Biografi Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin

 
Biografi Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin

Daftar Isi Profil Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mengasuh Pesantren

Kelahiran

Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin atau yang akrab dipanggil Nyai Izzah lahir pada 17 oktober 1945 di lingkungan pesantren Dar al-Tauhid  Arjawinangun kabupaten Cirebon Jawa Barat. Beliau merupakan putri anak ke 5 dari 6 bersaudara, dari pasangan KH. Abdullah Syathori dan Nyai Hj. Masturoh

Saudara-saudara beliau diantaranya :

  1. Nyai Hj. Hannah
  2. Nyai Hj. Salma
  3. Nyai Hj. Aisyah
  4. Nyai Hj. Durrah
  5. Nyai Hj. Izzah Syatbori
  6. KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidillah Ustadzab

kedua orang tua adalah pemilik Pondok Pesantren Dar al-Tauhid yang berlokasi Di JI. KH. Syathori Arjawinangun Cirebon Jawa barat.

Wafat

Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin wafat pada hari Selasa 3 September 2013. Jenazah beliau dimakamkan pagi hari, Rabu 4 September 2013 pukul 09.30 di komplek Maqbarah Pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan Ciwaringin, Cirebon.

Keluarga

Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin melepas masa lajangnya dengan dinikahi oleh KH. Fuad Amin, pengasuh Pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan, Ciwaringin. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 9 orang anak, menantu dan 16 orang cucu. Putra-putri beliau diantaranya :

  1. H. Amid Fuad menikah dengan Nyai Maryam Abdullah, memiliki 3 orang anak
  2. Ny Hj Lilik menikah dengan KH. Husein Muhammad memiliki 5 orang anak
  3. Nyai Hj Afwah Mumtazah menikah dengan KH. Moh Nawawi memiliki 2 orang anak
  4. Asmaoel Chusna menikah dengan Hasan Junaedy memiliki 4 orang anak
  5. Achmad Syauqi
  6. Naela Ghina Sonya menikal1 dengan Hasan Mubaroq memiliki 2 orang anak yaitu:
  7. Yayah Maria Nabila
  8. Muhamad Mu'tashim Billah
  9. Nana Najiyah.

Pendidikan

Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin memulai pendidikannya dengan belajar di sekolah rakyat (SR), Beliau menamatkan sekolahnya pada tahun 1959. kemudian beliau melanjutkan pendidikan SMP nya, di SMP Arjawinangun Cirebon tahun 1959 sampai 1962.

Setelah selesai menamatkan SMP nya beliau melanjutkan penididikannya dengan mondok di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta selama 4 tahun dari lahun 1962 sampai tahun 1966. Di Pondok Pesantren Krapyak beliau mendalami ilmu Al-Qur'an dibawah bimbingan seorang guru besar Bemama KH. Mufid Mas’ud.

Setelah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, pada tahun 1964 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus yang diasuh oleh KH. Arwani kudus. Di Kudus beliau hanya menempuh dalam waktu satu tahun, kemudian pada tahun 1965, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Walisongo Cukir Jombang yang di asuh oleh KH. Adlan Aly.

Di Cukir pun beliau hanya bertahan satu tahun, kemudian beliau pindah lagi mondok, di Pesantren Kaliwungu Kendal yang diasuh oleh KH. Ba'dlawi dan KH. Ansor.

Mengasuh Pesantren

Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin bersama sang suami mengasuh Pondok Pesantren Bapenpori al-Istiqomah putra dan putri.

Saat mengasuh di pesantren, Nyai Izzah merupakan sosok guru yang telaten dalam mengajarkan ngaji al-Qur’an kepada para santrinya.

Metode yang biasa digunakan adalah dengan cara setoran. Jadi para santriwati akan berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di Pesantren Babakan Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas.

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Maka Pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putra-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Dan siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti diajarkan dengan senang hati.