Biografi KH. Masykur

 
Biografi KH. Masykur

Riwayat dan Kelahiran

KH Masykur lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1902. Dirinya pernah menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. 

Kiai Masykur lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada 30 Desember 1902. Pada usia sembilan tahun, Masykur kecil diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Kiai Masykur lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada 30 Desember 1902. Pada usia sembilan tahun, Masykur kecil diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Sekembali dari Makkah-Madinah, ia disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH. Thahir. Kemudian, ia melanjutkan nyantri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di pesantren ini, Masykur kecil mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, ia mengaji di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo untuk mendalami ilmu fiqh.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/66399/kh-masykur-komandan-sabilillah-dari-bumi-arema
Kiai Masykur lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada 30 Desember 1902. Pada usia sembilan tahun, Masykur kecil diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Sekembali dari Makkah-Madinah, ia disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH. Thahir. Kemudian, ia melanjutkan nyantri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di pesantren ini, Masykur kecil mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, ia mengaji di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo untuk mendalami ilmu fiqh.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/66399/kh-masykur-komandan-sabilillah-dari-bumi-arema

Mengembara Menuntut Ilmu

Sekembali dari Makkah-Madinah, ia disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH. Thahir. Kemudian, ia melanjutkan nyantri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di pesantren ini, Masykur kecil mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, ia mengaji di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo untuk mendalami ilmu fiqh.

Selama 4 tahun, KH Masykur menempuh pendidikan di Pesantren Siwalan Panci, Jawa Timur. Selanjutnya dia pernah menimba ilmu di Pesantren Tebuireng selama kurang lebih 2 tahun.

Kemudian di Pesantren Kiai Kholil, Bangkalan, Madura selama 1 tahun dan pernah pula menempuh pendidikan di Madrasah Mamba'ul Ulum, Jamsaren, Solo selama 7 tahun. 

Di Jawa Barat, pria kelahiran Malang ini pernah pula menempuh pendidikan di Pesantren Ngamplang, Garut selama 2 tahun.

Menikah

Kiai Masykur menikah pada 1923, dengan cucu KH. Tahir, gurunya di pesantren Bungkuk, Malang. Di usia 16 tahun pernikahan mereka, sang istri meninggal dan belum dikaruniai keturunan. Atas saran Kiai Khalil Genteng, Kiai Masykur kemudian menikahi adik istrinya, bernama Fatimah. Sejak saat itulah, pasangan dari keluarga pesantren inilah, kemudian bersama-sama mengabdi dan berjuang untuk syiar Islam.
 

Perjalanan Karier Beliau

  1. Ketua Cabang NU, Malang (1926-1930)
  2. Anggota PB NU (1930-1945)
  3. Ketua Umum PB NU (1950-1956)
  4. Ketua Golongan Islam DPR/MPR (1957*1971)
  5. Ketua I PB NU (1957*1959)
  6. Ketua Umum Pusat Sarbumusi (1960*1969)
  7. Rois Awal PB NU (1963*1972)
  8. Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PPP/Wakil Presiden PPP (1973* 1985)
  9. Rois Tsani PB Syuriah NU (1979*1984)
  10. Mustasyar PB NU (1984*sekarang)
  11. Pendiri Peta di Jawa (1943*1945)
  12. Anggota Pengurus Latihan Kemiliteran di Cisarua (1944*1945)
  13. Pimpinan Tertinggi Hizbullah Sabilillah (1945)
  14. Anggota PP Legiun Veteran RI (1975)
  15. Ketua III Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (1976*1994)
  16. Anggota PPKI (1944)
  17. Anggota KNIP (1945*1946)
  18. Anggota Dewan Pertahanan Negara (1946*1948)
  19. Menteri Agama RI (1948*1950)
  20. Kepala Kantor Urusan Agama Pusat (1950*1953)
  21. Menteri Agama RI (1953*1955)
  22. Anggota DPR (1956*1960)
  23. Anggota DPRGR (1960*1971)
  24. Biro Politik Kotrar (1962*1966)
  25. Anggota DPA (1968)
  26. Kemudian pada tahun 1930 hingga 1945, KH Masykur menjadi anggota PB NU. Lima tahun kemudian dia dipercaya untuk menduduki posisi Ketua Umum PB NU pada periode 1950-1956.
  27. Selanjutnya, pada tahun 1963-1972, KH Masykur didapuk menjadi Rois Awal PB NU.
  28. Rois Tsani PB Syuariah NU juga pernah disandangnya pada tahun 1979-1984.
  29.  Dirinya aktif menjadi Ketua Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) dari tahun 1980 hingga akhir hidupnya.

Tutup Usia

Perjalanan panjangnya dalam berjuang untuk kemerdekaan dan pengabdiannya pada negara menjadi teladan bagi lintas generasi. Di usia senjanya, Kiai Masykur menjadi penggagas sekaligus pendiri Universitas Islam Malang (Unisma). Kiai Masykur menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Desember 1992.

 

Perjalanan panjangnya dalam berjuang untuk kemerdekaan dan pengabdiannya pada negara menjadi teladan bagi lintas generasi. Di usia senjanya, Kiai Masykur menjadi penggagas sekaligus pendiri Universitas Islam Malang (Unisma). Kiai Masykur menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Desember 1992.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/66399/kh-masykur-komandan-sabilillah-dari-bumi-arema