Biografi KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim

 
Biografi KH. Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim

KH Nur Muhammad Abdurrahim Busthamil Karim (lebih dikenal dengan nama Mbah Busthom) merupakan pendiri salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Lampung, yakni Pondok Pesantren Roudlotussholihin yang berada di Desa Purwosari, Kecamatan Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah. Jasanya sangatlah besar dalam perkembangan islam di bumi Lampung khususnya bidang Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah. Beliau dikenal sebagai guru thoriqoh lintas Jawa dan Sumatera.

Riwayat dan Keluarga

Mbah Busthom lahir di Lengkong, Wonoresik Wonosari, Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1890. Ayahnya bernama Sandikrama bin Dulah Siroj, sedang ibunya bernama Syartiyah. Masa kecil beliah dihabiskan di kampung halaman tempat kelahirannya sampai menginjak remaja.

Ada kejadian yang selalu diingat oleh keluarga simbah saat ia masih usia kanak-kanak, Busthom kecil mengalami kejang-kejang yang hebat sampai-sampai orang tuanya menghawatirkan kalau beliau mengidap penyakit ayan (epilepsy), tapi alangkah senang dan terkejutnya ketika tersadar, Busthom kecil bercerita dengan polosnya bahwa beliau baru saja terbang mengelilingi Desa Wonosari. Kejadian ini adalah sebagai kisah yang mengawali kenyelenehan dan koriqul adah simbah busthom, bahwa ternyata beliau calon panutan umat dikemudian harinya. Masa kecil beliau banyak dihabiskan dikampung halaman dimana beliau dilahirkan, sampai menginjak masa remaja.

Masa Menuntut Ilmu

Dalam dunia tasawuf lazim dikenal dengan istilah ilmu syari’at dan ilmu hakikat dalam konteks ini ialah ilmu thoriqoh, oleh karenanya pengembaraan simbah Busthom dalam menuntut ilmu, dibagi dua fase.

A. Fase Mengaji Ilmu-Ilmu Syari’at
Lazimnya anak-anak desa pada zamanya, busthomi kecil mengawali pengembaraan keilmuannya untuk mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning semisal kitab Kasyifatussaja, Sarah Sulamussafinah, kitab Sulamuttaufiq.

B. Yang keduanya
adalah karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, kitab taqrib yang tashnif oleh Imam Ahmad bin Husein yang terkenal dengan Imam Abi Syuja’, dan kitab-kitab lainya di surau dan rumah-rumah kyai, diantaranya Kyai Sis, Kyai Ahmad Jazuli.

Setelah Simbah Busthom besar kemudian hijrah dari Kebumen ke wilayah Cilacap bagian barat tepatnya Desa Cisuru, Kecamatan Cipari. Alasannya karena di Grumbul Lengkong/Wonoresik kala itu belum ada seorang kyai yang intes kedunia pendidikan agama, penduduk Grumbul Wonoresik lebih tertarik kepada perdagangan daripada dunia pendidikan agama islam, sehingga Grumbul Wonoresik tidak melahirkan tokoh agama yang mampu membimbing warganya memperdalam ilmu agama, tentunya berbeda pada saat buku ini disusun, penyusun menyaksikan sendiri bahwa di grumbul wanaresik saat ini telah berdiri megah masjid dan pondok pesantren.

Selang beberapa tahun sejak pernikahannya, putra pertama buah pernikahanya dengan ning Muti’ah pun lahir, dan mereka memberi nama Ashmu’i. Pernikahan dan kehadiran buah hatinya, ternyata tidak mampu mengalahkannya kecintaannya kepada ilmu-ilmu agama.

Setelah menitipkan istri dan putranya yang pertama kepada mertuanya berangkatlah pemuda Busthomi ke Batavia. Perjalanan dari Kebumen ke Batavia beliau lalui berjalan kaki, dengan harapan setiap ulama pondok pesantren yang beliau singgahi selam perjalanan akan semakin memperkaya hazanah keilmuannya, diantaranya pondok pesantren yang disinggahi adalah pondok Cirebon.

Sesampainya ditanjung priuk ia merasa ngeri melihat ombak dan luasnya samudra ditambah simbah dengan berita-berita kecelakaan laut kala itu, untuk sementara waktu beliaupun mengurungkan niatnaya, jarak tempuh antara Kebumen Batavia waktu itu sebuah problematika tersendiri, alat transportasi yang serba terbatas, belum lagi system administrasi colonial Belanda disegala kehidupan, termasuk administrasi keluar masuk daerah yang kurang memihak kepada pribumi. Melihat kondisi ini pemuda Busthomi memutuskan untuk sementara tinggal di tanjung priuk. Dan demi keamanan beliau memilih tinggal ditempat kepala desa setempat.

Berdakwah di Cilacap

Waktu terus berjalan Simbah Basthomi pun benar-benar telah menjadi tokoh panutan. Pada decade tahun 1920 an, suatu hari beliau mengumpulkan sanak keluarganya bahwa isyarat istikharahnya menunjukkan agar beliau berdakwah ke wilayah bagian barat Jawa Tengah. Tanpa paksaan keluarga besar bahkan eyang Sandik Krama sang ayah adalah salah satu motor penggerak dan sebagai sanak kerabatnya pun ikut, mana kala Simbah Busthami memutuskan untuk hijrah dan menetap di Kedung Dadap, yaitu sebuah dusun dibibir kali Citandui sebuah sungai yang memisahkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Secara geografis dusun tersebut sekarang masuk di Desa Tambak Sari, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap. Meneladani Sirah Nabawiyah (Perjalanan Hijrah Nabi), mengawali dakwahnya beliau pun membangun Masjid sebagai sentral kegiatan beliau sudah laksana gula dan madu dan tak berapa lama Kedung Dadap dari berbagai penjuru berdatangan santri yang hendak Baiat Tharikoh, diantara murid-muridnya yang berpengaruh kala itu adalah :

  1. Kyai Tirmidji, Kiyai asal Panisihan Kedungreja Cilacap
  2. Kyai Hasan Ma’ruf, Panisihan Kedungreja Cilacap
  3. Kyai Mukri, Kiyai dari Prembun Pangandaran Ciamis Jawa Barat
  4. Kyai Mukhtar, dari Paledah Padaherang Ciamis
  5. Kyai Imam Sufiya, Maos Cilacap Jawa Tengah
  6. Kyai Sanusi, Langensari Ciamis Jawa Barat

Simbah Busthomi adalah manusia biasa seperti kebanyakan orang, Beliaupun bertani untuk menghidupi keluarganya dan membiayainya putra-putrinya di Pondok Pesantren. Beliaupun mencari tambahan penghasilan dengan menjual kerajinan alat-alat musik rebana hasil karyanya.

Hijrah ke Lampung

Rencana jahat PKI ini segera tercium oleh Kyai Zarqoni putra kedua Simbah Buthomi. beliau segera pergi ke Lampung untuk membuka jalan proses evakuasi sang ayah, kemudian atas bantuan si Bapak Jayusman kepala kampung Lands Baw (lambau) Gisting, Lampung Selatan (sekarang masuk Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung) pada pertengahan tahun 1952/1953 suatu malam Simbah Busthomi dan keluarganya melalui pangandaran Ciamis, Jawa Barat menuju ke Lampung.

Padahal sebagai mana kita ketahui pengandaran adalah sebuah pantai wisata yang tidak memiliki pelabuhan antar pulau, wallohu a’alam tetapi melalui pantai inilah Simbah Busthomi mengalami pengarungan samudranya ke tanah Sumatra.

Naas pada malam itu juga Kyai Asmu’i yang diberi tugas oleh sang ayah untuk meneruskan perjuangannya di Kedung Dadap, tak bisa lari dari kekejaman PKi, ia terbunuh secara keji jasadnya ditenggelamkan di Sungai Citandui, dan sampai sekarang jasadnya tidak diketemukan (keterangan KH Jamaluddin 13-12-2011 jam 9.00).

Seusai menyemikan benih iman dan akhlak kepada jama’ah di Waluyo Jati pada tahun 1962 didampingi Nyai Salbiyah istri keduanya. Simbah Busthamil merintis kehidupan baru di Way Lunik (yang sekarang adalah Desa Purwosari, Kecamatan Padangratu, Kabupaten Lampung Tengah).

Berbaur dengan warga setempat dan warga baru yang berdatangan dari pulau Jawa, yang kebetulan dari komunitasnya mayoritas adalah orang-orang sunda yang berasal dari belahan timur Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan segi etnis Jawa yang masih awam dengan Islam. Bersama dengan komunitas barunya Simbah Busthami bahu-membahu menyisir hutan dan jadilah hutan di Way Lunik (bahasa daerah Lampung) yang artinya kali kecil yang kemudian diadopsikan menjadi nama sebuah kampung.

Seperti didaerah lain di Lampung ketika mengawali langkahnya, di Way lunik pun Simbah Busthami mendapat sambutan yang sangat hangat dari warga setempat, walau masih ada sebagian warga kecil warga awam agama yang tidak suka dengan kehadiranya. Warga lain daerah yang sudah mengenal nama besarnyapun segera berdatangan untuk bersilaturrahmi dan sebagian lagi untuk tabarukan.

Mendirikan Pesantren

Maka segeralah Beliau mewujudkan programnya, pada tahun itu juga dibagun Masjid Al-Muttaqin yang cukup fundamental, laksana menara pemanggilan seruan Ilahiyah lambat tahun Way Lunik menjadi ramai oleh tamu-tamu yang berdatangan hendak menimba hakikat Ilahiyah melalui Baiat Thoriqoh.

Kegiatan bulanan yang jatuh pada tiap malam pada tanggal 11 bulan Qomariyah (Welasan), kemudian juga diadakan peringatan akbar tahunan yang jatuh pada tanggal 11 Robi’utsani , atau sering disebut dengan sebutan Haul Syeih Abdul Qodir Al-Jailani yang selalu digelar, sebagai ajang silaturrahmi dan ajang mendakwahkan Islam melalui nasehat-nasehat agamanya sekaligus memberikan tausiyah wejangan-wejangan tasawufnya melalui kegiatan Tawajjuhan atau Khataman. Jama’ah terus berdatangan dan tidak ketinggalan anak-anak muda yang ingin mengaji dan tabarukan dari tanah Jawa dan Sumatera juga semakin tahun semakin meningkat.

Maka untuk menampung anak-anak muda tersebut pada tahun 1971 sepulang dari Makkah guna menjalankan Ibadah Haji dianugrahi nama baru menjadi “Nur Muhammad Abdurrohim Busthamil Karim”. Akhirnya Beliau mendirikan Pondok yang diberi nama Pondok Pesantren Roudlotussholihin.

Pada dekade tahun tujuh puluhan ini Beliau banyak membai’at Jama’ah dan santri-santri seniornya di Jawa untuk dijadikan Mursyid antara lain :

  1. KH. Mustholi, Kedung Dadap Kedung Reja Cilacap Jawa Tengah.
  2. Kyai Musthofa Qalyubi, Setinggil Rawa Jaya Bantar Sari Cilacap Jawa Tengah.
  3. KH. Abdul Hamid, Klapusari Bulaksari Bantar Sari Cilacap Jawa Tengah.
  4. Kiyai Palil, Gandrung Manis Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah.
  5. KH. Mubaroq, Kedung Kerumpung Ciamis Jawa Barat.
  6. Kyai Aiman Sulaiman, Paledah Padaherang Ciamis Jawa Barat.
  7. KH. Misbahul Munir, Padaherang Ciamis Jawa Barat.
  8. Kyai Harun, Pangandaran Ciamis Jawa Barat.
  9. Kyai Abdul Aziz, Pangandaran Ciamis Jawa Barat.
  10. KH. Abu Said, Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah.
  11. KH. Abu Said, Maos Cilacap Jawa Tengah.
  12. KH. Syarif, Purwokerto Banyu Mas Jawa Tengah.
  13. KH. Muhammad Hidayat (santri ndalemnya sejak anak-anak), Pengasuh Pondok Pesantren Sukaraja Banyumas Jawa Tengah.
  14. Kyai Chairudin, Kebumen Jawa Tengah.
  15. Kyai Asrori, Kebumen Jawa Tengah.
  16. Kyai Abdul Cholik, Sawangan Banjar Negara Jawa Tengah. (tapi dalam satu riwayat, Kiyai Abdul Cholik dibai’at oleh Kiyai Abu Syujak menantu Simbah Busthami).
  17. Kyai Yahmad, Kebumen Banjar Agung Jawa Tengah.
  18. KH. Romli, Cisiri Cipari Cilacap Jawa Tengah.

Sedangkan Jama’ah dan santri-santri seniornya yang kemudian menjadi Mursyid di Sumatera adalah antara lain :

  1. Kyai Baidlowi, PC Merto.
  2. Kyai Abdul Basyir, Batang Hari Lampung Timur.
  3. Kyai Abdullah Ahmad, Pare Rejo Pringsewu
  4. Kyai Abu Suja’, Sendang Asih Lampung Tengah.
  5. Mbah ‘Asik, Gisting Atas Tanggamus.
  6. KH. Jamaluddin HB, Purwosari Padangratu Lampung Tengah.
  7. Kyai Marjuned, Sekampung Lampung Timur.

Berpulang

Sepulang dari Jawa kondisi Simbah Busthami tak kunjung membaik, akhirnya dengan meninggalkan warisan Ilmu dan Hikmah yang luar biasa kepada Jama’ah dan santri-santri yang berada di Jawa dan Sumatra pada tanggal 11 Dzul Hijjah 1399 H, atau bertepatan pada tanggal 31 Oktober 1979 M, di Way Lunik Beliau berpulang keharibaan Sang Kholik.

Perjuangan diteruskan oleh KH Jamaluddin HB. Putra yang ke 10-nya, dan ditangan dinginnya ini kini Pondok Pesantren Roudlotussholihin telah mencetak ribuan kader-kader Islam yang bertebaran hampir seluruh Provinsi di Sumatera.

Dari Masjid ke Masjid, Dari Pesantren ke Pesantren

Hampir sepanjang hidupnya Simbah Busthomi menghabiskan untuk berdakwah dengan mendirikan Masjid-Masjid, mengajarkan ajaran tasawuf melalui Thoriqoh Qodiriyah Wa Al-Naqsyabandiyah kepada murid dan santri-santrinya, mendirikan Pesantren, Madrasah diantaranya adalah :

  1. Masjid Kedudapan (Gedung Reja / Sidareja Cilacap).
  2. Masjid Rawa Keling (Rawaq Jaya / Sitiggil Bantar Sari Cilacap).
  3. Sekitar Tahun 1954 Masjid Lands Baw Gisting (Lampung Selatan, sekarang Kabupaten Tangamus).
  4. Pada sekitar tahun 1954 mendirikan Masjid Gisting Atas ( Tangamus).
  5. Tahun 1959 Masjid Sido Mulyo Roworejo (Lampung Selatan, Sekarang Pesawaran).
  6. Tahun 1960 atas permohonan Kiyai Umar untuk merubah Masjid Waluyo Jati Pringsewu Tanggamus, sekarang jadi Kabupaten Pringsewu.
  7. Tahun 1960 Masjid Sidomulyo Roworejo Lampung Selatan, sekarang Pesawaran.
  8. Tahun 1968 Masjid Al-Muttaqin Purwosari.
  9. Tahun 1968 mendirikan Pondok Pesanteren Roudlotussolihin Purwosari Lampung.
  10. Masjid Sendang Dadi.
  11. Atas permintaan masyarakat membangun Masjid Umbul Kultum Banyumas Tanggamus, sekarang menjadi Kabupaten Pringsewu.
  12. Masjid Mojorejo (Lampung Tengah atas permintaan masyarakat membangun Masjid Jaya Sekti (Lampung).
  13. Masjid Neglasari Liggapura (Lampung Tengah).
  14. Masjid Fathurrohman Purwodadi (Lampung Tengah).
  15. Masjid Baturaja Kota Agung (Tanggamus ) Bertepatan dengan wafatnya KH. Abdul Wahab pengasuh Pesantren Kesugihan Lor.
  16. Tahun 1972 Merehab Masjid Rawa Keling Rawa Jaya (Banter Sari Cilacap).
  17. Menyumbangkan kayu Rawa Keling untuk pembangunan Masjid Kedur Haur Pada Herang Ciamis Jawa Barat asuhan Kyai Mursyid (menantunya).
  18. Membangun Pesantren Patinggeng Pada Herang asuhan KH. Misbahul Munir(Ciamis).
  19. Tahun 1974 membangun Masjid Sitinggil Wetan asuhan Kyai Musthofa (Bantar Sari Cilacap).
  20. Masjid Laharan (sebelah utara Ciuru Cipari Cilacap).
  21. Merehab Masjid Simbah Kyai Husein Zamakhsyari Paritd (Kawungganten Cilacap).
  22. Tahun 1976 membangun Masjid Fakhturrohman Purwodadi
  23. Tahun 1978 Simbah Busthami pergi ke Jawa lagi membangun Madrasah di Rawa Keling Rawa Jaya (Bantar Sari Cilacap)
  24. Sepulang dari Rawa Keling tahun 1978 dalam kondisi gerah (sakit), membangun Serambi sebelah utara Masjid Al–Mutaqqin Purwosari.

Silsilah Thariqoh Qodiriyah KH Busthomil Karim

  1. Syeikh Simbah KH. Busthamil Karim
  2. Syeikh Husain Parid Kawunganten Cilacap
  3. Syeikh Siroj Sungai Rengat Singapura
  4. Syeikh Zarkasyi Berjan Purwodadi
  5. Syeikh Abdul Karim Al-Bantani, Kemudian Al-Makky
  6. Syeikh Ahmad Khotib Ibnu Abdil Ghofar As-Syambasy Kalimantan Al-Makky
  7. SAYYID SYEIKH SYAMSUDDIN
  8. Syeikh Murod
  9. Syeikh Abdul Fatah
  10. Syeikh Kamaluddin
  11. Syeikh Utsman
  12. Syeikh Abdurrahim
  13. Syeikh Abi Bakar
  14. Syeikh Yahya
  15. Syeikh Hisamuddin
  16. Syeikh Waliyuddin
  17. Syeikh Nuruddin
  18. Syeikh Zainuddin
  19. Syeikh Syarifuddin
  20. Syeikh Syamsuddin
  21. Syeikh Muhammad Al-Hattak
  22. Syeikh Abdul Aziz
  23. Syeikh Quthb Al-Aulia’ Sayyid Abdul Qodir Al-Jailani
  24. Syeikh Abi Sa’id Al-Mubarok Al-Mahzumy
  25. Syeikh Abil-Hasan Ali Al-Hakary
  26. Syeikh Abil-Faraj Ath-Thurthusiy
  27. Syeikh Abdul Wahid At-Tamimy
  28. Syeikh Abi Bakar Asy Syibly
  29. Syeikh Abi Al-Qosim Al-Junaidi Al-Baghdadiy
  30. Syeikh Hasan Sarry As-Saqothy Syeikh Ma’ruf Al-Karkhy
  31. Syeikh Ali Ridho Musa Al-Kadhzim
  32. Syeikh Musa Al-Kadhzim Ibnu Ja’far As-Shodiq
  33. Syeikh Ja’far As-Shodiq Ibnu Muhammad Al-Baqir
  34. Syeikh Muhammad Al-Baqir Ali Zainal Abidin
  35. Syeikh Al-Imam Zainal Ibnu Sayidina Husain
  36. Sayidina Husain Ibnu Sayyidatina Fatimah Az-Zahro
  37. Syeikh Ali Ibnu Abi Tholib KW
  38. Sayyidina Muhammad SAW
  39. Sayyidina Jibril AS
  40. Allah Jalla Jalaaluh

Silisilah Thariqoh Naqsyabandiyah KH. Busthamil Karim

  1. Syeikh Simbah KH. Busthamil Karim
  2. Syeikh Husain Parid Kawunganten Cilacap
  3. Syeikh Siroj Sungai Rengat Singapura
  4. Syeikh Zarkasyi Berjan Purwodadi
  5. Syeikh Abdul Karim Al-Bantani, Kemudian Al-Makky
  6. Syeikh Ahmad Khotib Ibnu Abdil Ghofar As-Syambasy Kalimantan Al-Makky
  7. SAYYID SYEIKH SYAMSUDDIN
  8. Syeikh Abu Musa
  9. Syeikh Abu Sa’id
  10. Syeikh Abdullah Ad-Dahlawiy
  11. Syeikh Syamsuddin Habibullah
  12. Syeikh Nur Muhammad Al-Badwan
  13. Syeikh Saefuddin
  14. Syeikh Muhammad Ma’shum Ibnu Imam Al-Robaniy
  15. Syeikh Ahmad Al-Masyhur Bi-Al-Imam Al-Robaniy
  16. Syeikh Muabid Ad-Din Al-Baqi Billah
  17. Syeikh Muhammad Al-Khowajikiy
  18. Syeikh Darwis Muhammad Al-Samarqondiy
  19. Syeikh Muhammad Al-Zaid
  20. Syeikh Nasiruddin Abdullah Al-Akhororiy
  21. Syeikh Ya’qub Al-Jarkhiy
  22. Syeikh Muhammad Ibnu Muhammad Alaudin Al-Khowariziy
  23. Syeikh Bahauddin Muhammad Al-Naqsyabandiy
  24. Syeikh Amir Kulal Ibnu Syayyid Hamzah
  25. Syeikh Baba Al-Samasiy
  26. Syeikh Azizan Ali Romitaniy Al-Mansyur Ni-Al’uroizan
  27. Syeikh Mahmud Al-Anjir Faghnawi
  28. Syeikh Arif Al-Riwghriy Atau ‘Arif Riukariy
  29. Syeikh Abdul Kholik Al-Ghujdzawanniy
  30. Syeikh Abu Ya’qub Yusuf Al-Hamadani
  31. Syeikh Abu Ali Al-Fadhol Bin Muhammad At-Tusi Al-Farmadiy
  32. Syeikh Abu Hasan Ali Bin Ja’far Al-Khorqoniy
  33. Syeikh Abu Yazid Al-Busthamiy
  34. Syeikh Imam Ja’far As-Shodiq Sibtu Al-Qosim
  35. Syeikh Al-Qosim Ibnu Muhammad Bin Abi Bakar
  36. Salman Al-Farisiy
  37. Sayyidina Abi Bakar Al-Shidiq
  38. Sayyidina Muhammad SAW
  39. Sayyidina Jibril AS
  40. Allah Jalla Jalaaluh

 

 

Sumber Referensi : Buku BIOGRAFI SIMBAH KH. BUSTHOMIL KARIM Terbitan Pondok Pesantren Roudlotussholihin Purwosari, Padang Ratu, Lampung Tengah.