah yang didirikannya bersama masyarakat. Ketika hari mula beranjak malam dengan menenteng pistol di pinggang dirinya jalan-jalan ke stasiun untuk melihat situasi. Itu sudah menjadi salah satu kebiasaannya. termasuk ketika mengajar di sekolah.

Abdul Muchit pun pernah turut bergabung dengan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), ketika masa-masa awal kemerdekaan tahun 1945. Juga pernah bergabung dengan pasukan Mujahidin. Beberapa kali dirinya ikut bergerilya melawan penjajah Belanda di wilayah Teritorial Troep Komando Distrik Militer Tuban.

Namun ketika ada rasionalisasi Hizbullah ke dalam TNI, 1947, Abdul Muchit tidak masuk ke dalamnya. Karena dia merasa, jiwanya memang bukan jiwa tentara. Dirinya juga pernah masuk TKR, tapi hanya betah selama tiga hari. Ia memilih pulang, karena merasa tidak mempunyai watak sebagai tentara. “Saya memilih kembali sebagai guru,” ujarnya.

 

Karya

Selain aktif dalam pergerakan , pendidikan dan mengajar beiau juga aktif menilis untuk menuangkan buah pikirannya dalam lembaran – lembaran yang sebagai pengabadian pemikiran beliau untuk masa yang akan datang dan akan selalu terkenang sampai kapan pun . Berikut adalah karangan beliau :

  1. Buku Risalah Fiqh Wanita oleh AlـMaarif Bandung (1979). Buku ini kemudian diterbitkan ulang oleh Khalista Surabaya, 2005-­2006.
  2. Buku berjudul : NU dan Fiqh Kontekstual oleh LKPSM NU Yogyakarta (1994).
  3. Buku Pedoman bagi Kaum Muslimin Indonesia dalam Hidup Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara yang diterbitkan BP 7 Dati II Jember.
  4. Buku Apa dan Bagaimana NU yang diterbitkan oleh PCNU Jember dan kini diterbitkan ulang Khalista Surabaya dengan judul NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (2006-2007).
  5. Buku Mengenal Nahdlatul Ulama diterbitkan oleh Masjid Sunan Kalijaga pada cetakan satu hingga ketiga. Kemudian untuk cetakan selanjutnya buku ini diterbitkan oleh Khalista Surabaya (2004).

Wafat

KH Abdul Muchith Muzadi, wafat saat berusia 90 tahun, pada pukul 05.00 WIB, Minggu (6/9/2015), di Rumah Sakit Persada, Kota Malang, Jawa Timur. Jenazahnya dikebumikan di TPU Tegalboto Jalan Kalimantan Jember



 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Mbah Muchit begitu beliau akrab disapa. Pria kelahiran 4 Desember 1925 di Bangilan, Tuban itu, terlahir dengan nama lengkap Abdul Muchit. Ketika dewasa, ia menisbatkan nama ayahnya dibelakang namanya, sehingga menjadi Abdul Muchit Muzadi. Bagi warga NU, nama Mbah Muchit tak asing. Ia dikenal sebagai pengawal khittah NU setelah ditetapkan pada muktamar NU tahun 1984 di Situbondo. Saat itu, kakak kandung Ketua Umum PBNU 1999 - 2009 KH Hasyim Muzadi itu, menjadi sekretaris pribadi Rais ‘Aam PBNU KH Achmad Siddiq. Konon, teks Khittah An-Nahdliyah yang dipresentasikan oleh Kiai Siddiq saat itu, ia yang mengetiknya. Sepanjang hidupnya ia dedikasikan dirinya untuk NU. Bahkan, beberapa saat sebelum kembali ke haribaan Allah SWT, 6 September dua tahun yang lalu, beliau masih sempat "cawe-cawe" menenangkan hiruk pikuk pasca Muktamar 33 NU. Namun, dibalik kiprahnya di NU dan masyarakat, ada sisi yang menarik dari sosok Mbah Muchit. Ia merupakan sosok yang gemar membaca dan menulis. Sampai di penghujung usianya, ia masih berlangganan beberapa surat kabar nasional di kediamannya di Jember. Setiap pagi ia rajin membaca koran dan juga majalah. Selain itu, ia juga gemar membaca berbagai literatur. Tak hanya literatur yang sefaham, bahkan ia juga mengkaji literatur lintas madzab dan lintas kajian. Pada sebuah kesempatan ia pernah bercerita. Kawan-kawannya di Muhammadiyah Jember tak pernah mendebatnya. Meski, anatara NU dan Muhammadiyah kerap kali berbeda pendapat. Apa pasalnya? "Mereka tidak berani berdebat karena referensi kemuhammadiyahannya lebih lengkapan saya," tuturnya sembari tersenyum. Berkat kegemarannya membaca ini, beliau juga penulis yang cukup produktif. Banyak artikelnya yang dimuat di media massa. Terutama tentang ke-NU-an. Selain itu, juga ada beberapa buku yang berhasil diselesaikan oleh beliau. Di antaranya adalah Fikih Perempuan Praktis (Khalista), Mengenal Nahdlatul Ulama (Khalista) dan NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (khalista). Selain yang sudah terbit, ketika beliau wafat, masih banyak pula tulisan-tulisannya yang masih berupa manuskrip. Belum pernah dipublikasikan dan tersimpan di perpustakaan pribadinya di Jember. Tak hanya membaca dan menulis, sisi literasi Mbah Muchit yang menarik adalah tentang kegemarannya membagikan buku. Untuk hal ini, ada beberapa cerita sebagaimana yang ditulis oleh Muhammad Subhan dalam "Berjuang Sampai Akhir: Kisah Seorang Mbah Muchit". Suatu ketika, Mbah Muchit menggelar pengajian setiap malam Sabtu di Masjid Sunan Kalijaga di samping rumahnya yang tak jauh dari Kampus UNEJ tersebut. Pengajian yang ia ampu adalah tentang keaswajaan. Yang menjadi rujukan dalam pengajian tersebut, adalah "Aswaja dalam Persepsi dan Tradisi NU" dan "Wawasan Umum Ahlussunnah wal-Jama'ah" yang keduanya ditulis oleh KH Tolchah Hasan. Kedua buku tersebut ternyata sudah jarang beredar di toko-toko buku. Adanya hanya di penerbitnya yang berada di Jakarta. Mbah Muchit pun memesan buku yang harganya Rp. 50 ribu per ekslempar itu. Lalu, ia membagikannya kepada para jama'ahnya. Sayangnya, setelah buku itu dibagikan, malah tak banyak jama'ahnya yang kembali datang untuk mengkaji buku tersebut. Tak hanya itu, pada 2006 Mbah Muchit membagikan bukunya sendiri yang berjudul "Mengenal Nahdlatul Ulama". Buku yang setebal 60 halaman dan dicetak dengan biaya sendiri itu, ia bagikan ke pengurus MWC dan Cabang NU se-Jawa Timur. Juga kepada pengurus PWNU dan PBNU yang saat itu sedang mengadakan pertemuan di kantor PWNU di Surabaya. Total ada 1.200 ekslempar buku yang ia bagikan dari 1.500 buku yang dicetak. Honorium yang didapatnya dari penerbit ketika menerbitkan buku, juga tak pernah beliau ambil. Mbah Muchit lebih senang mengambilnya dalam bentuk buku. Lalu, ia bagikan kepada orang lain yang datang bertamu atau saat ada acara. Desember 2005, ketika ulang tahunnya ke-80, Mbah Muchit juga membagikan bukunya yang berjudul "Fikih Perempuan Praktis". Saat itu, ia sedang mengadakan acara di Pesantren KH Wahid Hasyim, Bangil, Pasuruan. Begitu pula saat Munas dan Konbes NU di Surabaya pada 2006. Saat itu, beliau membagikan buku "NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran". Untuk buku yang terakhir ini, saya pernah mendapatkannya pula. Gratis pula. Saat itu, saya diberi oleh seseorang di pondok. Setelah cukup lama saya pelajari dan nangkring di rak buku, ada teman yang meminjamnya. Sampai saat ini, buku itupun tak kunjung balik. Mungkin, ada lagi yang meminjamnya dari teman saya tersebut. Tak balik juga. Dan terus bergulir demikian. Seperti itu, mungkin yang diharapkan oleh Mbah Muchit atas buku-buku yang ia bagikannya. Ia tidak rela jika buku yang dibagikannya tersebut sampai tidak terbaca. Maka, ketika buku itu sudah nangkring dan tak dibaca lagi, buku itu pun berpindah tangan. Bisa jadi, bukan?

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/79627/kiai-muchit-muzadi-dan-kegemarannya-