Biografi KH. Achyat Chalimi

 
Biografi KH. Achyat Chalimi

Daftar Isi Profil KH. Achyat Chalimi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mendirikan Laskar Hizbullah
  7. Mendirikan Yayasan
  8. Mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA)
  9. Mendirikan Sarikat Tani Islam Indonesia (STII)
  10. Mendirikan Rumah Sakit

Kelahiran

KH. Ahyat Chalimi adalah putra dari pasangan suami istri H. Abd. Halim dan Hj. Marfu’ah binti Ali. Beliau lahir pada tahun 1918 di Mojokerto.

Ayahanda KH. Ahyat Chalimi, meninggal dunia ketika usia kandungan Ibunya baru memasuki bulan ketiga. KH. Ahyat Chalimi kemudian di asuh oleh Ibundanya bersama Pakdenya yang bernama H. Thohir.

Ibunda KH. Ahyat Chalimi kemudian menyusul suaminya. Ibudanya meninggal pada tahun 1938, ketika KH. Ahyat memasuki usia 17 tahun.

Wafat

KH. Achyat Chalimi wafat pada tahun 1991. Beliau meninggalkan Pesantren, Sekolah, Yayasan Yatim Piatu, Rumah Sakit, dan lain lain. Dan yang tidak kalah penting, meninggalkan santri santri yang kelak menjadi tokoh yang berpengaruh di tengah masyarakat khususnya Mojokerto dan sekitarnya.

Keluarga

Pada tahun 1940, KH. Ahyat Chalimi melepaskan masa lajangnya dengan menikahi Badriyah, putri dari KH. Moh Hisyam pengasuh Pondok Pesantren dari desa Gayam, Kecamatan Mojowarno.

Pendidikan

Masa kecil KH. Ahyat Chalimi beserta kakak kandungnya, dijalani di Kota Mojokerto. Keduanya sekolah di Sekolah Rakyat Miji (Sekarang SD Miji I), setelah lulus, mereka melanjutkan sekolahnya ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Mereka juga sempat diajar secara langsung oleh Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari, dan putra beliau KH. Wahid Hasyim, bahkan karena usianya yang hampir sebaya, KH. Wahid Hasyim selain sebagai guru berperan pula sebagai sahabat dalam melakukan berbagai diskusi, serta dalam satu barisan perjuangan di masa Proklamasi kemerdekaan.

Selama belajar di Tebuireng, KH. Ahyat kecil dikenal sebagai santri yang disiplin. Postur tubuh dan wajahnya menyerupai keturunan Arab, gagah dan tampan. Tetapi perilakunya sangat sopan.

Ia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong teman santri yang lain. Menanak nasi dan menghi-dangkannya untuk disantap bersama teman-temannya, merupakan pekerjaan yang setiap hari dilakukan dengan sukarela.

KH. Munasir dari Pekukuhan, Mojosari, sebagai teman sekamar di Pondok Pesantren Tebuireng, pernah memberi kesaksian pada beberapa orang dari pengurus Cabang GP. Ansor di rumahnya dengan mengatakan ; “Pak Yat, sejak kecil sudah kelihatan kalau akan jadi Kiyai. Dia tidak pernah meninggalkan sholat jama’ah, tidak pernah mau menggunjingkan teman-temannya, bahkan selalu menempatkan diri sebagai pelayan dari teman-temannya. Saya termasuk orang yang paling beruntung ketika mondok di Tebuireng, karena nggak pernah ngliwet atau bahkan nyuci pakaian. Karena semua sudah dikerjakan oleh Pak Yat”.

Pada tahun 1938, KH. Achyat Chalimi “boyong” dari pesantren Tebuireng. Beliau kembali ke Mojokerto. Bersama dengan sahabat-sahabatnya, beliau mendirikan Ansor Nahdlatul Ulama (ANO) yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Pada tahun yang sama KH. Achyat Chalimi, juga diangkat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU Mojokerto, periode kepengurusan yang kedua (1938 s/d 1940).

Mendirikan Pesantren

Setelah itu KH. Achyat Chalimi mulai bertekad untuk mengabdi pada ilmu, dan mengadakan kuliah subuh, di surau kecil peninggalan leluhurnya. Kitab yang dibaca adalah kitab Kasyifat al Sajaa’, sesuai dengan saran KH. Romly, Rejoso Jombang. Pada awalnya, kuliah subuh ini hanya diikuti oleh satu orang saja, yaitu  Sdr. Ruhan Zahidi, dari Kranggan.

Lambat laun, santri kuliah subuh ini semakin hari semakin banyak peminatnya. Pada tahun 1960, KH. Achyat Chalimi mulai mendapatkan santri yang menetap di mushola kecil itu. Ada empat orang yang mulai menetap yaitu Sdr. Rubakhin dari Jatirejo, Sdr. Abd. Munif dari Porong, Sdr. Ali Tamam dari Diwek, Jombang, dan Sdr. Marwah Efendi dari Nganjuk.

Dengan bermodalkan kegiatan Kuliah Subuh dan empat orang santri inilah akhirnya KH. Achyat Chalimi bertekad untuk membangun Pondok Pesantren. Tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat Chalimi mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren. Pondok Pesantren inilah yang kemudian menjadi cikal berdirinya Pesantren Sabilul Muttaqin.

Mendirikan Laskar Hizbullah

Pada tahun 1943 KH. Achyat Chalimi bersama dengan sahabat-sahabatnya mendirikan Laskar Hizbullah Mojokerto. Dan KH. Achyat Halimi menjadi tim pembantu umum yang bertugas melakukan koordinasi antar anggota Laskar dalam berbagai palagan perang revolusi. Dikemudian hari Laskar Hizbullah Mojokerto ini menjadi laskar yang paling kuat diantara laskar-laskar lainnya.

Laskar ini terhimpun menjadi dua batalyon. Batalyon pertama dipimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua dipimpin oleh Munasir. Batalyon ini menjadi penyokong perang 10 Nopember, dan juga perang gerilya pasca perang 10 Nopember. Namun pasca bergabungnya Laskar Hizbullah dengan TRI (Tentara Republik Indonesia), KH. Achyat Chalimi lebih memilih untuk kembali berdakwah di tengah masyarakat.

Mendirikan Yayasan

Tidak berhenti disitu, KH. Achyat Chalimi juga menunjukkan kepeduliannya pada kaum dhuafa. Beliau bersama dengan P. Supaji Effendi, H. A. Marzuki dan Abd. Halim Hasyim akhirnya mendirikan Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa yang diberi nama Yayasan Al Ikhlas. Yayasan  ini berada di Jl. Brawijaya 76 Mojokerto.

Selain penguatan pada pendidikan agama non akademik, seperti pesantren, KH. Achyat Chalimi juga memprakarsai berdirinya sekolah-sekolah formal. Diawali dari rintisannya pada tahun 1952, beliau pernah mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI), dengan mengajak kader-kader muda NU yang memiliki latar belakang pendidikan umum, antara lain Busyri al Aly, Asy’ary Sibly, Abdullah Iqna’ dan lain-lainnya. SMI ini menempati gedung “Balai Muslimin” Jl. Taman Siswa 27 Mojokerto. Sayangnya SMI ini hanya bertahan 4 tahun saja, setelah itu bubar.

Setelah SMI tidak berjalan, KH. Achyat Chalimi, tidak menyerah untuk mendirikan lembaga pendidikan Formal. Ketika KH. Achyat Chalimi berhasil membeli tanah dan bangunan di Jl. Brawijaya 99, pada tanggal 4 Agustus 1961, didirikanlah “Madrasah Muallimin Muallimat Nahdlatul Ulama (MMNU).

Lembaga ini berafiliasi ke Departemen Agama, khususnya pada lembaga PGAP 4 Tahun. Karena waktu itu Pemerintah sangat membutuhkan Tenaga Guru, sehingga lembaga Pendidikan Keguruan seperti PGAP 4 Tahun, PGA 6 Tahun, SPG C2, PGSLP dan lain-lain banyak didirikan. Dalam perkembangannya MMNU ini pada tahun 1968 berubah bentuk dan fungsinya menjadi SMP Islam Brawijaya sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA)

Tahun 1967, KH. Ahyat Chalimy atas restu Bpk. RA Basyuni, Bupati Kabupaten Mojokerto kala itu, mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di desa Sooko. Lulusan SPMA ini kemudian diangkat sebagai Pegawai Penyuluh Pertanian yang berfungsi sebagai penyuluh dan inovator bidang pertanian. Sayangnya pada perkembangan selanjutnya SPMA ini dibubarkan. Karena minat masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya ke sekolah pertanian, kurang.

Pada saat yang sama, KH. Achyat Chalimi, bersama dengan tokoh-tokoh pendidikan seperti Tomo Adi dan Ustad Busyri al Aly merintis berdirinya Sekolah Teknik Menengah (STM) Raden Patah. Awalnya STM Raden Patah ini bertempat di rumah H. Madchury (Kradenan) yang terletak di Jl. Mojopahit 184 (sekarang Toko Tengah), dan menunjuk Ir. Soecipto sebagai Kepala Sekolah.

Baru satu tahun kemudian, rumah tersebut akan dibangun Toko Oleh H. Madchuri, sehingga STM di pindahkan ke Jl. Brawijaya 99, bergabung dengn SMP Islam Brawijaya dan masuk siang hari. Inipun tidak terlalu lama, hanya dua tahun bertahan karena ada persoalan gangguan pada siswi-siswi SMP Islam Brawijaya, karena saat pulang siswa SMP Islam Brawijaya, bersamaan dengan waktu masuk siswa STM Raden Patah.

Akhirnya STM Raden Patah menempati Ex gedung SMP Udayana di Gedongan atas jasa P. Suja’i. Tetapi rupanya ada sengketa tanah antara P. Suja’I dengan pemilik tanah.

Karena P. Sujai kalah dalam Pengadilan, STM Raden Patah-pun terpaksa pindah lagi ke SD Kranggan, di SD Krangganpun hanya bertahan satu tahun, pindah lagi ke SMA Gatoel ( sekarang SMA Negeri Puri). Akhirnya atas bantuan Pemda Kotamadya Mojokerto, STM Raden Patah men-dapatkan Hibah sebidang tanah di Desa Wates, dan STM Raden Patahpun mulai menetap dan berkembang di desa Wates (Lokasi Gedung STM Raden Patah sekarang).

KH. Achyat Chalimi, pada tanggal 4 Nopember 1978, juga mengembangkan lembaga pendidikan tingkat SMA Islam Brawijaya. Sekarang SMA Islam Brawijaya ini berada di Jl. Raya Surodinawan. SMA Islam Brawijaya ini, pada tahun 1990-an, menjadi bintang pilihan selain sekolah Negeri.

Mendirikan Sarikat Tani Islam Indonesia (STII)

KH. Achyat Chalimi, yang berada di tengah-tengah masyarakat merasakan penderitaan yang mendalam akibat perang yang berlarut-larut. Terutama ketahanan pangan. Sementara itu pada saat yang sama, tata niaga pengadaan bahan pokok yang dilakukan oleh pemerintah, masih belum berpihak kepada petani kecil.

Oleh karenanya KH. Achyat Chalimy bersama H. Husain Abd. Ghani, kemudian memprakarsai didirikannya Sarikat Tani Islam Indonesia (STII). Dalam menjalankan STII ini, H. Husain Abd. Gani diserahi sebagai Ketua, dan dibantu oleh kalangan pemuda dan pengusaha antara lain: H. Mahfudz Barnawi, Thoyib Rusman, H. Karomain, Abd. Hamid, H. Abdullah Sumadi, dan H. Said Bangsal.

Setelah STII terbentuk KH. Achyat Chalimi berusaha melakukan pendekatan kepada Bupati Mojokerto, untuk mendapatkan Izin melakukan pembelian Padi kepada petani secara langsung. Setelah Izin ini keluar, maka dengan memanfaatkan jaringan GP Ansor dan NU, STII melakukan pembelian padi secara langsung kepada petani, dengan modal pertama dari H. Husain Abd. Ghani serta urunan para pengusaha.

Hasilnya selain petani mendapatkan harga yang lebih tinggi dibanding harga dari tengkulak, STII juga mendapatkan premi dari pemerintah. Setelah premi ini terkumpul, selain dipergunakan untuk biaya operasional, KH. Achyat Chalimi menggunakan dana  itu untuk pembelian gedung, di Jl. Poerwotengah (Sekarang Jalan Taman Siswa). Tanah dan bangunan tersebut digunakan untuk keperluan ummat Islam, dan berstatus wakaf, serta diberi nama “Balai Muslimin.”

Pada tahun 1955, KH. Achyat CHalimi terpilih menjadi anggota Konstituante di Jakarta dari Partai NU. Tetapi tugas ini hanya dijalani sekitar dua tahun. KH. Achyat Chalimi mengajukan pengunduran diri dari anggota Konstituante, karena merasa ini bukan maqom atau bidang keahliannya.

Mendirikan Rumah Sakit

Tahun 1988, KH. Achyat Chalimi memunculkan ide untuk pendirian rumah sakit dengan  dihadapan Pengurus NU, GP. Ansor maupun Muslimat. Keinginannya ini kemudian ditindaklanjuti oleh Muslimat dengan mendirikan Klinik Kesehatan Baitun Najah yang ada di Banjaragung. Sedang GP. Ansor beserta seluruh pengurus NU, melakukan langkah langkah untuk mendirikan Rumah Sakit Islam.

GP Ansor yang dimotori oleh H. Siroji Ahmad melakukan penggalangan dana untuk membeli Rumah Makan Mbok Berek yang dijual. Dan setelah terbeli, tepat pada tanggal 12 April 1990, Rumah Sakit Islam Sakinah resmi diresmikan.  Dan mulai beroperasi dalam melakukan pelayanan kesehatan pada tanggal  2 Oktober 1990.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya