12 Jun 2020 · 8.826 dibaca · Sosial Budaya
LADUNI.ID, Jakarta - Zaman dahulu, ulama sering “bertengkar”. Yang ahli Tasawwuf, menilai ulama Fiqh jauh dari Tuhan. Karena hanya mempelari “kulit” dan mencampakkan “isi”, sibuk dengan prosedur ibadah dan lupa dengan tujuannya, dan seterusnya.
Sementara ulama Fiqh, menyebut kaum sufi sesat. Karena terkesan “menyepelekan” tata-cara ibadah. Cara beribadah mereka dinilai jauh dari tuntunan agama.
Pertengkaran kedua kelompok ini, keras sekali. Kadang satu kelompok meminjam tangan kekuasaan untuk “memenangkan” pandangan mereka. Seperti Al-Hallaj, yang dihukum mati khalifah atas saran ulama ahli Fiqh karena dinilai sesat. Atau kitab Ihya’ Ulumuddin yang dibakar penguasa karena dianggap mengajarkan kesesatan.
Perbedaan atau “pertengkaran” intelektual, sebenarnya hal biasa. Akan terus terjadi dan sudah berulang kali terjadi sejak dulu kala. Perdebatan itu akan menjadi rahmat jika didasari sikap saling menghormati, seperti yang ditunjukkan oleh empat Imam Madzhab. Tapi, aka
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+