Biografi KH. Musthofa Lekok

 
Biografi KH. Musthofa Lekok

Daftar Isi Profil KH. Musthofa Lekok

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Teladan
  7. Karomah

Kelahiran

KH. Musthofa lahir pada Tahun 1930 M di Desa Tambakrejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Beliau merupakan putra dari KH. Sholahuddin bin Adurrahman bin Maqbul bin Yusuf bin Yusuf Al Mulaqqob (Bujuk Song).

Ayahanda KH. Musthofa adalah sosok kiai yang dikenal istiqomah dalam beribadah sekaligus juga dermawan.

Diceritakan putra dari KH. Musthofa, yang juga bernama KH. Musthofa, bahwa Ayah KH. Musthofa memang sosok yang disiplin dan tegas. Sejak kecil, Kiai Musthofa dididik agar rajin beribadah, baik salat maupun mengaji. Bahkan, KH. Sholahuddin tak segan-segan menghukum KH. Mustofa jika kedapatan tidak mengaji.

“Pernah suatu ketika usai menghukum ayah saya, kakek (KH. Sholahuddin) bermimpi bertemu datuknya, yaitu Sayyid Yusuf bin Yusuf. Dalam mimpinya, kakek bertemu dengan Sayyid Yusuf sambil menggandeng tangan KH. Mustofa seraya memperlihatkan dada dan punggung beliau yang penuh tulisan QS.Yasin. Tapi, meskipun telah mendapat isyaroh mimpi yang merupakan tanda-tanda kelak ayah saya akan jadi seorang yang alim dan mulia, namun kakek tetap memberikan pendidikan yang disiplin dan pengawasan penuh,” cerita KH.Musthofa bin Musthofa di kediamanya, Jumat (30/6).

Wafat

Di awal tahun 1971 M, sakit yang diderita oleh KH. Musthofa semakin parah. Sampai pada satu hari menjelang wafat, beliau mengutarakan keinginannya bertemu dengan KH. Mas’ud bin Said yang akrab dipanggil Gus Ud dari Pager Wojo, Buduran, Sidoarjo.

Bergegaslah adik kandung KH. Musthofa, yaitu KH. Nur Fadhlulloh (Kiai Fadol) untuk menjemput Gus Ud. Sesampainya di kediaman Gus Ud, Kiai Fadol langsung menemuinya dikamarnya dan menyampaikan keinginan dari sang kakakanya.

Namun akhirnya KH. Musthofa berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu sore pukul 15.00 (Istiwa’), tepatnya tanggal 7 Dzulhijjah 1390 H atau 3 Februari 1971. KH. Musthofa meninggal di usia 41 tahun meninggalkan seorang istri yang saat itu hamil 6 bulan, 2 putra dan 5 putri.

Keluarga

KH. Musthofa melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Marhamah binti Abdulloh Umar, adik KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar, Pasuruan. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai dua orang putra dan lima putri.

Pendidikan

Saat memasuki usia remaja, KH. Musthofa memulai pendidikannya dengan belajar kepada KH.Thoyib bin Abdussalam di Bugul Lor Kota Pasuruan. Setelah beberapa tahun di Bugul Lor dan mendapat banyak ilmu, KH. Musthofa memutuskan untuk pindah ke Pesantren Sidogiri yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Abdul Jalil bin Fadil, ayahanda dari KH.Nawawi Abdul Jalil pengasuh sekarang.

Disamping itu, juga KH. Musthofa menimba ilmu kepada masayikh lainya, salah satunya yaitu KH. Kholil Nawawi yang termasuk tokoh pencipta lambang Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah beberapa tahun memperoleh berbagai ilmu di Pondok tersebut, akhirnya beliau diangkat menjadi Ustadz untuk mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri.

Selang beberapa tahun mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Musthofa masih ingin kembali menyempurnakan ilmunya, sehingga ia kembali mengembara untuk menimba Ilmu ke daerah Jawa Tengah, tepatnya di Pesantren Al Islah Lasem yang saat waktu itu diasuh Syekh Masduqi bin Sulaiman Al-Hajj.

Di sela-sela menimba ilmu di Pesantren Al Islah, Kiai Musthofa juga menyempatkan diri menimba ilmu kepada KH. Baidlowi bin Abdul Aziz, KH. Ma’sum bin Ahmad dan KH. Fathurroman bin Zainuddin.

Mendirikan Pesantren

Sebelum mendirikan pesantren, KH. Musthofa mendapatkan petunjuk dari Al Imam Al Habib Ja’far Bin Syaikhon Assegaf Pasuruan.

Diceritakan, bahwa Habib Ja’far pernah berkata pada KH. Sholahuddin, ”La tasyka fiiman yushbahu wa yamsi wahuwa jalasa alal kursi”.

Intinya, bahwa Habib Ja’far melihat sebuah isyaroh kedudukan yang ada pada diri KH. Musthofa. Mendapat petunjuk tersebut, akhirnya pada tahun 1970 M,  KH. Sholahuddin membangunkan sebuah rumah dan pondok pesantren untuk anaknya. Pondok tersebut letaknya di Desa Tambak, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan yang saat ini dikenal dengan Nama Pesantren Roudlotul Mustofa.

Teladan

KH. Musthofa tak mudah untuk mengembangkan pondok tersebut, banyak cobaan yang dihadapi dan tantangan yang dialami. Namun berkat kesabaran, kematangan dan kemuliaan akhlaknya semua dapat dilalui.

Pada sebuah kisah diceritakan, beliau pernah disakiti oleh orang sekitar yang hasud padanya, namun beliau tidak membalas perbuatan orang tersebut, melainkan membalas dengan kebaikan. Seringkali beliau membantu kesulitan orang yang telah menyakitinya.

Suatu hari, adik kandung beliau Nyai Huzaimah, melihat langsung beliau mengantarkan uang dan beras kepada orang yang telah menyakiti beliau. Sepulang dari rumah tersebut, adiknya memanggil beliau untuk menyampaikan ketidakrelaannya. Buat apa panjenengan berbuat baik kepada orang yang menyakiti panjenengan.

Beliau tersenyum lalu menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang selalu berbuat baik saat disakiti oleh umatnya. Saya ingin mencontoh Nabi Muhamad SAW karena saya sangat mencintainya. Setelah mendengar pejelasan beliau, adiknya menangis karena terharu oleh kemuliaan akhlak yang dimiliki beliau.

Selain itu, diceritakan juga, bahwa KH. Musthofa juga sangat peduli kepeda kaum fakir miskin. Ia sering membantu mereka, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Beliau memang selalu mengedepankan kemaslahatan umat Islam, khususnya di Lekok, dan juga mengayomi mereka (fakir miskin). Bahkan beliau pernah menolong umat Islam di Lekok yang saat itu terjebak dalam peristiwa G30S/PKI, Pada zaman itu beliau tergolong ulama muda yang tegas.

Meskipun masih muda, kemampuan beliau berdakwah sangat matang dan istiqomah dalam berdzikir, melaksanakan sholat fardhu, berjama’ah, dan sholat sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Beliau juga tergolong seorang ulama yang dijadikan rujukan seluruh umat Islam, seperti yang diisyarohkan oleh KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar. Saat itu, KH. Abdul Hamid mengumpamakan Pasuruan bagaikan Makkah dan Lekok bagaikan Madinah.

Karomah

Karomah yang pernah disaksikan langsung oleh santri Pesantren Roudlotul Musthofa, yaitu KH. Abdulloh Hakam bin Abdul Kholiq bin Hasyim Asy’ari (cucu KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU dan Pesantren Tebuireng). Pernah pada suatu malam beliau mengajak KH. Abdulloh Hakam jalan-jalan ke tepi laut sambil memberi wejangan. Di saat itu pula, beliau memperlihatkan karomahnya.

KH. Musthofa saat itu bertepuk tiga kali, tiba-tiba ikan-ikan berloncatan menuju ke tepi. Selanjutnya KH. Musthofa memberi isyarat dengan tangan menyuruh ikan-ikan tadi kembali lagi ke tengah laut. Hal ini diceritakan oleh Almarhum KH. Ishaq Latif (sahabat KH. Abdulloh Hakam sekaligus Masayikh Tebuireng).