Biografi KH. Musthofa Lekok

 
Biografi KH. Musthofa Lekok

Riwayat dan Keluarga

KH. Musthofa lahir pada Tahun 1930 M di Desa Tambakrejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Ia merupakan putra dari KH. Sholahuddin bin Adurrahman bin Maqbul bin Yusuf bin Yusuf Al Mulaqqob (Bujuk Song). Ayahanda KH. Musthofa adalah sosok kiai yang dikenal istiqomah dalam beribadah sekaligus juga dermawan.

Diceritakan putra dari KH. Musthofa yang juga bernama KH. Musthofa, bahwa Ayah KH. Musthofa memang sosok yang disiplin dan tegas. Sejak kecil, Kiai Musthofa dididik agar rajin beribadah, baik salat maupun mengaji. Bahkan, KH. Sholahuddin tak segan-segan menghukum KH. Mustofa jika kedapatan tidak mengaji.

“Pernah suatu ketika usai menghukum ayah saya, kakek (KH.Sholahuddin) bermimpi bertemu datuknya, yaitu Sayyid Yusuf bin Yusuf. Dalam mimpinya, kakek bertemu dengan Sayyid Yusuf sambil menggandeng tangan Kyai Mustofa seraya memperlihatkan dada dan punggung beliau yang penuh tulisan QS.Yasin. Tapi, meskipun telah mendapat isyaroh mimpi yang merupakan tanda-tanda kelak ayah saya akan jadi seorang yang alim dan mulia, namun kakek tetap memberikan pendidikan yang disiplin dan pengawasan penuh,” cerita KH.Musthofa bin Musthofa di kediamanya, Jumat (30/6).

Masa Pendidikan

Ia melanjutkan cerita, bahwa saat memasuki usia remaja, Kiai Musthofa dipondokkan kepada KH.Thoyib bin Abdussalam di Bugul Lor Kota Pasuruan. Setelah beberapa tahun di Bugul Lor dan mendapat banyak ilmu, Kiai Musthofa memutuskan untuk pindah ke Pesantren Sidogiri yang pada waktu itu diasuh oleh KH.Abdul Jalil bin Fadil, ayahanda dari KH.Nawawi Abdul Jalil pengasuh sekarang. Disamping itu, juga Kiai Musthofa menimba ilmu kepada masayikh lainya, salah satunya yaitu KH.Kholil Nawawi yang termasuk tokoh pencipta lambang Nahdlatul Ulama (NU).

“Setelah beberapa tahun memperoleh berbagai ilmu di Pondok tersebut, akhirnya beliau diangkat menjadi Ustadz untuk mengajar di PP.Sidogiri,” urainya.

Selang beberapa tahun mengajar di ponpes Sidogiri, ternyata Kiai Musthofa masih ingin kembali menyempurnakan ilmunya, sehingga ia kembali mengembara untuk menimba Ilmu ke daerah Jawa Tengah, tepatnya di Pesantren Al Islah Lasem yang saat waktu itu diasuh Syekh Masduqi bin Sulaiman Al-Hajj. Di sela-sela menimba ilmu di Pesantren Al Islah, Kiai Musthofa juga menyempatkan diri menimba ilmu kepada KH.Baidlowi bin Abdul Aziz, KH.Ma’sum bin Ahmad dan KH.Fathurroman bin Zainuddin. Berbagai ilmu beliau dalami dari guru-gurunya.

Pernikahan Beliau

“Setelah beberapa tahun di Lasem, beliau menemukan pandangan seorang wanita untuk dijadikan istri. Beliaupun memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Marhamah binti Abdulloh Umar, adik KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar, Pasuruan. Dan akhirnya beliau izin boyong sekaligus memohon restu kepada guru-gurunya,” cerita KH Musthofa.

“Setelah menikah beberapa tahun, beliau dikaruniai dua orang putri. Beliau kemudian membawa keluarganya meninggalkan Lasem untuk menetap di Lekok. Semula beliau tinggal satu rumah dengan kakek di desa Jatirejo kecamatan Lekok. Selama itu banyak hal yang diperbuat oleh beliau dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar”.

Merintis dan Memimpin Pesantren

“Waktu demi waktu, nama beliau semakin dikenal masyarakat sehingga banyak orang dari luar daerah yang mempercayakan putra-putranya untuk mendapatkan pendidikan di pondok pesantren yang ia asuh. Kakek pun semakin mantap setelah melihat kemampuan dan kelebihan yang dimiliki putranya. Apalagi beberapa tahun sebelumnya, banyak isyaroh dan petunjuk yang diterimanya. Salah satunya dari Al Imam Al Habib Ja’far Bin Syaikhon Assegaf Pasuruan.”

Diceritakan, bahwa Habib Ja’far pernah berkata pada Kiai Sholahuddin,”La tasyka fiiman yushbahu wa yamsi wahuwa jalasa alal kursi”.

Intinya, bahwa Habib Ja’far melihat sebuah isyaroh kedudukan yang ada pada diri Kiai Musthofa. Mendapat petunjuk tersebut, akhirnya Kiai Sholahuddin membangunkan sebuah rumah dan pondok pesantren untuk anaknya. Pondok tersebut letaknya di Desa Tambak, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan yang dikenal saat ini dikenal dengan Nama Pesantren Roudlotul Mustofa.

Kiai Musthofa tak mudah untuk mengembangkan pondok tersebut, banyak cobaan yang dihadapi dan tantangan yang dialami. Namun berkat kesabaran, kematangan dan kemuliaan akhlaqnya semua dapat dilalui.

“Semisal, pernah beliau disakiti oleh orang sekitar yang hasud padanya, namun beliau tidak membalas perbuatan orang tersebut, melainkan membalas dengan kebaikan. Seringkali beliau membantu kesulitan orang yang telah menyakitinya. Suatu hari, adik kandung beliau Nyai Huzaimah, melihat langsung beliau mengantarkan uang dan beras kepada orang yang telah menyakiti beliau. Sepulang dari rumah tersebut, adiknya memanggil beliau untuk menyampaikan ketidakrelaannya. ‘Buat apa panjenengan berbuat baik kepada orang yang menyakiti panjenengan,’” cerita KH Musthofa menirukan kata-kata dari adik Kiai Musthofa.

“Beliau tersenyum lalu menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang selalu berbuat baik saat disakiti oleh umatnya. ‘Saya ingin mencontoh NABI Muhamad SAW karena saya sangat mencintainya,’. Setelah mendengar pejelasan beliau, adiknya menangis karena terharu oleh kemuliaan akhlak yang dimiliki beliau”.

Diceritakan, bahwa Kiai Musthofa juga sangat peduli kepeda kaum fakir miskin. Ia sering membantu mereka, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Beliau memang selalu mengedepankan kemaslahatan umat Islam, khususnya di Lekok, dan juga mengayomi mereka (fakir miskin). Bahkan beliau pernah menolong umat Islam di Lekok yang saat itu terjebak dalam peristiwa G30S/PKI, Pada zaman itu beliau tergolong ulama muda yang tegas.”

“Meskipun masih muda, kemampuan beliau berdakwah sangat matang dan istiqomah dalam berdzikir, melaksanakan sholat fardhu, berjama’ah, dan sholat sunnah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau juga tergolong seorang ulama yang dijadikan rujukan seluruh umat islam, seperti yang diisyarohkan oleh Al Arif billah KH. Abdul Hamid bin Abdulloh bin Umar. Saat itu KH. Abdul Hamid mengumpamakan Pasuruan bagaikan Makkah dan Lekok bagaikan Madinah.”

Selain kuat dalam beribadah dan dermawan, diungkapkan oleh KH Musthofa, bahwa ayaknya juag memiliki banyak karomah.

Salah satunya disaksikan langsung oleh santri Pesantren Roudlotul Musthofa, yaitu KH. Abdulloh Hakam bin Abdul Kholiq bin Hasyim Asy’ari (cucu KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan Pesantren Tebuireng). Pernah pada suatu malam beliau mengajak KH Abdulloh Hakam jalan-jalan ke tepi laut sambil memberi wejangan. Di saat itu pula, beliau memperlihatkan karomahnya.

Kiai Musthofa saat itu bertepuk tiga kali, tiba-tiba ikan-ikan berloncatan menuju ke tepi. Selanjutnya Kiai Musthofa memberi isyarat dengan tangan menyuruh ikan-ikan tadi kembali lagi ke tengah laut. Hal ini diceritakan oleh Almarhum KH.Ishaq Latif (sahabat KH. Abdulloh Hakam sekaligus Masayikh Tebuireng) .

Pada tahun 1970 M, Kiai Musthofa akhirnya mendirikan madrasah di Pesantren Roudlotul Musthofa karena saat itu santrinya bertambah banyak. Kiai Musthofa juga semakin dicintai dan dikagumi oleh umat islam, sehingga banyak orang yang memohon nasihat serta doa barokahnya.

Wafat di Usia Muda

Namun, pada tahun itu pula Kiai Musthofa sering sakit. Di awal tahun 1971 M, sakitnya semakin parah. Satu hari menjelang wafat, beliau mengutarakan keinginannya bertemu dengan Al Arif billah KH. Mas’ud bin Said yang akrab dipanggil Gus Ud dari Pager Wojo, Buduran, Sidoarjo.

Bergegaslah adik kandung Kiyai Musthofa, yaitu KH.Nur Fadhlulloh (Kiai Fadol) untuk menjemput Gus Ud. Sesampainya di kediaman Gus Ud, Kiai Fadol langsung menemuinya dikamarnya. Entah apa yang menjadi perbincangan di antara mereka, hanya Alloh SWT yang tahu.

Namun akhirnya KH Musthofa berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu sore pukul 15.00 (Istiwa’), tepatnya tanggal 7 Dzulhijjah 1390 H atau 3 Februari 1971. KH Musthofa meninggal di usia 41 tahun meninggalkan seorang istri yang saat itu hamil 6 bulan, 2 putra dan 5 putri.

 

 

Sumber: bangsaonline.com