Biografi KH. Adlan Aly

 
Biografi KH. Adlan Aly

Daftar Isi Profil KH. Adlan Aly

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Menjadi Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
  8. Menjadi Ketua JATMAN
  9. Menjadi Anggota DPRD
  10. Karomah
  11. Teladan

Kelahiran

KH. Adlan Aly lahir pada 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Kabupaten Gresik. Beliau merupakan putra dari pasangan Hj. Muchsinah dan KH. Ali.

Wafat

KH. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1411 H atau 6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik itu kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

Keluarga

KH. Adlan Aly melepas masa lajangnya dengan menikahi Ibu Nyai. Hj. Romlah. Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua putra dan dua putri, diantaranya, Nyai. Hj Mustaghfiroh, KH. Ahmad Hamdan Adlan, Nyai. Hj Sholikhah dan KH. Abdul Djabbar.

Tapi sayangnya usia pernikahan beliau tidaklah lama, Ibu Nyai. Hj. Romlah meninggal lebih awal, saat sang suami perjalanan pulang dari tanah suci Mekah pada tahun 1939 M. Nyai Romlah dimakamkan di Pulau We Sumatera.

Setelah tiba di tanah air, KH. Adlan Aly kemudian dipanggil oleh Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, yang bermaksud menjodohkan dengan keponakannya yang bernama Nyai. Hj. Halimah.

Akhirnya mereka menikah, kurang lebih selama 40 tahun menjadi istri KH. Adlan Aly, sang istri kembali meninggalkan sang suami pada tahun 1982 M. Kemudian Kiai adlan kembali menikah dengan Nyai Hj Musyafa’ah Ahmad, seorang ustadzah dari Desa Keras, Diwek, Jombang tahun 1982 M.

Pendidikan

KH. Adlan Aly kecil (umur 5 tahun), beliau memulai pendidikannya dengan belajar agama Islam kepada pamannya KH. Faqih di pondok pesantren Maskumambang, setelah berusia 14 tahun beliau melanjutkan belajar dengan menghafal al-Qur’an kepada KH. Munawar Kauman Sedayu Gresik. Empat tahun kemudian beliau mengikuti kakaknya mondok di Pesantren Tebuireng Jombang.

Berawal dari sebuah pesantren di daerah Maskumambang, Gresik. Adlan kecil mulai menempa pendidikan agama. Pesantren Maskumambang merupakan tanah kelahirannya dan disini pula Adlan memperoleh ilmu agama dibawah asuhan pamannya KH. Faqih Abdul Jabbar yang merupakan putra dari KH. Abdul Djabbar (Pendiri Pesantren Maskumambang).

Kesungguhanya dalam belajar agama membawa Adlan kecil melanjutkan rihlah Ilmiahnya kepada KH. Munawwar, Kauman, Gresik untuk menghafal al-Qur’an saat berumur 14 tahun. Merasa haus dengan samudra ilmu ia melanjutkan tabarukkan kepada KH. Muhammad Said bin Ismail di tanah Madura dan memperoleh sanad al-Qur’an yang muttasil dengan baginda Rosul. Hingga akhirnya berguru langsung kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng.

Saat menjadi santri di Tebuireng, KH. Adlan Aly menjadi kepercayaan dan santri kesayangan KH. Hasyim Asy'ari. Pasalnya beliau adalah Hafidz al-Qu’ran dan alim. Tak jarang KH. Hasyim sering meminta pendapat kepada beliau bilamana ada permasalahan seputar fiqh. Beliau sering diminta menjadi imam mengantikan KH. Hasyim saat berhalangan hadir. Khususnya saat Ramadhan, menjadi imam shalat tarawih di masjid Tebuireng.

Baca juga: Kisah KH. Adlan Aly, Ketika Baca Fathul Qorib Bab Istisqa' Selalu Turun Hujan

Sejak saat itu, KH. Adlan Aly kerap menjadi qori’ dan guru dalam kegiatan belajar mengajar di Tebuireng. Hampir setiap hari kesibukannya diisi untuk mengajar kitab dan menerima setoran hafalan Qur’an para santri. Membantu pesantren gurunya yang sangat beliau kagumi. Hingga puncaknya beliau mendirikan pondok putri Walisongo di Cukir dan masih eksis sampai sekarang.

Mendirikan Pesantren

Di masa pendudukan Jepang, sewaktu menjabat sebagai Rois Syuriyah NU di Jawa Timur, Kiai Adlan Aly bersama H. Sufri aktif mengurus kepentingan warga yang keluarganya kena wajib romusha. Bahkan beliau sempat ditangkap oleh tentara Jepang untuk dipekerjakan dalam rombongan romusha. Tapi sempat menghilang dan akhirnya kembali ke rumah dengan selamat.

Usai Proklamasi Kemerdekaan 1945, beliau bergabung ke dalam Barisan Sabilillah sebuah laskar ulama-pesantren yang dikomandani langsung oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah di tingkat nasional. Selain menggalang dana untuk perjuangan laskar-laskar santri dan ulama, Sabilillah dan Hizbullah, Kiai Adlan Aly juga ikut berperang di garis depan untuk membendung laju tentara Belanda yang bermaksud menguasai kembali daerah Jawa Timur pasca perang 10 November 1945 di Surabaya.

Usai revolusi kemerdekaan, Kiai Adlan Aly kembali ke pesantren membenahi sistem pendidikan. Fokus utama beliau adalah pendirian pondok putri, mewujudkan amanah gurunya, KH. Hasyim Asy’ari. Pada awal abad ke-20 kebanyakan yang nyantri di pondok adalah laki-laki. Meski ada perempuan yang nyantri, mereka tidak mondok.

Karena pesantren memang tidak menyediakan asrama putri. Beberapa lama kemudian, ada inovasi baru, sejumlah pesantren mulai membuka pondok putri.Pesantren Manba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, misalnya, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri (salah seorang pendiri NU), sudah memulai membuka pondok putri.

Sementara Pesantren Tebuireng sendiri belum melakukannya, meski banyak perempuan santri yang ingin mondok di pesantren. Masalah itu segera direspons oleh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau menunjuk KH. Adlan Aly, santri kesayangan beliau, untuk membuka pesantren putri di Desa Cukir.

Empat tahun setelah wafatnya sang guru di tahun 1947, Kiai Adlan Aly baru bisa merealisasikan rencana itu. Pondok putri itu diberi nama Madrasah Mu’allimat Cukir. Pondok itu juga bernilai strategis bagi masyarakat Jombang. Diketahui banyak anak-anak putri tamatan Madrasah Ibtidaiyyah tidak dapat melanjutkan belajar keluar daerah karena keterbatasan biaya.

Daerah Cukir dan sekitarnya juga belum memiliki sekolah lanjutan setingkat SMP dan SMA. Akhirnya diadakan musyawarah dan sepakat mendirikan pondok dengan nama Madrasah Mu’allimat Cukir. Bersamaan dengan kedatangan para santri putri dan pelajar putri yang ingin mondok, Kiai Adlan Aly lalu membangun asrama sederhana di belakang rumahnya.

Pondok itu kemudian berkembang. Para santri putri kian banyak. Terutama dari luar Jombang, sehingga pondok itu dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Wali Songo. Dan hingga kini pesantren itu berkembang menjadi sebuah pesantren modern, lengkap dengan berbagai fasilitas belajar-mengajar dan penunjang kehidupan kaum santri di dalam pondok. Tidak terkecuali, pelajaran ngaji kitab kuning, yang wajib untuk semua santri, tetap dilestarikan dan dikembangkan.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan, untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Aly dipercaya sebagai pemimpin sidang.

Termasuk ketika membahas masalah Tarekat Tijaniyah yang sempat bikin panas muktamar. Meski akhirnya forum perdebatan yang langsung dipimpin sendiri oleh KH. Hasyim Asy’ari itu memutuskan bahwa Tijaniyah dianggap sebagai tarekat mu’tabarah.

Sebagai insan yang mempunyai jiwa pejuang ,maka beliau berjuang demi tanah air dan demi agama. Hal ini tercermin pada jabatan yang pernah disandangnya setelah Indonesia merdeka, antara lain :

  1. Rois Syuriah NU wilayah Jawa Timur
  2. Mustasyar NU wilayah Jawa Timur
  3. A’wan Pengurus Besar NU
  4. Rois Syuriah cabang NU kabupaten Jomabang

Menjadi Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

KH. Adlan Aly adalah sosok Kiai yang menjadi mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Beliau mendapatkan Ijazah irsyad (diperbolehkan untuk menjadi mursyid atau guru dalam satu tarekat) dari guru tarekatnya, KH. Muslih Abdurrahman Mranggen, Demak.

Guru beliau, KH. Muslih Abdurrahman, memang sudah dikenal sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan banyak memberi ijazah kepada para ulama Jawa. Selain kepada KH. Muslih Abdurrahman, Kiai Adlan Aly juga memperoleh ijazah tarekat tersebut dari KH. Romly Tamim Rejoso, Jombang.

Menjadi Ketua JATMAN

Pada Muktamar NU ke-26 di Semarang tahun 1979, Kiai Adlan Aly terpilih sebagai ketua umum pertama Jam’iyyah Ahli-t-Thariqah Al-Mu’tabarahan-Nahdliyyah (JATMAN). Dan memang baru pada muktamar kali ini NU punya organisasi tarekat sendiri berskala nasional. Karena sebelumnya ada organisasi tarekat yang dipimpin oleh KH. Musta’in Romly, putra KH. Romly Tamim Rejoso.

Tapi para kiai dan ulama tarekat meninggalkan organisasi tarekat bernama Jam’iyyah Ahli-t-Thariqah al-Mu’tabarah ini. Soalnya KH. Musta’in Romly bergabung ke Golkar bersama dengan organisasi tarekatnya di tahun 1970-an.

Ketika Kiai Adlan Aly terpilih sebagai Ketua Umum JATMAN, muncul suara miring yang menyebut beliau berambisi memimpin organisasi tarekat karena bersaing dengan Kiai Musta’in yang sama-sama ulama tarekat Jombang. Namun, tuduhan itu terbukti tidak benar. Karena ternyata yang meminta pembentukan organisasi tarekat baru itu di Muktamar NU Semarang adalah KH. Muslih Abdurrahman sendiri, guru tarekat para ulama pesantren.

Sejak itu, anak-anak Pesantren Tebuireng kalau ingin gabung ke tarekat, patronnya adalah Kiai Adlan Aly. Di Tebuireng beliau juga mengajar kitab-kitab, seperti Fathul Qarib, Fathul Wahab, al-Muhadzab, Manhaj Dzawinnazhar, Jam’ul Jawami, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Munir karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dan juga kitab Shahih Bukhari–Muslim. Ketika Kiai KH. Hasyim Asy’ari memimpin Tebuireng (1955-1965), Kiai Adlan Aly bersama KH. Idris Kamali juga dipercaya memimpin pengajian kitab-kitab kelas tinggi.

Menjadi Anggota DPRD

Sukses mengembangkan pesantren dan organisasi tarekat, KH. Adlan Aly kemudian berkecimpung dalam dunia politik, meski hanya sebatas di lingkungan Kabupaten Jombang. Menjelang Pemilu 1987, Kiai Adlan Aly berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan, lalu terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Jombang, Jawa Timur, periode 1988-1993.

Karomah

Tiga Mobil Saksi Karomah KH. Adlan Aly

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandia di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly. Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli al-Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yang khariqul ‘adah(tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan. Dalam buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly”, Anang Firdaus, penulis buku tersebut, menjelaskan setidaknya tiga peristiwa yang menunjukkan karomah Mbah Delan (panggilan akrab beliau) yang berhubungan dengan kendaraan, dalam hal ini mobil. Menariknya dari ketiga mobil tersebut bukan milik Kiai Adlan, melainkan milik orang lain.

Mobil Corolla milik H. Faqih, juragan sate

Pertama, mobil milik H. Faqih, salah satu tetangga dekat beliau di Cukir yang hingga sekarang memiliki warung sate yang cukup terkenal di Jombang. Mobil Cerola merah itu pernah dipakai Kiai Adlan untuk bepergian ke Jawa Tengah dalam rangka menghadiri suatu acara. Yang bertindak sebagai sopir saat itu seorang bernama Ma’mun, putra Pak Tohir.

Selesai acara, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba di tengah jalan, mobil itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yang berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan, “Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagangdegan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yang satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata, “Ya sudah, ayo naik”. Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dengan selamat.

Mobil sedan milik KH. Yusuf Hasyim

Kedua, mobil sedan, milik KH. M. Yusuf Hasyim atau Pak Ud yang saat itu menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Kiai Adlan meminjam mobil itu untuk menghadiri acara di Jawa Tengah. Saat perjalanan pulang di daerah Mantingan, oli mesinnya habis. Sang sopir yang bernama Pak Bari melaporkan kepada Kiai Adlan terkait hal itu.

Lalu, Kiai Adlan menjawab, “Teruskan saja tidak apa-apa”. Sontak membuat Pak Bari bingung, oli habis malah diminta meneruskan perjalanan. Ternyata, walau tanpa oli, mobil tetap bisa berjalan sampai rumah.

Mobil milik Pesantren Tebuireng

Mobil ketiga yang menjadi saksi karomah Sang Wali Cukir, yaitu mobil milik Pesantren Tebuireng pada zaman itu. Saat itu Nyai Halimah, istri kedua Kiai Adlan, masih sugeng (hidup). Seorang bernama Aji pernah diminta mengantar Kiai Adlan Aly menghadiri undangan ke Bojonegoro menggunakan mobil milik Pesantren Tebuireng.

Saat musim hujan, di tengah perjalanan mobil yang dikendarai Kiai Adlan dan Aji terperosok ke lubang jalan dan mogok alias tidak bisa nyala. Kiai Adlan bertanya, “Ada apa?”. “Mobilnya tidak bisa jalan, Yai,” jawab Aji. Kiai Adlan malah menjawab, “Ya sudah kamu di atas saja, saya turun”.

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata bukan. Kiai Adlan Aly tidak mendorong mobil itu, tetapi justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

Teladan

Teladan yang dapat ditiru dan diikuti dari KH. Adlan Aly adalah sebagai seorang yang perhatian, sabar, juga rendah hati. Selain sebagai kiai yang wira’i juga sederhana. Kiai yang akrab dengan penampilan kepala bersorban, jas dan bersarung ini dikenal juga sebagai kiai yang dermawan.