Biografi KH. Mustahdi Hasbullah

 
Biografi KH. Mustahdi Hasbullah

Riwayat dan Keturunan

Nama lengkap KH. Mustahdi Hasbullah adalah Mustahdi. Nama “Hasbullah” yang melekat di belakang nama “Mustahdi” merupakan intisab nama ayahnya, yaitu KH. Hasbullah. Sehingga lazim disebut dengan nama KH. Mustahdi Hasbullah. Putra-putri dan menantu serta santri-santri beliau memanggilnya dengan sebutan “Abah atau Abah Sepuh”. Sementara masyarakat setempat memanggilnya dengan sebutan “Abah Tadi atau Ki Mustahdi”.

KH. Mustahdi Hasbullah diperkirakan lahir pada tahun 1919 di Desa Winong, Cirebon dari pasangan KH. Hasbullah dengan Nyai Hj. Khafsoh dan wafat pada hari Jum’at, 4 Agustus 2002. Mengenai hari, tanggal, dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Perihal tahun kelahiranya yang berdasarkan perkiraan dikarenakan kehilangan data yang persis mengenai hal tersebut.

Tetapi ada beberapa perkiraan yang kuat jika dikaitkan dengan selisih umur KH. Mustahdi Hasbullah pada saat menikah dengan Nyai Ibadiah Irfan bin Kyai Ibadullah Irfan bin Musa, Kaliwungu.

Dikisahkan, Nyai Ibadiah Irfan lahir pada tanggal 20 Agustus 1929. Menikah dengan KH. Mustahdi Hasbullah pada usia 21 tahun dan KH. Mustahdi Hasbullah berumur 31 tahun. Sehingga terpaut selisih umur dengan KH. Mustahdi Hasbullah 10 tahun. Maka dapat dikatakan KH. Mustahdi Hasbullah lahir pada tahun 1919, tidak jauh beberapa bulan setelah ayahnya, KH. Hasbullah pindah dari Desa Kempek ke Desa Winong.

Ayahnya, KH. Hasbullah adalah seorang ulama karismatik, pandai bergaul ,berkepribadian humanis dan berpenampilan sederhana  kelahiran Lontang Jaya, Panjalin Lor, Majalengka. Beliau adalah perintis utama atas berdirinya Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq pada tahun 1919. Pada masa kanak-kanak sampai dewasa beliau tinggal di Kempek.

Pindah ke Kempek karena diminta oleh pamannya, yaitu Mbah Kyai Harun ayah Kyai Umar Soleh. Setelah beberapa tahun tinggal dan belajar di Kempek, kemudian beliau direkomendasikan oleh pamannya untuk pindah ke Winong menjadi guru ngaji atas permintaan tokoh agama masyarakat Winong.

Selain belajar di Kempek, menurut Zamzami Amin , KH. Hasbullah juga tercatat sebagai santri Kyai Jauhar Arifin, Balerante bersama dengan beberapa santri yang sekarang menjadi Kyai Sepuh di Cirebon diantaranya adalah KH. Amin Sepuh, Babakan Ciwaringin (pernah menjadi lurah santri), KH. Habib Syekh Jagasatru, KH. Syathori Arjawinangun dan KH. Abdullah Marageni Tegal Gubug.

Nasab Beliau

Secara geneologis dari garis keturunan ayahnya, KH. Mustahdi Hasbullah memiliki beberapa versi diantaranya adalah:
1. Menurut Wartono, Kedokan Agung, Indramayu dalam artikelnya yang berjudul “Latar belakang Perang Kedongdong” menuliskan bahwa, KH. Mustahdi Hasbullah merupakan keturunan generasi ke-16 dari Syekh Syarif Hidayatullah, yaitu KH. Mustahdi Hasbullah bin Kyai Hasbullah bin Kyai Qunawi bin Kyai Madrawi bin Sultan Hasanudin (Kyai Salbiyah) bin Sultan Matangaji (Pangeran Shofiyudin) bin Sultan Zaenudin II bin Sultan Zaenudin I bin Sultan Jamaludin bin Sultan Syamsudin bin Pangeran Abdul Karim bin Pangeran Dzulkifli bin Pangeran Zaenul Abidin bin Pangeran Zaenul Arifin bin Pangeran Pasarean bin Syekh Syarif Hidayatullah.

2. Menurut Rd. Kholil Abdullah, PP. Al-Jauhariyah, Balerante, Cirebon dalam artikelnya yang berjudul “Silsilah Pendiri Ponpes Winong Gempol Cirebon” menuliskan bahwa, KH. Mustahdi Hasbullah memiliki dua garis silsilah, yaitu:

1). Dari garis Prabu Siliwangi adalah KH. Mustahdi Hasbullah bin Kyai Hasbullah bin Kyai Qunawi bin Nyi Madrawi bin Pangeran Hasanuddin bin Sultan Anom Mohammad Komaruddin I bin Sultan Anom Abu Sholeh Imamuddin bin Sultan Anom Mohammad Khaeruddin bin Sultan Anom Alimuddin bin Sultan Anom Raja Mandura Reja Kadiruddin bin Sultan Anom Mohammad Badruddin bin Panembahan Girilaya bin Pangeran Adipati Carbon bin Pangeran Pasaren bin Gusti Sinuhun Gunung Jati/Syarif Hidayatullah bin Ratu Mas Rara Santang/Syarifah Mudaim bint Prabu Siliwangi.

2). Dari garis Syarif Abdullah Mesir adalah KH. Mustahdi bin Kyai Hasbullah bin Kyai Qunawi bin Nyi Madrawi bin Pangeran Hasanudin bin Panembahan Girilaya bin Pangeran Adipati Carbon bin Panembahan Ratu bin Pangeran Dipati Carbon bin Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati bin Syarif Abdullah Mesir.

3. Menurut R. Achmad Opan Syafari Hasyim menuliskan bahwa, silsilah KH. Mustahdi Hasbullah adalah KH. Mustahdi Hasbullah bin Kyai Hasbullah bin Kyai Qunawi bin Kyai Madrawi bin Raden Salbiyah bin Sultan Anom III Alimudin/Sultan Anom III Muhammad Alimudin bin Pangeran Mandureja/Sultan Anom II Muhammad Kodirudin bin Pangeran Kartawijaya/Sultan Anom I Abdul Manahir Muhammad Badridin bin Pangeran Rasmi/Panembahan Girilaya/Panembahan Abdul Karim bin Pangeran Adipati Anom/Pangeran Seda Kemuning bin Panembahan Ratu I bin Pangeran Zaenul Arifin/Pangeran Adipati Carbon bin Pangeran Mas Muhammad Arifin/Pangeran Pasarean bin Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati.  

4. Menurut KH. Sanusi (w. 1974 M), Babakan Ciwaringin, Cirebon sebagaimana dikutip oleh KH. Marzuki Ahal menuliskan bahwa, silsilah KH. Mustahdi Hasbullah adalah KH. Mustahdi Hasbullah bin Kyai Hasbullah bin Nyai kultsum bint Nyai Kamani bint Nyai Khadijah bint Nyai Kholifah bint Kyai Nawawi Babakan bin Kyai Hasanudin Jatira bin Kyai Rana bin Kyai Mas H. Abdurrohim bin Nyai Mas Buyut bint Sunan Darmawangsa bin Sunan Raja Desa bin Dipati Ratna Kikis bin Sunan Baok bin bin Ratu Bimarasa Maulana Faqih Ibrahim bin Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (Tasikmalaya) bin Maulana ‘Ainul Yaqin/Sunan Giri (Gresik). 

5. Menurut Ustadz. Rusdy, Kempek, Cirebon mengutip dari lembaran tulisan yang berjudul “Silsilah Kerajaan Carbuan Nagari Trah Pajajaran” mengatakan bahwa, silsilah KH. Mustahdi adalah KH. Mustahdi Hasbullah bin Kyai Hasbullah bin Kyai Qunawi bin Kyai Madrawi bin Kyai Salbiyah/Sultan Hasanudin (Raja Kasepuhan Ke-6) bin Pangeran Moh. Syafiudin/Sultan Raja Matangaji (Raja Kasepuhan Ke-5) bin Sultan Raja Zaenudin II (Raja Kasepuhan Ke-4) bin Pangeran Mandureja/Sultan Raja Zaenudin I (Raja Kasepuhan Ke-3) bin Sultan Raja Jamaludin (Raja Kesepuhan Ke-2) bin Pangeran Martawijaya/Sultan Raja Syamsudin (Raja Kasepuhan Ke-1) bin Pangeran Abdul Karim/Panembahan Girilaya (Raja Caruban Nagari Ke-6) bin Pangeran Dulkifli/Panembahan Sendang Gayam (Raja Caruban Nagari Ke-5) bin Pangeran Zaenul Abidin/Panembahan Ratu (Raja Caruban Nagari Ke-4) bin Pangeran Zaenul Arifin/Panembahan Adipati Cirebon (Raja Caruban Nagari Ke-3) bin Pangeran Moh. Tajul Arifin/Panembahan Pasarean (Raja Caruban Nagari Ke-2) bin Syekh Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati (Raja Caruban Nagari Ke-1) bin Nyi Mas Rarasantang/Syarifah Mudaim (Permaisuri Raja Mesir) bint Pangeran Aryajaya Sangati/Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran).  Sedangkan dari garis ibunya, beliau memiliki silsilah keturunan sampai kepada Syekh H. Abdul Latif Kajen, Plumbon, yaitu KH. Mustahdi Hasbullah bin Nyai Hj. Khafsoh binti Sufiah binti Buyut H. Brawi (Lurah) bin Ki Ikenudin bin Pangeran Reksa Baya bin Mbah Syekh Heyang H. Abdul Latif (Kajen Plumbon).  


KH. Mustahdi Hasbullah selain sebagai seorang Kyai yang berpenampilan sederhana, juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan beberapa keluarga besar Pondok Pesantren di Cirebon apabila dilihat dari garis keturunan Kyai Nawawi Babakan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Zamzami Amin  dalam bukunya yang berjudul “Baban Kana: Sejarah Pesantren Babakan Ciwaringin dan Perang Nasional Kedongdong 1802-1919”, bahwa Kyai Hasan (Hasanuddin Jatira) adalah nasab yang ke-10 (sepuluh) dari Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Kulon (Tasikmalaya), perhatikan kesamaan tempat Pamijahan.

KH. Hasanuddin menurunkan putra Kyai Nawawi, menurunkan putra Kyai Syarqowi dan menurunkan putra Kyai Nawawi -3 bin Kyai Syarqowi. Dari Kyai Nawawi inilah cikal bakal beberapa Pondok Pesantren di wilayah Cirebon paling Barat; yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka.

Diantaranya, Pondok Pesantren Babakan, Pondok Pesantren Panjalin Pesantren, Pondok Pesantren Kempek, Pondok Pesantren Arjawinangun, Pondok Pesantren Winong, Pondok Pesantren Lontang Jaya, Pondok Pesantren Dukuh Mire, Gintung Pesantren, Kedongdong Pesantren, Pondok Pesantren Lebak Ciwaringin dan lain-lain.

Pada masa kana-kanak, KH. Mustahdi Hasbullah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Winong. Layaknya dengan anak-anak yang lain beliau suka bermain dengan teman-teman sekampungnya. Namun tidak terlena dengan manisnya permainan yang dapat menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa bermanfaat.

Di masa itu juga, beliau habiskan waktunya untuk belajar ngaji kepada Abahnya, KH. Hasbullah. Supaya kelak nanti menjadi seseorang yang berilmu dan berkepribadian baik. Hal ini tercermin oleh sikap tegas dan kasih sayang kedua orang tuanya dalam mengawasi dan mendidiknya. Sehingga pada masanya kealiman, kewibawaan, keserdahanan, dan kebaikan serta kewira’iyan beliau dapat dilihat oleh masyarakat hingga akhir hayatnya masih membekas sampai sekarang.

KH. Mustahdi Hasbullah adalah anak pertama dari dua bersaudara. Yang sekandung bernama Nyai Muthmainnah yang diperistri oleh Kyai Sholihin, salah satu putra dari KH. Muhammad Amin (Kyai Madamin) Babakan Ciwaringin. Dan  saudara yang tidak sekandung (liab/tunggal bapak-beda ibu)  ada satu adalah bernama Nyai Qurrotun (sudah wafat).

Sebagai orang tua bagi anak-anaknya, beliau memiliki gambaran hidup atau pedoman hidup untuk mereka supaya kelak di masa yang akan datang mereka menjadi sebuah keluarga yang terikat oleh keakraban yang baik. Jadi, Abah (panggilan khas anak-anaknya) menginginkan anak-anaknya itu berada di suatu tempat, yaitu di Desa Winong dan nampaknya Abah sangat senang sekali dengan suasana berkumpul bersama keluarganya. Hal itu yang sering dibicarakan oleh Abah. Bagi anak-anaknya Abah sering membicarakan hal tersebut, mereka tidak tahu dimana letak sirinya (rahasia) atas gambaran hidup Abah.

Keluarga Beliau

Diceritakan juga bahwa KH. Mustahdi Hasbullah pernah menikah dua kali selama hidupnya. Pernikahan pertama dengan Nyai Hj. Ibadiah Irfan, putri dari Kyai Irfan bin Musa Kaliwungu, pendiri Pondok Pesantren Kauman, Jateng. Dari pernikahan dengan Nyai Hj. Ibadiah Irfan, beliau dikaruniai delapan anak, yaitu enam anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Diantara dari delapan putra-putrinya adalah:
1. Hibatullah Mustahdi (lahir di Kaliwungu)
2. Muhibbullah
3. Hubbullah
4. Roghibul Khoirot
5. Muhibbatul Hasanah
6. Muhammad Hasbullah
7. Wafirotussolihah
8. Muntakhob

Anak kedua sampai anak ke delapan semuanya lahir di Desa Winong. Kemudian istrinya, Nyai Hj. Ibadiah Irfan wafat pada tahun 1990 di usia 61 tahun. Dua tahun kemudian, KH. Mustahdi Hasbullah menikah lagi dengan Nyai Hj. Farhah asal Desa Winong. Dari pernikahnya dengan Nyai Hj. Farhah dikaruniai empat orang anak, yaitu tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki. Diantara dari 4 putra-putrinya adalah:
1. Khosyatillah
2. Khofillah
3. Dzakirotillah
4. Muhammad Dzukron

Semua putra-putri KH. Mustahdi Hasbullah dari pernikahan yang kedua dengan Nyai Hj. Farhah semuanya lahir di Desa Winong.
KH. Mustahdi Hasbullah dikenal bukan saja sebagai seorang Kyai yang “lunglang”, yaitu gemar “nulung” (menolong) dan “mulang” (mendidik), melainkan juga seorang petani dan pedagang. Pekerjaan bertani yang dijalani oleh beliau adalah nyawah (mengelola tanaman padi).

Sedangkan pekerjaan berdagang yang dijalaninya adalah dengan berjualan kain, batik, minyak wangi bahkan menjual makanan yang bahannya sulit didapatkan di Cirebon. Maka untuk mencari makanan tersebut terkadang didapatkan ketika berkunjung ke Kaliwungu, Pekalongan dan Semarang. Karena di sana lebih mudah untuk mendapatkan jenis makanan tersebut.

Selain berdagang dan bertani, konon katanya dahulu beliau dan istrinya adalah orang yang pertama kali mendatangkan pangkalan minyak di Desa Winong, yaitu menyediakan pangkalan minyak dipinggir jalan untuk dijual kepada masyarakat setempat. Sehingga kebutuhan bahan bakar masyarakat Winong pada waktu itu tidaklah begitu sulit dengan  adanya pangkalan minyak di Desa mereka. Dari bertani dan berdagang itulah, KH. Mustahdi Hasbullah dan istrinya dapat menghidupi keluarga dan mengelola pesantrennya. 

Masa Menuntut Ilmu

Pendidikan dasar KH. Mustahdi Hasbullah ditempuh sejak masa kanak-kanak sampai masa remaja lebih banyak diperoleh dari ayahnya sendiri, KH. Hasbullah. Melalui ayahnya, ia belajar dan cara membaca al-Qur’an serta mendalami beberapa disiplin ilmu yang terdapat dalam literatur Kitab Kuning, seperti; Ilmu Fiqh (Kitab Muhadzab), Ilmu Tauhid, Ilmu Gramatikal Bahasa Arab, Ilmu Hadits (Kitab Shoheh Bukhari dan Muslim) dan Ilmu Akhwalul Syakhsiyah. Dengan demikian, beliau menyelami kehidupan pesantren sejak dini.

Dengan metode pengajaran bandongan, sorogan, wetonan dan hafalan tanpa makna, beliau dengan mudah dapat menguasai beberapa disiplin ilmu dalam literatur Kitab Kuning. Sehingga banyak kitab milik beliau kosong tanpa makna (coretan hafsahan Arab pegon) seakan-akan kitab tersebut baru dibeli, padahal itu adalah kitab yang sering dipelajarinya. 

Pada umur 10 tahun KH. Mustahdi Hasbullah melanjutkan mesantren ke Babakan Ciwaringin. Di Pondok Pesantren tersebut beliau belajar kepada Kyai Sanusi, Kyai Amin Sepuh dan Kyai Muhammad Amin (Ki Madamin). Setelah itu, beliau meneruskan studinya ke Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah pimpinan KH. Hasyim Asy’ari. Pada mulanya, beliau mesantren ke Tebuireng hanya untuk tabarukan dengan KH. Hasyim Asy’ari, mengingat sudah banyak kitab-kitab kuning yang dipelajari dari ayahnya.

Berhubung di Tebuireng bertemu dengan santri dari Cirebon yang bernama Kyai Masduki Babakan, maka beliau diajak untuk mengikuti sistem pendidikan klasikal (madrasy) di Pondok Pesantren tersebut. Kyai Masduki adalah guru kelasnya KH. Mustahdi Hasbullah di Tebuireng. Al-hasil, KH. Mustahdi Hasbullah di Tebuireng menjadi angkatan lulusan (mutakharij) yang syahadahnya terakhir ditanda tangani oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Setelah itu, bukan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari lagi yang menandatanganinya. 

Dikisahkan, selama nyantri di Tebuireng, KH. Mustahdi Hasbullah menjadi santri yang terkecil diangkatannya dan masuk kelas rendah. Tetapi, satu tahun kemudian beliau direkomendasikan oleh gurunya untuk loncat ke beberapa kelas. Hal ini menggambarkan bahwa kemahiran beliau dalam belajar memang tidak di ragukan lagi, sehingga bisa berkompetensi dengan baik bersama sahabat-sahabatnya di Tebuireng.

Selain itu, prestasi yang menggambarkan tentang kemahiran beliau dalam belajar adalah mengkhatamkan hafalan Nadzam Al-Fiyah ibn Malik hanya dalam tempo 1 Minggu. Selesai nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang, KH. Mustahdi Hasbullah melanjutkan studinya lagi ke Kaliwungu, Jateng. Di Kaliwungu, beliau belajar Al-Qur’an kepada KH. Asror Ridwan, pengasuh PPTQ Al-Asror yang didirikan sekitar tahun 1960 (wafat 1987) dan kepada Kyai Ahmad Badawi.

Di Kauman, beliau belajar kepada KH. Ahmad Rukyat dan KH. Ibadullah Irfan, keduanya adalah pengasuh Pondok Pesantren APIK. Di Kendal, beliau belajar kepada Kyai Abdul Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Gubug Sari dan kepada Kyai Jamhari, belajar Ilmu Hisab dan Falak.
Dikisahkan, selama nyantri di Kaliwungu, KH. Mustahdi Hasbullah menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan KH. Asror Ridwan hanya dengan waktu 8 bulan 3 hari dengan masa lowan 7 bulan dan melancarkannya 1 bulan 3 hari di rumah Kyai Hasan atas anjuran KH. Asror Ridwan.

Kyai Hasan sendiri adalah santri ayahnya, KH. Hasbullah sewaktu di Cirebon. Jadi, selama dalam proses melancarkan hafalan Al-Qur’an, segala keperluan dan kebutuhan KH. Mustahdi Hasbullah dibantu oleh Kyai Hasan. Rahasia KH. Mustahdi Hasbullah mudah dalam menghafalkan Al-Qur’an adalah keistoqmahan dan keteguhannnya yang tidak pernah pudar.

Hal tersebut bisa digambarkan dengan kesiapannya sebelum setor kepada KH. Asror Ridwan, yaitu jauh-jauh hari selama tiga tahun selalu kontinu mengkhatamkan tadarus Al-Qur’an dalam tempo sehari. Inilah yang membuat Allah SWT memudahkan beliau dalam menghafal Al-Qur’an.
Sebagai seorang Kyai yang hafidz Al-Qur’an ternyata tidak membuat KH. Mustahdi Hasbullah merasa bangga diri.

Beliau selalu menampilkan perilaku yang sederhana dan wira’i. Karena semua ilmu yang dimilikinya adalah karunia dari Allah Yang Maha Mengatahui yang harus diamalkan dengan baik untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan penampilannya yang sederhana banyak kalangan Kyai Sepuh Cirebon yang menilai bahwa, KH. Mustahdi Hasbullah adalah sosok ulama yang mampu menyimpan talenta yang dimilikinya, sehingga tidak terlihat seperti orang besar, melainkan terlihat sebagai seorang yang penuh dengan kesederhanaan dan biasa.


KH. Mustahdi Hasbullah walaupun hafidz Al-Qur’an, namun tidak kelihatan sebagai Kyai yang hafidz Al-Qur’an. Seperti halnya di Kaliwungu, beliau dikenal sebagai Kyai yang ahli dalam ilmu faroid atau waris. Di Cirebon sendiri, menurut KH. Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya (Kang Ayipmu), Jagasatru dan KH. Fuad Hasyim, Buntet beliau terkenal sebagai Kyai yang ahli ushul fikih, tarbiyah wa Ta’lim, dakwah dan sosial.

Sebenarnya KH. Mustahdi Hasbullah selain mesantren di Babakan Ciwaringin, Tebuireng dan Jombang juga pernah singgah ke beberapa pesantren apakah sekedar untuk tabarukan atau ngaji pasaran, diantaranya adalah Pondok Pesantren Nahrul Ulum, Ponorogo, Jatim yang diasuh oleh KH. Nur Hamim Adlan, Pondok Pesantren Lirboyo untuk ngaji Kitab Ihya Ulumudin kepada Kyai Marzuki, Pondok Pesantren Sukun Sari, Plered, Cirebon yang diasuh oleh Kyai Hasan.

Ayahnya, KH. Hasbullah dan Pamannya, Mbah Harun juga pernah nyantri di Sukun Sari dan termasuk pondok pesantren yang terakhir disinggahinya. Setelah itu, Mbah Harun kembali ke Kempek. Dikisahkan, awal mula Mbah Harun nyantri di Sukun Sari, yaitu dilatar belakangi ketika beliau masih bertempat tinggal di rumah ibunya KH. Hasbullah, Lontang Jaya (Panjalin Lor) atau neneknya KH. Mustahdi Hasbullah.

Disana dibangunkan sebuah mushola, kemudian lama-kelamaan banyak santri yang berdatangan. Karena jumlah santrinya semakin banyak, jadi Mbah Harun merasa tidak enak kalau masih bertempat tinggal disitu. Pada akhirnya semua santri-santrinya diajak nyantri ke Sukun Sari. Jadi, Mbah Harun ketika nyantri di Sukun Sari membawa santri banyak, kembali ke Kempek pun membawa santri banyak.

Dengan rangkain perjalanan intelektual yang demikian cukup panjang tidak mengherankan jika KH. Mustahdi Hasbullah telah menjadi seseorang yang mengusai berbagai disiplin ilmu keagamaan, seperti Ilmu Tafsir, Fikih, Hadis, Aqidah, Akhlak, Nahwu-Shorof, Ma’ani, Mantiq, A’rudl, Faroidl dan Ilmu Tajwid.

Dan beliau bersama istrinya pernah menunaikan ibadah haji pada tahun 1974, 1978, dan 1995. Dilaporkan bahwa ketika berhaji beliau sempat belajar selama tiga bulan di sana namun tidak pernah disebutkan gurunya. Dan berkunjung kepada beberapa ulama Nusantara yang menetap di Makkah.

Diantara beberapa sahabat KH. Mustahdi Hasbullah yang dapat diketahui selama nyantri di beberapa Pondok Pesantren, yaitu ketika di Babakan Ciwaringin dan Kaliwungu beliau berteman akrab dengan KH. Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya atau dikenal dengan sapaan Kang Ayipmu, Pengasuh Pondok Pesantren Jagasatru, Kota Cirebon.

Di Pondok Pesantren Jombang, beliau berteman akrab dengan Kyai Andi, Indramayu, Kyai Pandaian, Kedung Wungu, Indramayu dan Kyai Masduki Babakan (guru kelasnya). Ketika Kyai Masduki kembali ke Babakan Ciwaringin, beliau ngaji Kitab Faroid dan Fathul Wahab kepadanya. Di Kaliwungu, beliau berteman akrab dengan sesama santri yang berasal dari Cirebon, yaitu Kyai Abdul Ghani, Warujaya, Kyai Hasan, Benda Kerep, dan Kyai Syatori, Balad.


Kemudian diantara beberapa ulama yang dapat diketahui nyantri kepada KH. Mustahhdi Hasbullah adalah Kyai Zabidi, Pekalongan, Kyai Farihin, dan Kyai Hamidin, Jatimerta, Cirebon (santri dua zaman, pada masa KH. Hasbullah dan KH. Mustahdi Hasbullah). Bahkan, gurunya sendiri, KH. Asror Ridwan, juga pernah menyempatkan untuk ngaji Kitab Fathul Muin dan Tafsir Jalalain kepadanya. Dan sahabatnya juga Abuya Dimyati, Banten serta Kyai Hasan, Benda Kerep, juga pernah menyempatkan untuk ngaji sorogan kepada beliau. 

Mengasuh Pesantren

Melihat kondisi masyarakat desa Winong pada masa lalu yang masih terbelenggu oleh keterbelakangan pemahaman Agama Islam dan Islamnya masih cenderung Abangan, KH. Mustahdi Hasbullah merasa tertantang untuk membenahi masyarakatnya yang masih dalam jajahan moral negatif (amoral) melalui pencerdasan agama dan pendidikan akhlak yang baik.

Kepulangnnya dari Kaliwungu sekitar tahun 1954, tepatnya setelah menjadi menantu dari KH. Ibadullah Irfan dan menetap beberapa tahun di sana serta beraktivitas baik mengajar di pesantren, masjid maupun di madrasah yang ada di kampung Kaliwungu. Sehingga ia kembali ke desa Winong untuk meneruskan dakwah ayahnya di Pesantren Winong.

Kembalinya KH. Mustahdi Hasbullah ke desa Winong memang di latar belakangi oleh dua hal, yaitu pertama, karena melihat kondisi aspek moral dan sosial masyarakat setempat masih terbelakang dan kedua, karena ayahnya, KH. Hasbullah kembali lagi ke Kempek setelah istri tercintanya wafat. Sehingga pada waktu itu Pondok Pesantren Winong mengalami masa Kekosongan dan santri-santriya pun pulang kembali ke kampung halamannya masing-masing, namun hanya tersisa beberapa santri saja.

Padahal  santri-santri yang mondok disitu ada yang berasal dari Batam dan lain-lain. Sementara yang menunggu pondok tersebut adalah Kyai Solihin, putranya Kyai Madamin. Itupun masih sering pulang pergi dari Winong ke Babakan Ciwaringin. Kemudian, KH. Hasbullah menikah lagi bukan dengan orang Winong.

Selama kepemimpinan Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak diserahkan kepada KH. Mustahdi Hasbullah sedikit demi sedikit mengalami perkembangan yang sangat signifikan, diantaranya diterapkannya sistem pendidikan madrasah klasik (salafi) dengan metode pembelajaran sorogan, bandongan dan wetonan. Titik berat pengabdian KH. Mustahdi Hasbullah adalah untuk ilmu dan agama.

Sejak beliau memimpin pesantren, sejak itu pula sudah tampak dedikasi dan kemampunya dalam bidang bidang ilmu agama Islam. Beliau melayani santri-santrinya yang semakin hari semakin membludak. Kemampuan yang dimiliki KH. Mustahdi Hasbullah tidak diragukan lagi dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga menjadi lebih banyak santri yang menaruh minat kepadanya.

Ketekunan KH. Mustahdi Hasbullah dalam mendidik santri tidak berarti menghilangkan perhatian beliau dalam aktivitas dakwah, sosial, dan politik. Dalam konteks dakwah dan sosial kemasyarakatannya, beliau menyelenggarakan pengajian umum, seperti pengajian senenan untuk masyarakat sekitar. Dengan media semacam ini, KH. Mustahdi Hasbullah berhasil melakukan pengayoman dan pengajaran bagi masyarakat sekitar.

Bahkan posisi beliau di masyarakat bagaikan seorang konselor yang menangani, membimbing dan melayani segala hal keperluan masyarakatnya.
Konon, menurut cerita dari para alumni sepuh, orang Winong itu sejak lahir sampai meninggal harus pegangan sama KH. Mustahdi Hasbullah. Misalnya, hendak melahirkan saja orang tuanya minta di doakan oleh beliau, begitupun dengan prosesi puputan, aqiqah, sunatan minta ditentukan harinya.

Dakwah Beliau

Berbeda dengan beberapa Kyai dan ulama yang banyak dikenal masyarakat, KH. Mustahdi Hasbullah tidak begitu mengemuka di kalangan masyarakat muslim Cirebon sebagai sosok Kyai-mubaligh. Hal ini dikarenakan KH. Mustahdi Hasbullah kurang menyukai model pengajian dan dakwah agama seperti yang dilakukan oleh kebanyakan Kyai dan ulama.

Beliau cenderung memakai pendekatan dakwah bil hal (uswah al-hasanah) kepada masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan karena di samping akan lebih mengena dan sesuai dengan logika kebutuhan masyarakat, pendekatan model ini juga relatif lebih mudah diikuti dan dilakukan, baik oleh masyarakat maupun KH. Mustahdi Hasbullah sendiri.

Dalam prakteknya model dakwah yang dilakukan oleh KH. Mustahdi Hasbullah, yaitu dengan cara mendatangi (door to door) beberapa tokoh masyarakat atau orang yang disepuhkan di kampungnya. Beliau datang kerumah mereka hampir dilakukan secara rutin, tetapi tidak mengajak mereka secara langsung untuk mengaji, mengerjakan sholat atau mengobrol masalah keagamaan.

Justru yang ibrolkan seputar urusan kehidupan manusia, seperti masalah bercocok tanam, berdagang dan lain-lain. Nampaknya dakwah bil hal yang ditawarkan oleh KH. Mustahdi Hasbullah mampu menyadarkan dan menumbuhkan gairah jiwa mereka untuk rajin beribadah kepada Allah. Karena subtansi dari dakwah bil hal adalah memberikan contoh yang baik dan tidak mengandung unsur pemaksaan dalam dakwah.

Meski beliau dikenal sebagai sosok Kyai yang lebih suka ‘diam’ namun sangat tegas khususnya dalam masalah-masalah yang dianggap oleh kita remeh dan menurut beliau sangat prinsip sekali. Misalnya, jika ada tukang becak yang hendak menunggu atau setelah mengantar kita, kemudian tidak dihormati (dikasih jamuan), maka beliau tidak menyukai hal tersebut. Karena tukang becak harus dihormati layaknya seorang tamu. 

Dalam dunia tarekat, KH. Mustahdi Hasbullah tidak terdeteksi sebagai seorang ulama yang yang terjun dalam beberapa organisasi tarekat yang berkembang di Indonesia, seperti Tarekat Qodiriyah, Tarekat Rifa’iyah, Tarekat Suhrowardiyah, Tarekat Syadzaliyah, Tarekat Tijaniyah, Tarekat Syattariyah, Tarekat Naqsyabandiyah, dan lain-lain.

Namun demikian, bukan berarti KH. Mustahdi Hasbullah tidak bertarekat, karena beliau selalu mengatakan “Ta’lim atau Ta’allum” termasuk tarekat, apalagi beliau hafidz qur’an. Oleh karena itu, menurut KH. Marzuki Ahal bahwa seseorang yang memulazamahkan atau mengistiqomahkan Qiroatul Kutub dan Mulazamatu Qira’atul Qur’an was-Sunnah Wadaailil Khoiroti Wata’limi-Fathil Qoribi Au-Kifayatul-Awami termasuk tarekat.

Sehingga, seseorang yang mengistiqomahkan membaca al-Qu’an, membaca kitab atau ta’lim sebagaimana yang disebutkan di atas termasuk salah satu dari 45 tarekat yang distandarkan oleh Jamiyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyyah (JATMAN) di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).
KH. Mustahdi Hasbullah juga sangat menekankan sekali kepada santri-santrinya dan anak-anaknya untuk belajar dan mulang.

Sehingga beliau selalu berpesan “kalau untuk mulang (mengajar) tidak harus alim, kamu bisa apa, kamu ajarkan dengan apa dan kemampuan yang dimiliki.” 

Aktif di Nahdlatul Ulama

Secara politik, KH. Mustahhdi Hasbullah adalah ulama yang tidak pernah lepas dari NU, khususnya di Cirebon, baik ketika NU menjadi partai politik secara independen (keputusan Muktamar NU ke-19, 28 April – 1 Mei 1952 di Palembang) atau pada saat NU melakukan fusi bersama partai-partai Islam yang lain, yakni Parmusi, PSII dan Perti dalam suatu deklarasi pada tanggal 5 Januari 1973 yang melahirkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Beliau adalah orang besar yang dimiliki NU yang pergerakannya selalu berada di belakang layar (pesantren). 

Pada Konferensi Cabang (Konfercab) ke-18 Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Cirebon dan berdasarkan SK Pengurus Besar NU No. 184/A.II.04/d/VI/1986-1989, KH. Mustahdi Hasbullah tercatat sebagai Mustasyar NU (dewan pertimbangan) bersama dengan beberapa ulama Cirebon lainnya, yaitu KH. Abdullah Abbas, KH. Abdul Malik, KH. Syaerozie, dan KH. Hasan.

Dan pada Konferensi Cabang (Konfercab) ke-19 Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Cirebon Masa Khidmat 1989-1992 tanggal 25-26 Juli 1989 di Bodelor Plumbon Cirebon, KH. Mustahdi Hasbullah terpilih kembali sebagai Mustasyar NU bersama dengan beberapa ulama Cirebon lainnya, yaitu KH. Masduqi ‘Ali, KH. Umar Sholeh, KH. Abdullah Abbas dan KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidillah.

Di Konfercab NU Bodelor, KH. Mustahdi Hasbullah juga ditugaskan menjadi Team Formatur/Ahlul Halli Wal’Aqdi bersama dengan KH. Masduqi ‘Ali dan KH. Abdullah Abbas.  Sejak NU melakukan fusi bersama partai-partai Islam lainnya dibawah kepemimpinan Idham Khalid, menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ternyata membuat perjalanan politik NU tidak semakin bagus, melainkan memunculkan konflik antar unsur dalam partai ini tidak terhindarkan terutama mengenai pendistribusian peran politik elit partai dalam pencalonan keanggotaan DPR.

Menjelang pemilihan umum 1982 konflik serta kecenderungan fragmentasi yang terjadi makin menguat. Dan situasi ini dianggap telah merugikan NU setelah 29 orang tokoh NU tergusur dari nominasi calon terpilih mewakili PPP. Akibatnya muncul kekecewaan banyak dikalangan NU terhadap kepemimpinan PBNU yang dianggap tidak berhasil mengatasi persoalan ini. Muncullah kemudian gagasan yang semakin kuat untuk meninjau kembali status dan eksistensi NU dalam PPP, yang sudah sejak lama sebenarnya telah dipertimbangkan oleh beberapa kalangan dalam NU itu sendiri. 

Bersamaan dengan kondisi ini, setiap menjelang musim kampanye KH. Mustahdi Hasbullah keberadaannya tidak selalu menetap dirumah, bahkan tidurnya pun di mushola bersama dengan santri-santrinya. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari intimidasi-intimidasi dari pihak lain.
Dengan demikian, kiprah KH. Mustahdi Hasbullah dalam NU sudah tergambar jelas, secara struktural pernah aktif dalam Mustasyar NU dan peranannya sangat berkontribusi dalam memberikan masukan serta mengambil kebijkan manakala terjadi kemelut di dalam tubuh NU, walaupun terkadang pergerakannya banyak dibelakang layar. 

Karya Tulis dan Pemikirannya

KH. Mustahdi Hasbullah dikenal sebagai seorang tokoh yang berpenampilan sederhana, berkepribadian baik dan juga seorang ulama yang mampu menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan (warisan ilmiahnya). Dalam hal menulis, ternyata KH. Mustahdi Hasbullah tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk hal tersebut. Namun tidak seperti untuk waktu muthola’ah.

Kalau waktu untuk muthola’ah beliau selalu istiqomah dan rutin. Oleh karena itu, KH. Mustahdi Hasbullah melakukan kegiatan ilmiahnya dilakukan secara spontanitas, yaitu bisa saja menulis karangannya ketika sedang menerima tamu atau sambil mengaji. Bahkan kurikulum materi pembelajarannya pun dibuat secara spontanitas ketika akan mulang santri-santrinya.

KH. Mustahdi Hasbullah menulis karya-karyanya dengan menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan bahasa yang digunakan para santri dan masyarakat pedesaaan, tepatnya menggunakan bahasa daerah (Jawa), dengan tulisan Arab pegon (Arab Jawa) yang dikemas dalam bentuk syi’ir (puisi atau ndazam).

Tujuan penulisan karya-karyanya dengan menggunakan Arab pegon, tidak lain hanya untuk mempermudah santri dan masyarakat agar mampu memahami pesan-pesan (subtansi makna) yang terkandung dalam beberapa karya tulisnya. Bahkan penulisan dengan Arab pegon merupakan salah satu metoda yang paling tepat untuk menyampaikan suatu pemahaman yang ringan maupun yang berat sekalipun.

Melalui karya-karyanya, KH. Mustahdi Hasbullah berhasil mengkontruksi (membangun) pemikiran dan perilaku santrinya serta masyarakat dengan konsep keberagamaan khas Indonesia yang di satu sisi tidak lepas dari akar-akar tradisi yang berkembang di Indonesia, dan di sisi lain KH. Mustahdi Hasbullah tetap gandulan (berpegang teguh) kepasa khazanah salaf ash-shalih sunni.

Menurut catatan yang dihimpun oleh putra KH. Mustahdi Hasbullah, KH. Roghibul Khoirot, karya-karya KH. Mustahdi Hasbullah adalah sebagai berikut:
1. Kitab Santri-santri (Nadzam Jawen Akhlaq). Kitab ini selesai ditulis pada hari Kamis, 12 Muharam 1288 H, dan diterbitkan oleh Al-Ma’had Al-Islami Tahsin Al-Akhlaq (Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak) Cirebon. Secara umum, kitab ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah, yaitu  tentang pentingnya akhlak belajar, akhlak dan adab kepada Allah, dan makhluknya serta kepada mu’allim (guru).
2. Kitab Hey Kabeh Bocah (Nadzam Jawen Akhlaq). Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1969 M, dan diterbitkan oleh Al-Ma’had Al-Islami Tahsin Al-Akhlaq (Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak) Cirebon. Secara umum karya ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang konsep pendidikan akhlak bagi anak, yaitu mengenai hakikat pendidikan akhlak bagi anak, akhlak kepada Allah dan Rasulnya, akhlak kepada kedua orang tua, akhlak kepada guru, dan akhlak dalam berteman.
3. Kitab ‘Aqoid Seket (Nadzam Jawen Ilmu Tauhid). Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1969 M, dan diterbitkan oleh Al-Ma’had Al-Islami Tahsin Al-Akhlaq (Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak) Cirebon. Secara umum karya ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang masalah-masalah aqidah (tauhid) umat Islam.
4. Kitab Mustholahul Quro’ (Nadzam Jawen). Kitab ini selesai ditulis pada hari Jum’at, 29 Maret 1968 M, dan diterbitkan oleh Al-Ma’had Al-Islami Tahsin Al-Akhlaq (Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak) Cirebon. Secara umum karya ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang ilmu tajwid. Di dalam kitab ini dibahas beberapa masalah yang berkaitan dengan ilmu tajwid, yaitu mengenai hukum wakof Jibril, wakof saktah, wakof haram, bagian-bagian wakof, hukum menambahkan alif karena wakof, tingkatan dalam membaca al-Qur’an, hukum menebalkan dan menipiskan ro, hukum wakof mu’anaqoh-muraqobah-munazal, hukum wakof balaa, hukum wakof lafadz kallaa, dan hukum wakof lafadz na’am.
5. Kitab Masalah Khilafiyah (Nadzam Jawen). Kitab ini selesai ditulis tanpa tahun dan diterbitkan oleh Al-Ma’had Al-Islami Tahsin Al-Akhlaq (Pondok Pesantren Tahsinul Akhlak) Cirebon. Secara umum karya ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang masalah-masalah furuu’iyah yang mengandung unsur khilafiyah. Di dalam kitab ini dibahas beberapa masalah khilafiyah, yaitu mengenai hukum hadis doif, hukum haul dan ziaroh kubur, hukum adzan dikuburan, talqin mayit, hukum adzan jum’at, hukum sholat tarawih, hukum qunut subuh, hukum mengucapkan “Sayyidina Muhammad SAW”.
6. Kitab Fiqih Jawen. Kitab ini masih berbentuk manuskrip dan belum diterbitkan. Secara umum kitab ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang beberapa masalah fikih.
7. Kitab Tashrif Jawen. Kitab ini masih berbentuk manuskrip dan belum diterbitkan. Secara umum kitab ini berisi pemikiran KH. Mustahdi Hasbullah tentang ilmu tata bahasa Arab.  Dari beberapa kitab yang ditulis oleh KH. Mustahdi Hasbullah sebagaimana dijelaskan di atas, semuanya masih berlaku dan digunakan sampai sekarang sebagai kurikulum pembelajaran di Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq. Aksara tulisan yang digunakan dari semua kitabnya adalah aksara Arab Pegon (Arab berbahasa Jawa) dengan bentuk karangan nadzoman (pantun/syair). Dan menggunakan alat tulis pentul dengan tinta bak.


Sumber : Dari Berbagai Sumber